Harhubnas 2021: Penyelenggaraan Tol Laut dan Angkutan Perintis Terus Bergerak Harmonikan Indonesia

  • Oleh : Naomy

Jum'at, 17/Sep/2021 09:11 WIB
Angkutan Tol Laut Kemenhun Angkutan Tol Laut Kemenhun

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Kementerian Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan terus bergerak melakukan peningkatan pelayanan untuk masyarakat meski di tengah keterbatasan karena adanya pandemi Covid-19. Baik pada angkutan orang maupun barang.

Baca Juga:
Tol Laut Makin Kuasai Samudera Indonesia, di Usia 7 Tahun Telah Layani 32 Trayek dan Singgahi 114 Pelabuhan

Semangat tersebut sejalan dengan tema Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) tahun ini yaitu "Bergerak, Harmonikan Indonesia".

Harhubnas diperingati pada 17 September setiap tahunnya. Peringatan Harhubnas ini didasarkan pada Keputusan Menteri Perubunngan Nomor SK. 274/G/1971 pada 26 Agustus 1971.

Baca Juga:
Pentarifan Biaya Logistik Transportasi Laut Dibahas dalam FGD Ditjen Hubla

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut, Capt. Mugen Sartoto menyebutkan, Harhubnas sebagai momen pengabdian seluruh insan perhubungan untuk masyarakat Indonesia termasuk di dalamnya pelaksanaan program Tol Laut.

"Program Tol Laut terus bergerak meski di tengah pandemi yang melanda sejak tahun lalu," ujarnya.

Baca Juga:
Ditjen Hubla Sosialisasi Regulasi Perizinan Aplikasi OSS

Hal ini dia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Tol Laut dengan tema “Dukungan Penyelenggaraan Tol Laut Dalam Mewujudkan Konektivitas Logistik Untuk Pacu Ekonomi Menuju Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh” di Yogyakarta, 14 - 18 September 2021.

Program Tol laut yang dimulai sejak 2015, menurutnya telah mengharmonikan Indonesia dengan rute-rute yang dijalankan Tol Laut, terutama di wilayah Bagian Timur.

"Rute Tol Laut telah merajut konektivitas di Tanah Air," ungkapnya.

Tol Laut dinilai telah mampu memangkas jalur distribusi logistik yang semula berputar-putar dan berbelit-belit. Seperti distribusi beras yang terjadi di Merauke, Papua.

"Sejak adanya rute T-19, arus penyaluran logistik khususnya beras ke seluruh wilayah di Papua dan Papua Barat menjadi lebih efisien. Pasalnya, jalur trayek tidak lagi ke wilayah Jawa, melainkan langsung khusus hanya di Papua – Papua Barat," papar dia.

Selain itu, di wilayah lainnya seperti Maluku, Tol Laut menjadi ajang perluasan pasar komoditi unggulan daerah seperti Kopra, Cumi, Arang, perikanan dan produk lainnya.

"Mereka juga mendapat keuntungan, selain dapat mengirimkan barang, daerah mereka mendapat kiriman logistik yang biasanya harus mereka beli dari daerah yang jauh kini bisa mereka beli di daerah mereka sendiri," ucap Capt. Mugen.

Dia mengungkapkan, Tol Laut juga berhasil menjadi solusi disparitas harga di daerah perbatasan, seperti Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Nunukan merupakan pintu masuk untuk memenuhi kebutuhan pokok dan bahan bangunan bagi masyarakat di perbatasan Kalimantan Utara, Indonesia dengan Malaysia.

Di mana selama ini sebagian besar kebutuhan masyarakat di pulau-pulau yang berada di wilayah kabupaten Nunukan berasal dari Tawao, Malaysia.

"Kami akan terus meningkatkan dan mengembangkan Tol Laut agar semakin bermanfaat bagi masyarakat," imbuh Capt. Mugen.

Dia menegaskan, Ditjen Hubla selaku regulator tidak berhenti pada layanan dan operasional Tol Laut saja. Melainkan terjun langsung ke masyarakat untuk melakukan sosialiasi.

"Bahkan semua UPT penyelenggara Tol Laut selalu rutin mengadakan sosialisasi dengan menggandeng Pemda setempat," ujarnya.

Di masa pandemi ini, sosialisasi Tol Laut tetap gencar dilakukan. Selain sebagai penerima (consignee) masyarakat juga dapat berperan sebagai pengirim (Shipper).

Keberadaan Tol Laut bisa mengembangkan dan memunculkan pengusaha-pengusaha lokal yang memanfaatkan produk lokal unggulan daerahnya masing-masing untuk dijadikan komoditi yang dapat dipasarkan ke luar pulau.

Oleh karena itu, Tol Laut secara tidak langsung menciptakan banyak peluang usaha, lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas daerah yang dilayani.

"Dengan demikian, dampak dari keberadaan Tol Laut cakupannya menjadi lebih luas. Tidak hanya menghadirkan tarif distribusi yang lebih murah karena adanya suntikan subsidi, namun juga mampu membangkitkan perekonomian daerah," ujar dia.

Sebagai informasi, Tol Laut merupakan program pengangkutan logistik laut untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di nusantara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut. 

Tujuannya untuk mengurangi disparitas harga antar wilayah, antarpulau, antardaerah serta memangkas biaya logistik yang mahal.

Rute Tol Laut awalnya hanya memiliki dua trayek di tahun 2015. Seiring berjalannya waktu, trayek tersebut terus bertambah karena manfaat dari tol laut yang sudah dirasakan masyarakat secara nyata. 

Di tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi enam trayek, berlanjut pada tahun 2017, ada 13 trayek baru Tol Laut. Kemudian di 2018 bertambah lagi 18 trayek. 

Di tahun 2019, bertambah 20 trayek dan di 2020 bertambah 26 trayek. Penambahan jumlah trayek tersebut selalu diiringi dengan penambahan jumlah Pelabuhan dan kapal.

Ditjen Hubla menambah enam trayek baru sehingga keseluruhan menjadi 32 trayek pada 2021. 

"Melibatkan 106 pelabuhan, yang terdiri atas sembilan pelabuhan pangkal, dan 97 pelabuhan singgah," terang Capt. Mugen.

Angkutan Perintis

Selain Tol Laut, Ditjen Hubla juga terus mengembangkan  Angkutan Laut Perintis yang merupakan angkutan di perairan pada trayek-trayek yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk melayani daerah atau wilayah yang belum atau tidak terlayani oleh angkutan laut komersial. 

Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Tahun 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Pelayanan Publik Kapal Perintis. 

"Pelayanan angkutan laut perintis ini sangat dibutuhkan masyarakat terutama pada daerah tertinggal,terpencil,terluar dan perbatasan," ujar Capt. Mugen.

Angkutan laut perintis ini telah beroperasi puluhan tahun secara konsisten sebagai bentuk kehadiran Negara dalam membantu mobilitas penumpang dan barang, serta perekat atau penghubung pulau-pulau di Indonesia.

Penyelenggaran Angkutan Laut Perintis di Indonesia di antaranya adalah untuk menghubungkan daerah yang masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil, terluar perbatasan yang belum berkembang dengan daerah yang sudah berkembang atau maju; menghubungkan daerah yang moda transportasi lainnya belum memadai; menghubungkan daerah yang secara komersial belum menguntungkan untuk dilayani oleh pelaksana kegiatan angkutan laut, angkutan sungai dan danau, atau angkutan penyeberangan.

Adapun penyelenggaraan angkutan laut perintis ini dilaksanakan melalui mekanisme penugasan kepada PT Pelni (Persero) dan mekanisme pelelangan kepada Operator Perusahaan Pelayaran Swasta. 

"Terhadap kedua mekanisme, diharapkan dapat melaksanakan kegiatan angkutan laut perintis secara efektif, efisien dan akuntabel," pungkas Capt. Mugen. (omy)