Paling Aman! Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bisa Prediksi Gempa dan Tangkal Petir

  • Oleh : Fahmi

Sabtu, 20/Nov/2021 08:11 WIB
Desain Kereta Cepat Jakarta-Bandung.(Dok. PT KCIC) Desain Kereta Cepat Jakarta-Bandung.(Dok. PT KCIC)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Presiden Direktur (Presdir) PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi buka-bukaan mengenai tingkat keamanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). 

Dia meyakini Kereta Cepat Jakarta-Bandung memiliki tingkat keamanan yang tinggi, terutama dari ancaman angin kencang, hujan deras, gempa bumi, obyek asing, sampai sambaran petir di lintasan. 

Baca Juga:
Tuding Perjalanan Anies Baswedan Buang Waktu, Padahal Buat Masa Depan Transportasi Jakarta

“Keamanan tentu menjadi perhatian khusus, apalagi KCJB ini nanti saat beroperasi akan melaju sampai 350 Km per jam,” ujar Dwiyana Slamet Riyadi dalam keterangannya, dikutip pada Sabtu (20/11/2021). 

“Untuk itu Kami sudah siapkan teknologi canggih yang terpasang di lintasan dan di dalam rangkaian kereta yang dapat mencegah terjadinya bahaya,” sambungnya. 

Baca Juga:
KAI Commuter Mohon Maaf Perjalanan KRL Bojong Gede-Citayam Terhambat

Terkait ancaman gempa, Dwiyana mengatakan bahwa di sepanjang trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung, akan terpasang 7 sensor yang dipasang di jarak rata-rata tiap 25 Km. 

Cara kerja dari sistem ini adalah, setiap sensor akan mengirim data jika mendeteksi getaran ke Disaster Monitoring Center untuk dianalisa dan ditarik kesimpulan untuk dilakukan upaya pencegahan kecelakaan. 

Baca Juga:
Ada Perbaikan Rel, KRL Terhambat di Bojong Gede-Citayam

Adapun sinyal kegempaan yang pertama kali akan ditangkap dan dikirim oleh alat sensor tersebut berupa gelombang P yang merupakan tanda awal terjadinya gempa. 

Informasi itu lalu akan sampai ke Disaster Monitoring System sebelum terjadinya Gelombang S yang merupakan getaran perusak dari gempa bumi. 

Dari sinyal gelombang P yang terdeteksi tersebut, Dwiyana pun menjelaskan kalau pihaknya dapat segera melakukan mitigasi ancaman dengan mengirimkan peringatan dan instruksi ke setiap rangkaian kereta yang sedang beroperasi. 

Lebih lanjut, pihaknya juga akan bekerja sama dengan BMKG untuk perlindungan Kereta Cepat Jakarta-Bandung dari ancaman gempa. 

Dengan rencana kerja sama ini, Disaster Monitoring Center Kereta Cepat Jakarta-Bandung bisa mendapatkan data terkait ancaman gempa lebih awal dikarenakan BMKG sudah memiliki banyak alat sensorik yang terpasang di dekat epicentrum gempa. 

“KCJB ini proyek kolaborasi, termasuk untuk perlindungan gempa yang bekerja sama dengan BMKG. Mereka sudah memiliki alat sensor yang terpasang di dekat pusat gempa jadi kita bisa dapat early information kalau ada ancaman gempa untuk segera dilakukan mitigasi,” jelas Dwiyana. 

Sedangkan untuk pencegahan bahaya dari ancaman angin kencang, Dwiyana memaparkan kalau di setiap trase KCJB, sudah terpasang 17 unit alat sensor yang mampu mengukur arah dan kecepatan angin. 

“Untuk proteksi dari ancaman angin kencang, 17 unit sensor yang bisa mengukur arah dan kecepatan angin sudah dipasang. Kalau terdeteksi akan ada hembusan angin yang membahayakan perjalanan KCJB, Kami bisa segera lakukan tindakan mitigasi,” paparnya. 

Untuk mendeteksi ancaman dari hujan, Dwiyana mengatakan kalau disepanjang trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan terpasang 8 sensor yang masing-masing berjarak sekitar 20 Km. Alat sensor tersebut akan mengirim data terkait intensitas hujan 10 menit sampai 24 jam. 

Lalu jika curah hujan yang terdeteksi berpotensi menimbulkan ancaman, maka tindakan mitigasi pun dapat segera dilakukan. 

Mengingat, setiap lintasan kereta memiliki ancaman dari benda asing, Dwiyana mengungkapkan nantinya akan dipasang 6 alat sensorik di setiap overpass yang dilewati KCJB. 

Sistem perlindungan obyek asing ini juga akan dilengkapi jaring untuk menghindari adanya benda yang jatuh ke lintasan kKereta Cepat Jakarta-Bandung dari atas jembatan. 

Dwiyana juga meyakini, konstruksi Kereta Cepat Jakarta-Bandung juga sudah dirancang agar aman dari ancaman petir. Saat ini ada dua jenis Lightning Protection System (LPS) yang dipasang di trase KCJB, yaitu eksternal dan internal. 

Adapun metode yang diterapkan pada eksternal LPS adalah pemasangan air terminal yang berfungsi untuk menangkap petir dan down conductor grounding system yang mampu mengalirkan arus listrik dari sambaran petir dari atas konstruksi ke tanah dengan baik. 

Grounding system yang dibangun seperti ini yang tidak ditemukan di perkeretaapian lainnya. Sedangkan untuk internal LPS, ia menyebut konstruksi KCJB sudah dilengkapi shielding untuk kebutuhan induksi listrik, arrester untuk konduksi, dan bonding untuk elevasi tegangan.(fh/sumber:kompas)