Kembangkan Bandara Raja Haji Abdullah, Kemenhub Apresiasi Dukungan Pembiayaan Lahan dari Pemprov Kepri dan Pemkab Karimun

  • Oleh : Naomy

Kamis, 22/Sep/2022 06:37 WIB
Teken Nota Kesepakatan terkait pengembangab Bandara Karimun Teken Nota Kesepakatan terkait pengembangab Bandara Karimun

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengapresiasi pembiayaan lahan, untuk pengembangan Bandara Raja Haji Abdullah, oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten Karimun.

Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nur Isnin menyatakan, pihaknya menyambut baik dukungan dari Pemprov Kepri untuk pembiayaan pengadaan lahan, dan juga menjamin tersedianya pemeliharaan jalan akses dari dan ke Bandar Udara Raja Haji Abdullah.

Baca Juga:
Angkutan Kargo di Bandara Kertajati Terus Meningkat, hingga September Tembus 6.269 Ton

Begitu juga dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Karimun. 

“Ini merupakan sinergi dan kolaborasi yang sangat baik. Pemerintah Kabupaten Karimun bersedia melakukan penyediaan lahan secara bertahap sesuai perencanaan, dan menjamin tersedianya fasilitas lain yang dibutuhkan guna memperlancar operasional bandar udara tersebut," jelas Isnin usai penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama tentang Pembangunan dan Pengembangan Bandar Udara Raja Haji Abdullah, antara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub dengan Pemprov Kepulauan Riau dan Pemerintah Kabupaten Karimun di Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Baca Juga:
Bandara Kertajati Siap Layani Penerbangan Umrah dan Rute Internasional Lainnya Mulai November

Hal yang tak kalah penting adalah kesepakatan bersama-sama untuk pengendalian tata ruang pada Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), Batas Kawasan Kebisingan (BKK) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp).

Untuk diketahui, Bandar Udara Raja Haji Abdullah berada di Pulau Karimun Besar yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. 

Baca Juga:
Bandara Terus Bangkit, Kertajati Layani Penerbangan Umroh, Halim Kembali Beroperasi

Letak geografisnya sangat strategis karena berada pada jalur lintas pelayaran terpadat kedua di Indonesia. 

“Untuk itu diperlukan pengembangan dari segi fasilitas dan operasional guna mewujudkan Nawa Cita Presiden, sebagai bandara daerah perbatasan sebagai garda terdepan NKRI,” kata Isnin.

Bandar Udara Raja Haji Abdullah berdiri di atas lahan seluas 72.000 m2, dengan gedung terminal 770 m2, runway 1.400 m x 30 m, taxiway 75 m x 15 m, apron 73,5 m x 40 m dengan kapasitas 3 (tiga) pesawat tipe Cassa 212 atau 1 (satu) pesawat ATR 72-600.

“Saat ini rute penerbangan perintis yang sudah beroperasi adalah Tanjung Balai Karimun – Pekan Baru, dan Tanjung Balai Karimun – Dabo Singkep yang dilayani maskapai Susi Air,” imbuh dia. 

Setelah dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepakatan ini, Isnin berharap pembangunan dan pengembangan Bandar Udara Raja Haji Abdullah segera terlaksana dan fasilitasnya dapat terus ditingkatkan. 

“Semoga dapat segera direalisasikan, dan keinginan masyarakat terhadap kebutuhan jasa transportasi udara dapat terpenuhi, untuk mendukung peningkatan perekonomian dan perdagangan di Karimun dan sekitarnya," pungkasnya. (omy)