Hidup Tukang Ojek Belia ini Berubah Setelah Jujur Kembalikan Uang 50.000 Dolar AS: Jangan Ambil Bukan Milikmu

  • Oleh : Redaksi

Senin, 11/Apr/2022 05:17 WIB


Kisah Emmanuel Tuloe ini menyerupai sebuah dongeng modern.

Sosok pria berusia 19 tahun ini, yang berseragam sekolah biru langit dan celana pendek biru tua, terlihat ganjil di ruangan kelas.

Baca Juga:
Driver Ojol: Orderan "Netes" Dapat Takjil Berlimpah, Berkah di Bulan Ramadhan, Nikmatnya saling Berbagi pada Sesama

Siswa-siswa di dalam kelas itu terlihat enam tahun lebih muda dibanding dirinya.

Tapi anak muda yang putus sekolah sejak sekolah dasar itu justru terlihat girang.

Baca Juga:
BPJS Ketenagakerjaan Tanggung Biaya Pengobatan Kecelakaan Ojol

Tahun lalu, Emmanuel yang berusaha mati-matian mencari nafkah sebagai tukang ojek, menemukan segepok uang senilai US$50.000 atau sekitar Rp527 juta.

Uang kertas senilai ratusan juta rupiah itu campuran uang kertas AS dan Liberia.

Baca Juga:
Ditegur Lawan Arus, Driver Ojol Aniaya Pengemudi Mobil

Dia menemukan uang - dalam bungkusan kantong plastik - itu di pinggir jalan di Liberia.

Emmanuel saat itu bisa saja mengantonginya karena uang dalam jumlah fantastis itu bakal mengubah hidupnya.

Namun dia justru memberikan uang itu kepada bibinya supaya menyimpan dan menjaganya.

Dan ketika sang pemilik uang meratap dan meminta tolong - melalui bantuan radio nasional - untuk menemukan uangnya, Emmanuel serta merta mengembalikannya.

Diganjar berbagai hadiah

Dicemooh oleh sebagian warga karena kejujurannya - orang-orang yang menertawakannya mengatakan dia bakal mati dalam jeratan kemiskinan - tindakannya membuatnya diganjar berbagai hadiah, termasuk fasilitas sekolah di Ricks Institute, salah satu sekolah paling bergengsi di Liberia.

Presiden Liberia, George Weah, memberinya US$10.000 atau sekitar Rp105 juta.

Pemilik sebuah media lokal juga memberinya uang tunai, dan hadiah lainnya diperolehnya di antaranya dari para pemirsa televisi dan pendengar radio.

Dan sang pemilik uang pun menyumbangkan hadiah senilai US$1.500 kepada Emmanuel.

Di atas semua itu dan mungkin yang paling signifikan, sebuah perguruan tinggi di AS kemudian menawarkannya beasiswa penuh setelah dia nantinya menyelesaikan pendidikan menengahnya.

Dan itulah yang kini dia fokuskan di Ricks, sekolah asrama yang didirikan 135 tahun silam.

Dahulu sekolah ini disediakan bagi masyarakat elit Liberia keturunan budak yang dibebaskan. Merekalah yang kelak berperan besar dalam pendirian negara itu.

Bangunan dua lantai sekolah itu terletak di kompleks nan indah, di mana lokasinya berjarak sekitar 6km dari pantai Atlantik.

"Saya menikmati aktivitas di sekolah, bukan karena Ricks memiliki nama besar, tetapi karena disiplin akademik dan nilai-nilai moralnya," kata Emmanuel seraya mengumbar tawa. Dia memainkan kerah bajunya saat berujar.

Seperti banyak anak-anak Liberia dari latar belakang pedesaan yang miskin, dia terpaksa putus sekolah pada usia sembilan tahun, untuk mencari uang guna membantu keluarganya.

Ini terjadi tak lama setelah ayahnya meninggal dalam kecelakaan dan dia pergi untuk tinggal bersama bibinya.

Dia kemudian menjadi sopir ojek beberapa tahun kemudian.

Pupil writing at a desk outsideSekolah Ricks yang bergengsi terletak di lahan subur di sebelah barat ibu kota Liberia, Monrovia.

Setelah sekian lama meninggalkan bangku sekolah, dia kini membutuhkan banyak dukungan di sekolahnya yang baru.

Saat Emmanuel pertama kali bergabung di kelas enam "dia merasa sedikit rendah diri; dia tidak bisa leluasa berbicara di kelas, tetapi kami membantunya dari hari demi hari", kata guru wali kelas, Tamba Bangbeor kepada BBC.

"Secara akademis, dia datang dengan fondasi yang rendah, jadi kami mencoba memasukkannya ke dalam program tambahan akademik. Itu membantunya."

Dia sekarang memiliki waktu enam tahun untuk menempuh sekolah menengah dan akan berusia 25 tahun ketika dia lulus.

Namun demikian dia tidak merasa keberatan dengan perbedaan usia dengan teman-teman sekelasnya dan menggambarkan mereka sebagai "ramah".

Emmanuel juga menikmati suasana di asrama, dengan mengatakan bahwa "kehidupan asrama itu baik karena ini adalah cara belajar untuk hidup sendiri pada suatu hari nanti".

Di masa depan, dia ingin belajar akuntansi di perguruan tinggi "sebagai persiapan diri untuk membantu memenej penggunaan uang negara".

Kehati-hatian dan kejujurannya dilihat sebagai contoh untuk diikuti di sebuah negara di mana ada praktek korupsi marak dan pejabat sering dituduh mencuri uang kas negara.

Berkaca kepada olok-olok beberapa orang atas tindakannya mengembalikan uang, dia mengaku bisa saja dia menggunakannya untuk memperbaiki kehidupannya, "tetapi itu tidak akan pernah memberi saya kesempatan yang saya miliki sekarang".

Emmanuel berterima kasih kepada Tuhan karena memberinya pundi-pundi hadiah dan dia juga "berterima kasih kepada orang tua saya karena mengajari saya untuk jujur".

"Dan pesan saya kepada semua anak muda adalah: Jujur itu baik; jangan mengambil apa yang bukan milikmu."

Para guru di sekolah Ricks menghargai kehadiran Emmanuel.

"Tidak hanya semata manfaat bagi sekolah kami dari kejujurannya, dia juga penjaga gawang cadangan untuk tim sepak bola sekolah," kata Bangbeor. Emmanuel adalah penggemar fanatik Chelsea, yang bermain bersama para siswa yang sepantaran.

Teman-teman sekelas Emmanuel juga menyambut kehadirannya di sana.

Bethlene Kelley, 11 tahun, menyebutnya "seorang teman baik di mana kami suka saling berbagi dan peduli, karena dia pendiam dan tidak banyak bicara. [Dia] loyal, respek dan jujur".

Caleb Cooper, 12 tahun, menghargai Emmanuel atas perilakunya di ruangan kelas dan di asrama.

"Dia tidak mencuri barang teman-temannya," kata Caleb seraya tergelak.

"Jika Emmanuel menemukan sesuatu yang bukan miliknya, dia melaporkannya kepada guru. Jika guru tidak ada, dia meletakkannya di meja mereka," katanya.

Men ride motorcycles through traffic in Ganta Liberia

Ojek adalah cara umum bagi anak muda Liberia untuk mencari nafkah. Foto: Getty Images.

Dan dari kehidupan yang ditinggalkan Emmanuel, para tukang ojek tampaknya tidak iri dengan kehidupan barunya.

Salah satu dari mereka, Lawrence Fleming, 30 tahun, mengatakan kepada BBC bahwa dia putus sekolah saat kelas sembilan dan dia mengikuti kisah Emmanuel dengan seksama.

"Untung Emmanuel sudah kembali bersekolah, kami bersyukur kepada Tuhan untuknya," katanya.

Sambil berdiri di samping sepeda motor Boxer buatan China di persimpangan jalan kota Brewerville yang sibuk, di sebelah barat Monrovia, dia menyampaikan sebuah nasihat.

"Biarkan dia tetap bersekolah untuk masa depannya dan masa depan anak-anaknya... dia sekarang memiliki kesempatan yang tidak dimiliki sebagian dari kami."

Sumber: bbc.com.