Menteri Lingkungan Israel: Kesepakatan Minyak UEA Diblokir

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 30/Des/2021 20:39 WIB
Foto:Ilustrasi Foto:Ilustrasi

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Menteri Lingkungan Israel Tamar Zandberg, Kamis (30/12/2021), mengatakan kesepakatan minyak diam-diam yang akan mengubah kawasan perairan yang dianggap “surga” para penyelam menjadi daerah lintasan minyak Uni Emirat Arab (UEA) menuju pasar Barat, telah secara efektif diblokir. 

Ia mengatakan kepada Radio Militer Israel bahwa kantornya memiliki kewenangan untuk membatasi kegiatan perusahaan milik pemerintah Israel yang menandatangani kesepakatan perjanjian yang tidak dapat direalisasikan. 

Baca Juga:
Pencemaran Lingkungan Berbahaya, Empat Gubernur di Jawa Disomasi atas Polusi Mikroplastik di Sungai

“Kesepakatan itu ada di atas kertas tetapi tidak ada cara untuk mewujudkannya,” katanya. 

“Mereka tidak boleh menghadirkan lebih banyak kapal tanker dari yang diizinkan saat ini. Artinya, kesepakatan itu tidak bisa diwujudkan," kata Zandberg. 

Baca Juga:
Dampak Buruk UU Minerba dan UU Cipta Kerja Terhadap Lingkungan Kian Terasa

Kesepakatan rahasia itu akan secara signifikan meningkatkan jumlah kapal tanker minyak yang berlabuh dan melakukan kegiatan bongkar muat di kota resor Israel, Eilat.

Kesepakatan itu tercapai tahun lalu antara Europe-Asia Pipeline Company (EAPC), perusahaan milik pemerintah Israel, dan MED-RED Land Bridge, perusahaan patungan Israel-UEA, menyusul perjanjian bersejarah untuk membangun hubungan diplomatik resmi antara Israel dan UEA. 

Baca Juga:
Ajak Masyarakat Gunakan BBM Oktan Tinggi, Wakil Wali Kota Sukabumi Dukung BBM Ramah Lingkungan

Para pejabat senior dalam pemerintahan mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan mereka tidak menahu tentang kesepakatan itu sampai diumumkan tahun lalu setelah kesepakatan tersebut ditandatangani di Gedung Putih. 

Meski pada awalnya memuji sebagai langkah yang dapat memperkuat hubungan diplomatik yang masih baru dan menegaskan ambisi energi Israel lebih lanjut, pemerintah baru Israel yang dilantik tahun ini memerintahkan peninjauan kembali. Langkah ini diambil menyusul protes dari kelompok-kelompok lingkungan, yang memperingatkan peningkatan lalu lintas kapal tanker minyak akan mengancam terumbu karang Teluk Eilat. Keputusan itu membuat marah para investor dan memicu pertengkaran diplomatik dengan sekutu-sekutu Israel di Teluk. 

Selama peninjauan, Kementerian Perlindungan Lingkungan Israel membekukan rencana perluasan operasi perusahaan, membatasi jumlah kapal tanker yang diizinkan masuk ke Teluk Eilat dan secara efektif memblokir kesepakatan itu. 

Kelompok-kelompok lingkungan Israel telah meminta Mahkamah Agung negara itu untuk membatalkan kesepakatan itu. Mereka menyebut catatan keamanan perusahaan yang meragukan, dan risiko yang ditimbulkan oleh parkir kapal-kapal tanker di sekitar ekosistem karang Eilat yang rapuh, sebagai alasan mereka. 

Kelompok-kelompok itu mencabut gugatan mereka awal bulan ini menyusul keputusan Kementerian Kehakiman yang berpihak pada Kementerian Perlindungan Lingkungan. 

EAPC, yang didirikan pada 1960-an, menyuplai minyak Iran ke Israel ketika kedua negara tersebut memiliki hubungan persahabatan. Operasi perusahaan itu sering diselimuti kerahasiaan, seolah-olah untuk alasan keamanan. (fh/sumber:VOA)