Rusia Serang Ukraina: Bunyi Ledakan dan Sirene Kembali Terdengar, Belarus Dilaporkan akan Kirim Tentara

  • Oleh : Redaksi

Senin, 28/Feb/2022 16:53 WIB
Foto: bbcindonesia.com. Foto: bbcindonesia.com.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Bunyi ledakan dan sirene kembali terdengar di ibu kota Ukraina dan kota-kota lainnya pada Minggu (27/02) hingga menjelang Senin (28/02) pagi waktu setempat.

Banyak warga Ukraina tetap memilih berlindung di ruang bawah tanah saat invasi Rusia sudah memasuki hari kelima.

Baca Juga:
Menhan Prabowo Beberkan 4 Pelajaran Penting dari Perang Rusia-Ukraina

Otoritas Ukraina mengklaim tentaranya berhasil menangkis beberapa serangan pasukan Rusia yang mencoba menyerbu pinggiran ibu kota. 

"Kami menunjukkan bahwa kami dapat melindungi rumah kami dari tamu tak diundang," kata Komandan Angkatan Bersenjata, Kolonel Jenderal Alexander Syrsky, dalam pernyataan yang dirilis sekitar satu jam yang lalu.

Baca Juga:
Rusia Tuduh Pasukannya Diracuni Botulinum Oleh Ukraina

Sementara itu rekaman video yang diunggah Minggu malam memperlihatkan adanya kebakaran di sebuah bangunan perumahan di Chernihiv.

Sejumlah laporan menyebut kebakaran itu terjadi setelah hantaman rudal Rusia.

Baca Juga:
Sejarah Moskva, Kapal Perang yang Kini Karam `Terhantam Rudal`:Simbol Dominasi Rusia di Laut Hitam dan Duri Bagi Ukraina

Ledakan juga dilaporkan terjadi di Kharkiv di kawasan timur, setelah kedua pasukan terlibat pertempuran sengir pada hari Minggu.

Berikut grafik kota-kota besar di Ukraina yang melaporkan adanya ledakan sejauh ini:

Belarus akan kirim pasukan untuk bantu Rusia? 

Ada laporan bahwa Belarus - yang telah bertindak sebagai batu loncatan bagi pasukan Rusia - saat ini bersiap mengirim tentaranya sendiri ke Ukraina untuk membantu invasi Rusia.

The Washington Post, mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Belarus tengah mempersiapkan pengerahan pasukan yang dapat dimulai pada Senin (28/02).

BBC telah mengirim email ke Gedung Putih dan Pentagon untuk konfirmasi.

Sementara itu, situs berita Kyiv Independent telah mengutip beberapa sumber yang mengatakan pasukan terjun payung Belarus kemungkinan dikerahkan.

Belarus, sekutu lama Rusia, berbatasan langsung dengan Ukraina di utara. 

Pada hari Minggu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa Presiden Belarus Alexander Lukashenko telah berjanji kepadanya - dalam panggilan telepon - bahwa pasukan Belarusia tidak akan dikirim ke Ukraina.

Uni Eropa akan kirim senjata ke Ukraina 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Uni Eropa akan "mendanai pembelian dan pengantaran persenjataan serta peralatan lain ke sebuah negara yang sedang diserang". Sikap tersebut dikemukakan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, guna menyikapi invasi Rusia ke Ukraina. 

Selain mengirim persenjataan, Uni Eropa memberlakukan tiga sanksi baru yang mencakup pelarangan pesawat-pesawat Rusia di wilayah udara Uni Eropa, pelarangan "mesin media Kremlin", serta pelebaran sanksi ke Belarus.

Sejauh ini, Ukraina masih dibombardir oleh rudal-rudal Rusia. Bahkan, penasihat menteri dalam negeri Ukraina melaporkan sejumlah rudal dilesatkan dari Belarus hingga menghantam bandara di Kota Zhytomyr, bagian utara Ukraina.

Setelah empat hari melancarkan invasi, Rusia kini mengaku ada sejumlah tentara mereka yang tewas dalam pertempuran. Namun, Rusia menolak menyebutkan jumlahnya.

Ketika invasi Rusia ke Ukraina terus berlanjut pada Minggu (27/02) dini hari Minggu, negara-negara Barat menjanjikan bantuan untuk memperkuat sistem pertahanan Ukraina.

Swedia, misalnya, akan mengirim 5.000 unit senjata anti-tank, 5.000 pelindung tubuh, 5.000 helm, dan 135.000 paket ransum.

Pengiriman senjata ke negara yang sedang berkonflik, menurut Perdana Menteri Magdalena Andersson, adalah yang pertama kalinya dilakukan Swedia sejak invasi Uni Soviet ke Finlandia pada 1939.

Jerman juga mengumumkan akan mengirim 1.000 senjata antitank dan 500 rudal Stinger ke Ukraina.

Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Damien McGuinness, langkah tersebut bisa dibilang sebagai perubahan terbesar dalam kebijakan luar negeri Jerman sejak Perang Dunia II. Sebelum invasi Rusia ke Ukraina, langkah militer seperti itu tidak pernah terpikirkan oleh Jerman.

Dalam perkembangan lain:

  • Departemen Luar Negeri AS mengatakan akan mengirim sistem persenjataan senilai $350juta - termasuk rudal anti-tank Javelin, sistem anti-pesawat dan perangkat perlindungan tubuh.
  • Sementara, Belanda mengumumkan akan memasok 50 senjata anti-tank Panzerfaust-3 dan 400 roket.

Putin perintahkan pasukan nuklir strategis siaga

Presiden Vladimir Putin telah memerintahkan para komandan militer agar pasukan nuklir strategis Rusia bersiap siaga. 

Perintah yang dikeluarkan Putin adalah agar pasukan ini dalam keadaan "siaga khusus".

Dalam pertemuan dengan para pejabat militer senior di Kremlin, Putin mengatakan "negara-negara Barat telah mengambil tindakan-tindakan yang tidak bersahabat terhadap Rusia, termasuk dengan menerapkan sejumlah sanksi ekonomi ilegal".

Putin mengatakan pasukan nuklir diminta dalam status siaga tertinggi karena "para pejabat tinggi NATO membiarkan pernyataan-pernyataan yang agresif terhadap Rusia".

Duta besar Amerika Serikat untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, mengatakan perintah Putin menunjukkan Putin "meningkatkan eskalasi melalui tindakan-tindakan yang tidak bisa diterima".

Wartawan keamanan BBC, Gordon Corera, mengatakan perintah Putin tersebut banyak diterjemahkan sebagai "sinyal ancaman penggunaan senjata nuklir jika Barat menghalangi Putin".

Menaikkan status menjadi siaga membuat kemungkinan peluncuran senjata nuklir menjadi lebih cepat. 

Tetapi bukan berarti Rusia "ada niat saat ini untuk menggunakan senjata nuklir".

Rusia memiliki cadangan senjata nuklir terbesar di dunia tapi juga paham bahwa NATO mempunyai cadangan senjata yang cukup untuk menghancurkan Rusia.

Yang diinginkan Putin besar kemungkinan adalah mencegah NATO mendukung Ukraina dengan menimbulkan ketakutan dan menciptakan ambiguitas.

Pertempuran di Kharkiv

Perkembangan ini terjadi setelah sejumlah laporan menyebut terjadi pertempuran di jalan-jalan kota Kharkiv, menyusul tindakan pasukan Rusia memasuki kota itu, kata seorang pejabat setempat, Minggu (27/02) pagi waktu setempat.

Pasukan Rusia juga dilaporkan telah menguasai Nova Kakhova di wilayah selatan.

Dalam perkembangan lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan delegasi Ukraina akan bertemu delegasi Rusia, tanpa syarat awal, di perbatasan Belarus, di dekat Sungai Pripyat.

Pernyataan ini disampaikan usai pembicaraan dengan Presiden Belarus, Alexander Lukashenko.

"Alexander Lukashenko sudah berjanji untuk memastikan semua pesawat, helikopter, dan rudal yang ditempatkan di Belarus tidak dioperasikan saat delegasi Ukraina melakukan perjalanan, menghadiri pembicaraan, dan saat kembali [ke Ukraina]," kata Zelensky.

Sebelumnya ia menyatakan tidak akan ada pembicaraan dengan delegasi Rusia di Belarus karena sebagian invasi Rusia ke Ukraina dilancarkan dari Belarus.

Putin ucapkan terima kasih kepada pasukan khusus Rusia 

Sementara, Vladimir Putin telah memberikan pidato TV di mana dia berterima kasih kepada tentara pasukan khusus karena "secara heroik memenuhi tugas militer mereka" di Ukraina.

Putin mengatakan tentara telah ditugaskan untuk memberikan bantuan kepada "republik rakyat Donbas" - mengacu pada dua daerah yang dikuasai pemberontak di timur Ukraina yang diakui Rusia sebagai negara merdeka sebelum invasi.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada komando, personel pasukan operasi khusus, veteran unit pasukan khusus atas kesetiaan mereka pada sumpah, atas layanan sempurna mereka atas nama rakyat Rusia dan tanah air kita yang agung," katanya.

Dia mengakhiri pesan dengan mengatakan: "Saya berharap semoga sukses, sukses dan semua yang terbaik untuk Anda dan orang yang Anda cintai."

Pidato tersebut diberikan untuk menandai hari pasukan khusus Rusia, yang telah diadakan pada 27 Februari sejak 2015.

'Ini pasukan Rusia... Ya, Tuhan' 

Sebelumnya, pertempuran sengit terjadi di jalan-jalan kota Kharkiv, setelah pasukan Rusia memasuki kota itu dalam satu jam terakhir, kata seorang pejabat setempat, Minggu (27/02) pagi.

"Ini adalah pasukan Rusia...mereka berhenti di antara rumah-rumah... Ya, Tuhan"

Seorang perempuan di kota Kharkiv merekam video iring-iringan kendaraan pasukan Rusia.

Dia lalu terdengar berkata: 

"Ini adalah pasukan Rusia. Ditandai dengan huruf Z. Mereka beriringan di Jalan Sapernaya. Mereka berhenti di antara rumah-rumah. Ya, Tuhan."

BBC telah memverifikasi video Telegram ini yang menunjukkan truk-truk Rusia melaju ke Kharkiv.

Sebelumnya, rekaman foto beredar di media sosial sepertinya memperlihatkan pasukan Rusia berada di sebuah ruas jalan di kota terbesar kedua itu. 

Beredar pula video dan foto yang menunjukkan setidaknya dua kendaraan "Tiger" Rusia terbakar di Kharkiv.

Seorang pejabat Kharkiv, Minggu pagi waktu setempat telah memperingatkan warganya agar tinggal di tempat penampungan dan tidak keluar rumah.

Sementara itu, ledakan dan sirene terdengar di ibu kota Kiev, pada Minggu pagi.

Ada laporan tentang ledakan yang terdengar di sebelah barat di pusat kota Kiev. Dan setelahnya terdengar sirene adanya serangan udara di sekitar satu jam terakhir.

Nova Kakhovka jatuh ke pasukan Rusia, lapor media Ukraina 

Sebuah kota di wilayah selatan Ukraina telah dikuasai pasukan Rusia, demikian laporan media-media Ukraina.

Pasukan Rusia dilaporkan telah menduduki Nova Kakhovka, atau New Kakhovka. 

Wali kota Nova Kakhovka, Volodymyr Kovalenko, dilaporkan mengatakan pasukan Rusia telah menguasai kantor pemerintahan dan mencabuti bendera-bendera Ukraina dari gedung-gedung.

Sejumlah analisa mencatat bahwa kehadiran pasukan Rusia dari wilayah selatan merupakan salah satu yang paling sukses sejauh ini, di mana akan mengancam kota-kota Kherson, Mykolaiv dan Melitopol.

Pejabat Ukraina: Rusia telah memasuki Kharkiv 

Pasukan Rusia telah memasuki Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina, kata pejabat setempat.

Kepala pemerintahan daerah Kharkiv, Oleg Sinegubov, mengatakan bahwa kendaraan militer ringan telah "mendobrak kota".

Sebelum ada pernyataannya, beredar rekaman video yang memperlihatkan beberapa kendaraan militer Rusia terlihat di sejumlah jalan protokol di kota di wilayah timur laut itu.

Sinegubov telah meminta agar warga tetap tinggal di dalam rumah atau tempat penampungan, seraya mengatakan pasukan Rusia tampaknya berada di pusat kota.

"Jangan tinggalkan tempat perlindungan! Angkatan Bersenjata Ukraina sedang berusaha menghancurkan musuh. Warga sipil diminta tidak berkeliaran di jalan-jalan."

Semula Kiev dilaporkan 'kondusif' 

Sebelumnya, sampai sekitar pukul 08.00 pagi, Minggu (27/02) waktu setempat, situasi di ibu kota Ukraina, Kiev, relatif kondusif, dan sejauh ini kekhawatiran adanya serangan rudal Rusia atas wilayah itu, belum terbukti.

Wakil Wali Kota Kiev, Mykola Povoroznyk mengatakan, Minggu pagi, situasi di kota itu tetap tenang dan di bawah kendali pasukan Ukraina.

Dia mencatat meskipun ada bentrokan dengan "kelompok penyabot Rusia" di Kiev semalam, situasinya terkendali. Namun dia tidak memberikan rincian apapun.

Walaupun ada peringatan pada Sabtu (26/02) malam, bahwa ibu kota akan diserang dari udara, tampaknya tidak terjadi - meskipun ada ledakan di luar kota.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan serangan Rusia itu menghantam depot minyak di Vasylkiv, sebuah kota di selatan Keiv yang juga memiliki pangkalan udara militer. 

Ledakan itu menyebabkan kobaran api yang terus berkobar, dan para pejabat telah memperingatkan warga di daerah sekitarnya serta di Kiev agar menutup jendela rumahnya dari kemungkinan asap kimia beracun.

Sembunyi di tempat perlindungan di bawah tanah 

Sebelumnya, warga ibu kota Ukraina, Kiev, berlindung di lokasi bawah tanah ketika para pejabat memperingatkan serangan rudal Rusia.

Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, Minggu (27/02), situasi sangat mencekam terlihat di Kiev, setelah warga diperingatkan akan adanya serangan bom.

Sejumlah laporan menyebutkan, sebuah depot minyak di Vasylkiv, di pinggiran ibu kota Kiev, meledak setelah mendapat serangan rudal.

Di Kiev, jam malam mulai diberlakukan hingga Senin (28/02) pagi, dan Wali kota Kiev mengatakan siapa pun yang terlihat di jalanan akan dianggap sebagai "penyabot" Rusia.

Sementara, AS, Jerman dan Belanda akan meningkatkan pengiriman persenjataan kepada Ukraina, di tengah peningkatan serangan Rusia.

Sejumlah besar warga terus melarikan diri dari Ukraina menuju negara-negara tetangga, seperti Polandia dan Moldova.

'Malam yang panjang dan menegangkan di Kiev' 

Lewat pukul 03.00 waktu setempat, Minggu (27/02) di Kiev. Situasi sangat mencekam setelah warga ibu kota Ukraina, sekitar tengah malam, diperingatkan akan adanya serangan rudal Rusia.

Sementara, dilaporkan ada serangan rudal di terminal minyak, sekitar 40km di selatan Kiev.

Sejauh ini belum dilaporkan adanya serangan rudal di ibukota.

Seperti yang dilaporkan wartawan BBC yang berada di Kiev, serangan Rusia di ibu kota Ukraina sepertinya terhenti di pinggiran kota, di tengah adanya perlawanan dari pasukan Ukraina.

Namun banyak yang mengkhawatirkan adanya serangan udara Rusia. Masyarakat kota itu kemudian diminta berlindung di bunker bawah tanah.

Warga Kiev diminta berhati-hati 'asap beracun' 

Ledakan keras di satu depot minyak di Vasylkiv, di pinggiran kota Kiev, yang diperkirakan akibat serangan rudal, dikhawatirkan "asap beracun".

Seorang pejabat di ibu kota Ukraina itu memperingatkan bahwa depot yang terbakar mengeluarkan asap beracun.

Masyarakat di kota itu kemudian diminta menutup jendela rumah rapat-rapat. Banyak penduduk di ibu kota telah berlindung di ruangan bawah tanah.

Video yang diunggah secara online, diduga dari lokasi ledakan depot minyak, memperlihatkan gumpalan asap berskala besar dan membumbung di udara.

Kisah belasan perempuan pembuat bom molotov di sebuah taman 

Sarah Dnipro, wartawan BBC News di Dnipro, Ukraina

Pada hari Vladimir Putin memerintahkan tentaranya menginvasi Ukraina, Arina telah merencanakan kelas dansa sepulang kerja dan kemudian berpesta. 

Namun tiga hari kemudian, guru bahasa Inggris itu justru membuat bom molotov di sebuah taman.

Saya memergokinya tengah duduk di rerumputan bersama lusinan perempuan lainnya, memarut bongkahan polistiren - seolah-olah benda itu adalah keju - dan merobek lembaran kain untuk membuat bom molotov buatan sendiri.

Adegan seperti itu tidak terbayangkan oleh kebanyakan orang di Eropa. Mereka juga tidak terpikirkan di sini, sekalipun.

Tapi warga Dnipro kini siap untuk mempertahankan diri melawan pasukan Rusia yang terus merangsek. 

"Tak ada yang mengira beginilah cara kami menghabiskan akhir pekan," ujar Arina kepada saya.

"Tapi sepertinya ini adalah satu-satunya hal penting yang harus dilakukan sekarang," tambahnya. Wajah dan rambut guru berusia muda itu ditaburi debu putih polistiren.

"Ini cukup menakutkan. Saya pikir kita tidak benar-benar menyadari apa yang sedang kami lakukan," ujarnya.

Tak begitu jauh dari lokasi Arina, Elena dan Yulia memberi tahu saya bahwa mereka meninggalkan anak-anaknya dengan kakek-neneknya demi membantu membuat molotov

"Duduk di rumah tanpa melakukan apa pun akan lebih menakutkan," kata Elena.

Dia lantas tertawa dan mengatakan bahwa dia adalah juru masak yang cemerlang, dan menurutnya proses membuat molotov tak jauh berbeda dengan meracik makanan.

'Saya tidak percaya ini terjadi pada kami, tetapi apakah ada pilihan lain yang kami miliki?" kata Elena.

Gedung apartemen dihantam rudal Rusia

Sebelumnya, Rusia membombardir ibu kota Ukraina, Kiev, dengan serangan rudal setelah disambut dengan perlawanan sengit militer Ukraina.

Foto-foto menunjukkan gedung apartemen dekat Bandara Zhuliany di Kiev kena hantam rudal Rusia. Sebuah lubang yang mencakup lima lantai tampak menganga di gedung tersebut.

Kementerian Kesehatan Ukraina mengatakan sejauh ini sebanyak 198 warga Ukraina telah tewas, termasuk dua anak-anak, serta lebih dari 1.000 orang cedera.

Dalam pernyataannya melalui Facebook pada Sabtu pagi (26/02), militer Ukraina mengatakan telah menghalau beberapa serangan. 

Bahkan, salah satu unit tentara berhasil mengusir pasukan Rusia di dekat pangkalannya yang terletak di sebuah jalan besar.

Secara terpisah, Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan: "Kami tidak akan meletakkan senjata. Kami akan membela negara kami."

Pemerintah Kota Kiev mengonfirmasi bahwa pertempuran tengah berlangsung dan mengimbau orang-orang untuk tinggal di rumah. 

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi bahwa mereka telah menguasai kota Melitopol - yang disebut kantor berita Reuters sebagai pusat populasi signifikan pertama yang diambil alih sejak invasi Moskow ke Ukraina dimulai pada Kamis kemarin.

Melitopol adalah kota yang tidak begitu besar di dekat pelabuhan terpenting Ukraina, Mariupol, di wilayah Zaporizhzhya.

Diperkirakan 150.000 warga Ukraina tinggal di Melitopol.

Ukraina: Kiev 'dalam kendali' tentara

Menurut sebuah laporan oleh kantor berita Interfax-Ukraina, pihak berwenang di Kiev mengeluarkan pernyataan yang meminta orang-orang untuk tinggal di tempat penampungan dan menjauh dari jendela jika mereka berada di rumah. 

Namun Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Oleksiy Danilov mengatakan kepada situs berita Ukraina Lb.ua bahwa situasi "dalam kendali" tentara.

"Kami menghentikan lawan menggunakan semua cara yang bisa kami lakukan. Kiev dalam kendali tentara dan warga," kata Danilov. 

Dalam videonya, Zelensky terlihat sedang berjalan-jalan di sekitar distrik pemerintah Kiev dan membantah rumor bahwa ia meminta tentara Ukraina untuk menyerah kepada pasukan Rusia.

"Ada banyak informasi palsu beredar di internet bahwa saya meminta tentara untuk meletakkan senjata, dan bahwa ada evakuasi," katanya dengan latar belakang Gorodetsky House Kiev.

"Saya di sini. Kami tidak akan meletakkan senjata. Kami akan membela negara kami."

Sebelumnya, pada Sabtu dini hari, komando angkatan udara Ukraina juga melaporkan pertempuran sengit di dekat pangkalan udara Vasylkiv, barat daya Kiev. Mereka mengatakan bahwa mereka diserang oleh pasukan terjun payung Rusia.

Secara terpisah, mereka mengklaim salah satu jet tempur mereka telah menembak jatuh sebuah pesawat transport Rusia. BBC belum dapat memverifikasi ini.

Kantor berita Interfax kemarin (25/02) melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pasukan mereka telah mengambil alih landasan udara penting, Hostomel di dekat Kiev.

Kementerian menyebutkan 200 tentara dari unit khusus Ukraina meninggal dan tak ada korban dari pihak Rusia, menurut kantor berita RIA Novosti. Sejauh ini belum ada tanggapan dari militer Ukraina dan keterangan Rusia belum dapat dipastikan.

Rusia juga menguasai kompleks Chernobyl - tempat terjadinya bencana nuklir terparah dunia pada 1986. Kawasan ini masih bahaya radioaktif dan menimbulkan kekhawatiran dari pengawas nuklir internasional.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB sebelumnya mengatakan mereka memiliki laporan setidaknya terdapat 127 korban sipil di Ukraina, 25 di antaranya meninggal, 102 terluka karena "pengeboman dan serangan udara." Juru bicara kantor HAM menyebut angka korban bisa lebih tinggi.

Ukraina mengatakan setidaknya 33 lokasi warga sipil menjadi sasaran.

Inggris merilis data bahwa setidaknya 194 warga Ukraina, termasuk 57 warga sipil meninggal, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan data dari PBB.

Zelensky: 'Kita harus bertahan'

Presiden Zelensky sebelumnya memperingatkan bahwa Rusia akan mencoba untuk "menyerbu" Kiev pada Jumat malam.

"Malam ini musuh akan menggunakan semua cara yang mereka bisa untuk mematahkan perlawanan kita. Malam ini mereka akan melancarkan serangan," kata Zelensky.

"Malam ini kita harus bertahan. Nasib Ukraina diputuskan saat ini... Tujuan utama kita adalah menyelesaikan pertumpahan darah ini."

Meskipun Zelensky mengakui pasukan Rusia telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa, ia bersikeras bahwa "musuh telah menderita korban jiwa yang sangat serius", juga. BBC belum dapat memverifikasi klaim ini.

Pada hari Jumat, juru bicara Zelensky mengatakan Ukraina siap untuk mengadakan gencatan senjata dan perundingan damai dengan Rusia sesegera mungkin dan sedang mendiskusikan waktu dan tempat untuk mengadakan perundingan.

Warga berlindung di stasiun kereta bawah tanah

Di Kiev, banyak warga yang tidur di stasiun kereta bawah tanah. 

Banyak orang yang membawa binatang peliharaan mereka dan bahkan matras, menurut salah seorang yang ikut mengungsi.

Oksana Potapova menulis di Facebooknya keputusan untuk berlindung di stasiun adalah langkah tepat "mengingat terjadinya pertempuran sengit di dekat Kiev, Chernobyl dikuasai dan perkiraan serangan di Kiev."

PBB mengatakan warga di ibu kota Kiev dan dari kota-kota lain melarikan diri dan sekitar 100.000 sudah angkat kaki.

Sementara itu, protes antiperang mendukung Ukraina terjadi di sejumlah kota di seluruh Eropa dan juga di Rusia, walaupun berujung lebih dari 700 orang ditahan.

Kementerian Luar Negeri Indonesia sebelumnya mengatakan telah menjalankan "rencana kontingensi" untuk melindungi warga negara Indonesia (WNI) di Ukraina.

Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha, mengatakan pihaknya melalui KBRI Kiev telah menjalin kontak dengan 138 WNI di Ukraina.

"Dalam komunikasi melalui grup WhatsApp, kami mendapat info WNI di sana dalam kondisi aman. Mereka tetap tenang," kata Judha dalam konferensi pers virtual, Kamis (24/02).

Ia menjelaskan bahwa, sesuai rencana kontingensi yang telah disiapkan sebelumnya, Kemenlu telah meminta para WNI untuk berkumpul di KBRI Kiev. Pihak KBRI juga menyediakan hotline bagi para WNI.

Kemenlu juga telah menyusun rencana kontingensi dengan KBRI di kota-kota lain seperti Warsawa, Bratislava, Bucharest, dan Moskow untuk memberikan perlindungan bagi WNI yang ada di sana, tambah Judha.

Terdapat 138 WNI di Ukraina, mayoritasnya tinggal di Kiev dan Odessa. Dari jumlah tersebut, 11 WNI ada di Ukraina Timur termasuk Luhansk dan Donetsk yang dikuasi kelompok pemberontak sokongan Rusia.

"Kita sudah mampu menjalin komunikasi dengan mereka. Kita minta mereka mendekat, berkumpul ke KBRI Kiev. Namun jika tidak memungkinkan, sesuai dengan rencana kontingensi, ada titik-titik yang sudah di-dedicated-kan sebagai titik kumpul para WNI kita di kota-kota tertentu," kata Judha.

Bagaimana tanggapan internasional?

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan presiden Rusia dan para diplomat topnya "bertanggung jawab atas kematian orang-orang tak bersalah di Ukraina, dan atas pengabaian sistem internasional".

"Kami, sebagai orang Eropa, tidak menerima itu," ujarnya, setelah pertemuan para menteri luar negeri di Brussels.

Seiring pasukan Rusia mendekati Kiev, Ukraina memohon kepada Barat untuk menjatuhkan sanksi yang lebih cepat dan lebih keras kepada Moskow sebagai hukuman atas serangannya.

Zelensky mendesak Eropa untuk menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Moskow.

Ia ingin para pemimpin dunia mengeluarkan Rusia dari Swift - sistem yang digunakan untuk transaksi bisnis global.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga mendesak Barat untuk memblokir Rusia dari sistem pembayaran untuk "menimbulkan luka sebesar-besarnya pada Presiden Putin dan rezimnya".

Tetapi Uni Eropa sejauh ini memilih untuk tidak mengeluarkan Rusia dari Swift - dilaporkan karena keberatan dari beberapa negara anggota, termasuk Jerman dan Italia. 

Namun, Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka tidak akan memveto proposal untuk melarang Rusia. 

Ronde sanksi terbaru dari Uni Eropa juga menyasar kalangan elit Rusia dan mempersulit para diplomatnya untuk melakukan perjalanan luar negeri.

Rusia telah menanggapi sanksi Barat dengan langkah mata-dibalas-mata, melarang penerbangan Inggris ke dan ke atas wilayahnya sebagai balasan atas larangan Inggris terhadap maskapai Rusia Aeroflot.

Apa tujuan Rusia?

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan posisi Presiden Vladimir Putin adalah Moskow tidak ingin menduduki Ukraina namun melakukan "demiliterisasi".

Ketika ditanya wartawan apakah Rusia akan meruntuhkan negara demokrasi, Lavrov menjawab negara itu tak dapat disebut "demokratik."

Lavrov mempertanyakan stabilitas Ukraina - dan menuduh negara-negara Barat sengaja memiliterisasi negara itu.

Lavrov juga mengatakan bahwa rakyat Ukraina sekarang punya peluang untuk "memilih masa depan mereka sendiri".

Presiden Putin mempertahankan operasi militer itu dan mengatakan tak ada jalan lain untuk mempertahankan Rusia. (dn/sumber: bbcindonesia.com)