2 Kilang Pertamina Siap Produksi BBM Berbasis Sawit!

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 07/Okt/2021 05:00 WIB
Pertamina Uji Coba Green Diesel di Kilang Cilacap. Foto: ist. Pertamina Uji Coba Green Diesel di Kilang Cilacap. Foto: ist.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pemerintah terus mendorong pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel, mulai dari biodiesel hingga bioavtur. PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan dua kilangnya untuk mendukung produksi biofuel ini.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa persero menyiapkan dua kilang untuk produksi biofuel, yakni Kilang Dumai, Riau dan Kilang Cilacap, Jawa Tengah.

Baca Juga:
Ajak Masyarakat Gunakan BBM Oktan Tinggi, Wakil Wali Kota Sukabumi Dukung BBM Ramah Lingkungan

"Kita harus siapkan kilang-kilang Pertamina untuk siap produksi bioavtur sesuai regulasi dan standar internasional. Kita akan siapkan dua kilang, yang siap Dumai dan Cilacap," ungkapnya dalam konferensi pers "Seremoni Keberhasilan Uji Terbang Pesawat CN235-220 FTB Menggunakan Campuran Bahan Bakar Bioavtur 2,4% (J2.4)", Rabu (06/10/2021).

Saat ini Pertamina telah berhasil memproduksi bioavtur 2,4% atau yang biasa dinamakan Jet Avtur 2,4 (J2.4). Setelah produksi bioavtur 2,4%, Nicke menyebut Pertamina akan segera memproduksi bioavtur 5% atau J5.

Baca Juga:
Pipa Pertamina Bocor Semburkan Minyak ke Sawah, Tanaman Padi Terancam Mati

Bioavtur ini merupakan produksi avtur dari minyak inti sawit refined bleached degummed palm kernel oil (RBDPKO) dengan menggunakan katalis "merah putih" buatan ITB dicampur dengan kerosene (co-processing) di Kilang Cilacap Pertamina. Khusus J2.4 artinya campuran RBDPKO di kilang co-processing ini mencapai 2,4%.

"Pertamina sudah menjalankan program B30 mulainya dari 2,5% dan hari ini semua mandatori B30, secara teknis kilang sudah bisa B100. Produk kedua yakni avtur mulai 2,5%, setelah turn around Kilang Cilacap, bisa tingkatkan jadi 5% dalam waktu dekat bisa diproduksi J5," paparnya.

Baca Juga:
Ceceran Minyak Pertamina Matikan Tanaman Padi di Desa Sukagumiwang Indramayu

Nicke mengakui bahwa pengembangan bioavtur ini cukup terlambat, sehingga diharapkan peningkatan akan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Dengan demikian, ini akan mengurangi ketergantungan impor.

"Kurangi ketergantungan pada impor, meski solar dan avtur gak impor sejak Mei 2019, kan dengan kurangi bisa produksi yang lain," lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan dengan program J2,4, maka dalam setahun kira-kira volume bioavtur yang butuh diproduksi mencapai sebesar 120 ribu kilo liter (kl) per tahun dengan asumsi konsumsi avtur per tahun sekitar 5 juta kl.

Dadan menjelaskan, BBN jenis biodiesel dulu pemanfaatannya juga dilakukan secara bertahap, mulai dari biodiesel 2,5% sampai dengan biodiesel 30% yang saat ini berjalan. Pengalaman yang ada akan diimplementasikan ulang untuk bioavtur.

"Biodiesel kita ada pengalaman, yang akan kita lakukan ulang untuk ini (bioavtur). Mulai dari uji engine, setelah itu dengan Pertamina dan industri sawit dari sisi hulu untuk bahan baku akan dipastikan dari sisi produksi. Misal 2,4% kali 5 juta kl, untuk bioavtur berarti 120 ribu kl kira-kira perlunya setahun," ungkapnya. (dn/sumber: cnbcindonesia.com)