Pengemudi Bus TIA saat Merantau di Papua: Kena Palak, Kena Pukul Selama jadi Sopir Truk

  • Oleh : Bondan

Selasa, 12/Okt/2021 20:53 WIB
Bus TIA trayek Bekasi-Pendopo-Pagar Alam di Terminal Bekasi, Selasa (12/10/2021). Foto: BeritaTrans.com. Bus TIA trayek Bekasi-Pendopo-Pagar Alam di Terminal Bekasi, Selasa (12/10/2021). Foto: BeritaTrans.com.

BEKASI (BeritaTrans.com) - Perpal (menginap) berhari-hari sudah hal yang biasa bagi pengemudi bus AntarKota lintas Sumatera dalam kesehariaannya.

Seperti Ari, pria asal Pendopo, Penukal Abab Ilir (Pali), Sumatera Selatan, yang berprofesi sebagai pengemudi bus AntarKota lintas Sumatera dari perusahaan otobus (PO) Telaga Indah Armada (TIA) setiap harinya merasakan perpal berhari-hari di Terminal.

Baca Juga:
Libur Akhir Pekan, Bus AntarKota Siaga Jaring Calon Penumpang di Terminal Bekasi

Eitss, bukan itu yang akan BeritaTrans.com ulas mengenai kesehariannya sebagai pengemudi bus AntarKota. Melainkan, bagaimana dirinya bisa terjun menjadi pengemudi bus AntarKota hingga sekarang.

Hal yang menarik dari Ari, pengemudi bus TIA tersebut, dari usia belasan tahun telah menjadi seorang pengemudi di kota tempat tinggalnya.

Baca Juga:
Mantap! Bus Putri Candi Dilengkapi GPS

"Dari umur 16 saya sudah bawa bus, tapi bus ukuran medium. Itu juga gara-gara orang tua merantau ke Jambi, mau nggak mau saya nggak ngelanjutin sekolah. Waktu itu pas masih SMP. Dulu masih bawa bus trayek Jambi-Bengkulu," kata Ari kepada BeritaTrans.com di Terminal Bekasi.

Ari (32) pengemudi bus TIA tujuan Bekasi-Pendopo-Pagar Alam di Terminal Bekasi. Foto: BeritaTrans.com.

Baca Juga:
Biar Kurang Istirahat, Kru Putri Candi Ini Tetap Semangat Perbaiki Bus

Lanjutnya, disaat dirinya tengah memperbaiki bumper bus, dirinya mulai beranjak dewasa dan mulai banyak teman. Salah satu dari temannya yang berprofesi sebagai pengemudi truk tangki air yang bekerja di wilayah Papua mengajaknya merantau dan ikut bekerja bersama temannya.

"Ada kawan satu kampung yang kerja di Papua bawa truk tangki air. Pas lagi pulang ke pendopo, lagi nongkrong-nongkrong bareng. Dia ngajakin merantau kesana jadi sopir truk tangki. Ya lanjutlah saya nyari peruntungan disana. Waktu itu kira-kira umur saya 21 tahun," lanjutnya.

Setelah meminta izin kepada kedua orang tuanya, dirinya pun mengiyakan ajakan teman satu kampungnya merantau ke Papua. Namun, selama menjadi pengemudi truk tangki air disana, tak selalu berjalan mulus. Ada saja halang rintang yang ia hadapi.

"Selama jadi sopir truk tangki air di Papua, ada aja masalahnya kalau lagi dijalan. Ada saja kadang-kadang maksa minta uang ke kita kalau lagi lewat. Rata-rata orang sana lagi mabok terus minta-minta uang ke sopir. Kalau nggak dikasih ada saja kita diapain, kadang dipukul, kadang mobil dilemparin, ada ajalah. Cuma nggak pernah sampe dikeluarin senjata tajam," ucapnya.

Ayah dua anak ini juga menjelaskan selama dua tahun dirinya merantau di tanah Papua, dari segi penghasilan lebih dari cukup dari layaknya orang yang bekerja di kota.

"Penghasilan disana sebenarnya enak, gaji gede, cuma biaya hidup juga mahal. Gaji saya sebulan kotor bisa Rp 9-10 juta/bulan. Bersih-bersihnya kirim ke kampung bisa Rp 3-4 juta. Sisanya buat biaya hidup di Papua. Kaya makan nasi telor atau nasi uduk, kalau disini paling mahal Rp 5-6 ribu. Kalau di Papua bisa Rp 25 ribu padahal cuma gitu doang makannya," ujar Ari.

Dirinya, bekerja selama dua tahun di Papua sebagai pengemudi truk tangki air. Akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut. Dikarenakan adanya kabar duka dari keluarga di kampung halamannya.

"Saya ngundurin diri jadi sopir truk, gara-gara nenek saya meninggal dan disuruh balik sama orang tua. Mau nggak mau ya saya pulang, orang tua yang nyuruh. Kalau nggak saya lanjut terus mungkin kerja di Papua. Karena sudah dua tahun jauh dari keluarga, akhirnya saya milih berhenti saja. Balik lagi saya bawa bus, tapi bus AntarKota TIA ini sampai sekarang. Alhamdulillahnya juga selama dua tahun kerja disana, ngumpul-ngumpulin uang bisa nikahin pacar saya, yang sekarang jadi istri sah saya dan selebihnya bisa buat beliin sesuatu buat orang tua," tutup Ari. (Dan)