Menteri Trenggono Bertemu Menteri Norwegia Bahas Kesehatan Laut sebagai Solusi Perubahan Iklim

  • Oleh : Redaksi

Selasa, 13/Sep/2022 21:15 WIB
Foto:Istimewa Foto:Istimewa

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Espen Barth Eide di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Selasa (13/9/2022).

Pertemuan yang berlangsung di Gedung Mina Bahari I tersebut membahas upaya bersama dalam menjaga kesehatan laut sebagai solusi perubahan iklim. 

Baca Juga:
KKP Ekspor 25 Ton Tuna Loin Ternate ke Thailand

Menteri Trenggono memaparkan komitmen pemerintah Indonesia dalam mengelola laut secara berkelanjutan sesuai prinsip Ekonomi Biru. KKP punya lima strategi Ekonomi Biru yang sudah mulai diterapkan untuk menjaga ekosistem laut tetap sehat.

“Kami menargetkan untuk memperluas kawasan konservasi hingga 30% dari seluruh kawasan perairan Indonesia, dan hingga kini KKP telah berhasil melakukan konservasi perairan laut hingga 28,4 juta hektar,” ucap Menteri Trenggono. 

Baca Juga:
Kinerja dan Kesigapan Penyidik KKP Diapresiasi Polri

Perluasan area konservasi laut akan membawa dampak besar pada penyerapan karbon di atmosfer yang menjadi penyebab perubahan iklim. Aksi konservasi yang dimaksud meliputi rehabilitasi kawasan mangrove dan terumbu karang, serta menjaga populasi lamun dari kegiatan di laut yang berpotensi merusak.

Perluasan area konservasi laut ini juga untuk menjaga stok ikan sebagai solusi ketahanan pangan di masa depan.  “Selain itu terumbu karang dan mangrove juga memproduksi karbon yang dapat berkontribusi pada iklim dunia,” tambahnya. 

Baca Juga:
KKP Raih 2 Penghargaan Pada Bhumandala Award BIG

Dalam pertemuan itu, Menteri Trenggono tutur menyampaikan upaya KKP mengentaskan persoalan di laut melalui program Bulan Cinta Laut. Aksi nyata yang dilakukan yakni rutin menggelar kegiatan bersih sampah di laut dan pantai. 

Kemudian sebagai langkah terobosan, KKP merencanakan program satu bulan menangkap sampah di laut dengan melibatkan multipihak khususnya nelayan. Sampah yang ditangkap kemudian dihargai sesuai harga terendah ikan di wilayah tersebut.

“Implementasi Ekonomi Biru lainnya dilakukan melalui program penangkapan ikan terukur berbasis pada kuota, serta pengembangan budidaya ikan yang ramah lingkungan guna meningkatkan produksi perikanan untuk pasar ekspor dan dalam negeri,” pungkas Menteri Trenggono.

Sementara itu Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Espen Barth Eide mengapresiasi langkah KKP dalam menjaga kesehatan ekosistem laut untuk menahan laju perubahan iklim. Menurutnya, kelestarian ekosistem laut sangat besar pengaruhnya pada kondisi bumi. 

“Kita itu memang menjaga hutan, tapi ekosistem yang paling penting di planet ini adalah laut,” akunya.

Sebagai informasi, Norwegia merupakan mitra kerja sama kemaritiman Indonesia, di antaranya terkait perikanan budidaya berkelanjutan, konservasi laut, pemberantasan IUU Fishing dan transnational organised crime in the global fishing industry, serta memajukan sustainable ocean economy sebagai contoh ocean wealth, ocean health, ocean equity, ocean knowledge, ocean finance atau keterlibatan dalam High Level Panel in Sustainable Ocean Economy. (Fhm)