110 Perusahaan Ikut Market Sounding BKPM untuk Proyek Pengembangan Bandara Kualanamu

  • Oleh : Naomy

Kamis, 16/Sep/2021 17:29 WIB
Pengembangan Bandara Kualanamu Pengembangan Bandara Kualanamu

 

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Sebanyak 110 perusahaan ikut market sounding gelaran Kementerian Investasi/BKPM bekerjasama dengan PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Angkasa Pura Aviasi bertema “Peluang Investasi di Bandara Internasional Kualanamu” secara virtual, Kamis (16/9/2021).

Baca Juga:
Menhub Cek Kondisi Bandara Tebelian Sintang Jelang Diresmikan Presiden Besok

Mereka berasal dari perusahaan swasta dan BUMN di bidang konstruksi, konsultan, lembaga keuangan, organisasi internasional, jasa kebandarudaraan, hotel, developer/properti, kawasan, logistik/kargo, retail, iklan, baik dari dalam dan luar negeri. 

Market Sounding ini merupakan tahapan awal dalam penyiapan tiga proyek infrastruktur yang ditawarkan oleh PT Angkasa Pura Aviasi.  

Baca Juga:
Angkasa Pura II Perketat Pengawasan Pelaku Perjalanan Internasional di Bandara Soekarno-Hatta

Kegiatan ini bertujuan mendapatkan masukan (feedback) serta mencari mitra strategis dalam pengembangan bisnis proyek infrastruktur yang ditawarkan tersebut. 

PT Angkasa Pura Aviasi merupakan anak usaha PT Angkasa Pura II (Persero) dengan 99% kepemilikan saham, yang nantinya akan menjadi pengelola Bandara Kualanamu. 

Baca Juga:
Dahsyat, Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19 di Bandara Soekarno-Hatta Kembali Diakui Dunia

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Nurul Ichwan mengapresiasi PT Angkasa Pura Aviasi atas semangatnya melakukan sosialisasi peluang investasi yang dimilikinya pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini. 

"BKPM mendukung penuh pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan PT Angkasa Pura Aviasi. Bandara menjadi salah satu infrastruktur vital dalam sektor transportasi yang berdampak pada sistem konektivitas dan logistik," ujarnya. 

Pertumbuhan penumpang, pesawat, dan kargo perlu diimbangi dengan sistem dan infrastruktur bandara yang terintegrasi dengan teknologi, sarana-prasarana pendukung yang memadai dan konsep airport city, sehingga tidak hanya dapat meningkatkan pelayanan kepada pelanggan namun juga dapat mewujudkan konsep bandara masa depan sebagai infrastruktur multimoda dan multifungsi yang dapat mendorong pengembangan kawasan di sekitarnya. 

Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini, pelayanan infrastruktur bandara untuk meningkatkan iklim investasi sangat dibutuhkan padahal kondisi bisnis bandara sedang turun. 

"Oleh karenanya, pengelolaan infrastruktur transportasi udara dituntut untuk mampu berinovasi dalam pengembangan bisnis agar dapat terus memberikan pelayanan," ucap dia. 

Pada kesempatan itu, PT Angkasa Pura Aviasi menjabarkan tiga proyek infrastruktur yang di tawarkan yaitu: 

1. Airport City (luas lahan ±135 Ha) 

2. E – Commerce Center Warehouse, yang memiliki luas lahan ±2 Ha; 

3. Integrated Commercial Area- Factory Outlet and MICE (luas lahan ±20 Ha); 

“Dengan adanya ketiga proyek yang ditawarkan tersebut, kami yakin dapat mendukung pengelolaan bandara sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara maupun Indonesia," kata Nurul. 

Hal tersebut menjadi tantangan bagi PT Angkasa Pura II dan PT Angkasa Pura Aviasi untuk senantiasa meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan lebih baik lagi. 

Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan strategic partnership antara PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Angkasa Pura Aviasi dengan para pelaku usaha, yang tidak hanya meningkatkan kinerja bisnis ke depannya tetapi juga membangun partnership yang saling menguntungkan. 

President Director AP II Muhammad Awaluddin mengatakan, market sounding ini dilakukan guna mendorong ketertarikan investor untuk terlibat dalam pengembangan Bandara Kualanamu dan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. 

“Kami berharap akan ada ketertarikan dari para investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya Sumatera Utara melalui potensi bisnis di kawasan Bandara Kualanamu,” urai Awaluddin. 

Direktur PT Angkasa Pura Aviasi Haris menambahkan, dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini Industri penerbangan di seluruh dunia mengalami kesulitan, namun pihaknya terus berupaya melakukan pengembangan bisnis di Bandara Internasional Kualanamu sebagai pintu gerbang Indonesia wilayah Barat. 

“Pada saat situasi pandemi Covid-19 seluruh industri penerbangan sangat terdampak, namun hal itu tidak menjadi halangan dan pantang surut bagi kami selaku anak usaha plat merah, mencari mitra strategis dalam mengembangkan lahan Bandara Internasional Kualanamu menjadi lahan komersial terpadu," bebernya. 

Pengembangan kawasan airport city, dapat bersinergi dengan mitra-mitra potensial.

Kedepannya kapasitas terminal penumpang bandara Internasional Kualanamu akan di tingkatkan mencapai 40 juta penumpang per tahun di mana saat PPKM Level 3 ini, Bandara Internasional Kualanamu melayani penumpang sekitar 2.000-3.000 penumpang, sedangkan masa normal melayani penumpang berkisar 9 – 11 juta per tahun. 

Menurut Haris, pertumbuhan angkutan kargo cukup besar, berdasarkan data angkutan kargo di Bandara Internasional Kualanamu dalam tiga tahun terakhir yang mencapai rata rata 50.000 ton dalam setahun. 

“Indonesia memiliki demand yang besar untuk pasar e-commerce. Apalagi sebagai negara yang terdiri dari kepulauan, pasar ini bisa dikembangkan lagi, dengan adanya kolaborasi antara pemangku kepentingan maupun mitra usaha dalam bersama mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu nanti menjadi salah satu pergerakan ekonomi (economic  driver) di Kawasan barat Indonesia khususnya di wilayah Sumatera Utara," ujar Haris. (omy)