Harga Tiket KA Cepat Sekitar Rp 350.000, Turun di Padalarang, Bukan Bandung

  • Oleh : Fahmi

Selasa, 08/Feb/2022 22:07 WIB
Kereta Cepat Jakarta-Bandung siap diuji coba pada November 2022.(PT KCIC). Kereta Cepat Jakarta-Bandung siap diuji coba pada November 2022.(PT KCIC).

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung masih terus dikebut. Sampai sejauh ini pembangunan fisik transportasi modern ini sudah mencapai 80 persen. 

Rencananya, di akhir Desember 2022 bakal dilakukan uji coba. Tarif yang harus dibayar masyarakat untuk bisa menikmati layanan kereta cepat juga sudah mulai dipatok. 

Baca Juga:
Siap Beroperasi, Harga Tiket Kereta Api Maros-Barru Rp 10 Ribu

Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan, perkiraan harga tiket Kereta Cepat Jakarta Bandung ini berkisar Rp 150.000-Rp 350.000 per orang. 

"Nantinya akan ada tiga kelas, sedangkan untuk tarifnya itu berkisar Rp 150.000-Rp 350.000," ungkap Dwiyana dalam keterangannya, Selasa (8/2/2022). 

Baca Juga:
Nasib Proyek Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Usai Biaya Membengkak Lagi

Ia mengatakan, dengan besaran tarif tersebut diperkirakan KCIC dapat mencapai break even point (BEP) atau balik modal setelah 40 tahun. Meski demikian, perusahaan saat ini masih terus berupaya untuk mencari potensi pendapatan lainnya sehingga bisa menekan potensi BEP di bawah 40 tahun. 

"Saat ini perhitungan review FS (feasibility study) masih belum final, kemarin sempat diangka 40 tahun. Namun masih kami coba evaluasi agar kira-kira adakah potensi-potensi revenue stream lagi atau potensi strategi bisnis lainnya yang bisa membuat BEP lebih kecil dari 40 tahun," papar Dwiyana. 

Baca Juga:
Ridwan Kamil Tanggapi Proses Pembuatan Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Kereta cepat ini memiliki jalur sepanjang 142,3 kilometer. Terbentang dari Stasiun Halim Jakarta Timur hingga Stasiun Tegalluar di Bandung bagian timur. 

KCJB bakal dilengkapi dengan empat stasiun pendukung dan 1 depo. Mulai dari Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang, serta Stasiun Tegallluar yang sekaligus menjadi depo. 

Dwiyana mengungkapkan, Stasiun Padalarang nantinya bakal menjadi stasiun Hub yang menghubungkan layanan kereta cepat dengan kereta api. Stasiun ini akan melayani penumpang dari Bandung bagian barat dan Bandung kota. Sementara Bandung bagian timur dilayani dari Stasiun Tegalluar. 

Dikritik sebagai proyek 'nanggung' 

Sebelumnya, Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung menuai banyak kritik karena dianggap 'naggung'. Salah satu yang jadi kontroversi, adalah letak stasiunnya yang berada jauh di pinggiran kota. 

Di Bandung contohnya, letak stasiunnya berada di Padalarang yang masuk Kabupaten Bandung Barat. Daerah yang terkenal dengan tambang batu kapurnya ini berjarak lebih dari 20 kilometer ke pusat Kota Bandung. 

Padahal, Kota Bandung merupakan kantong paling besar calon penumpang. Stasiun kedua yang relatif paling dekat dengan Kota Bandung adalah Stasiun Tegalluar yang berada di Kabupaten Bandung. 

Baik Padalarang maupun Tegalluar, merupakan wilayah pinggiran atau daerah penyangga Kota Bandung. Untuk menuju pusat Kota Bandung dari kedua wilayah tersebut, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 30-40 menit, itu pun jika jalanan tanpa macet. 

Dwiyana Slamet Riyadi membeberkan alasan mengapa pihaknya tidak membangun stasiun hingga Kota Bandung yang merupakan kantong calon penumpang terbesar. 

Ia bilang, untuk membangun stasiun hingga ke kota, membutuhkan biaya investasi sangat besar. Sehingga bisa berdampak pada pembengkakan biaya proyek konstruksi, terutama pada aspek pembebasan lahan. 

"Karena terkait dengan biaya pengadaan lahannya. Kalau trasenya melewati Kota Bandung kan pasti sangat mahal. Jadi trase KCJB tidak sampai kota, melainkan sampai Padalarang di Kabupaten Bandung Barat dan Tegalluar di Kabupaten Bandung," kata Dwiyana. 

Di Jakarta pun setali tiga uang. Lokasi stasiunnya berada di Halim yang berada di pinggiran kota atau berada di kawasan perbatasan Bekasi dan Ibu Kota. 

Dwiyana menyebut, bagi penumpang yang hendak menuju Kota Bandung sebagai tujuan akhirnya, harus beralih mengguna moda transportasi lainnya. 

Ia mencontohkan, penumpang kereta cepat bisa turun di Stasiun Padalarang, untuk kemudian berjalan kaki ke stasiun kereta api untuk berganti transportasi menggunakan kereta pengumpan atau feeder. 

Pihak PT KCIC dan PT KAI akan menyediakan kereta diesel atau KRD sebagai angkutan pengumpan yang disediakan untuk penumpang kereta cepat yang menuju Kota Cimahi dan Kota Bandung. 

"Jadi kan kalau orang mau ke Bandung ya bisa berhenti di Padalarang. Nanti akan ada kereta api cepat yang berada di samping (kereta) yang lama. Nanti itu ada pelayanan konektivitas dari KAI akan membuat kereta api feeder dari stasiun Bandung Kota, Cimahi dan Padalarang," kata Dwiyana.(fh/sumber:kompas)