Kapal Pengangkut Bibit Sawit Tenggelam di Sungai Batang Hari Jambi, 2 ABK Hilang

  • Oleh : Fahmi

Kamis, 22/Sep/2022 11:46 WIB
Tim SAR melakukan pencarian korban. (Dok. Basarnas Jambi) Tim SAR melakukan pencarian korban. (Dok. Basarnas Jambi)

JAMBI (BeritaTrans.com) - Kapal yang mengangkut muatan bibit kelapa sawit tenggelam di Sungai Batanghari, Desa Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Rabu (21/9) pagi. Dua anak buah kapal (ABK) hilang dalam peristiwa itu.

Tim gabungan dari Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan (Basarnas) Jambi bersama Polairud serta masyarakat membantu mencari kedua ABK yang hilang.

Baca Juga:
Tarif Penyeberangan Kapal Pelabuhan Bakauheni-Merak Naik Mulai 1 Oktober, Ini Besarannya

Kepala Kantor Basarnas Jambi Kornelis mengatakan bahwa mendapat informasi dari Bhabinkamtibmas terjadi kapal tenggelam dan dua ABK hilang.

"Kita langsung turun ke lapangan untuk bantu mencari korban tersebut," kata Kornelis.

Baca Juga:
Gertak China, Kapal Rudal Hipersonik AS Zumwalt Muncul di Pasifik

Kapal yang tenggelam dilaporkan berangkat dari Berbak pada Rabu (20/9) sekitar pukul 17.00 WIB. Kapal yang mengangkut bibit sawit kemudian akan menuju Rantau Rasau. Namun di tengah perjalanan kapal dilaporkan tenggelam.

"Kami rasa kapal tersebut diduga kelebihan muatan sehingga tenggelam dan korban jumlah 2 orang ABK dinyatakan hilang," jelas Kornelis.

Baca Juga:
Sudah Dangkal, Nelayan Minta Pemerintah Aceh Besar Keruk Kuala Gigeng dan Dermaga Lhokseudu

Kedua orang hilang dilaporkan atas nama Rahmat (25) dan Parman (50). Laporan hilangnya dua orang ini direspons Basarnas Jambi melalui Unit Siaga SAR Nipah Panjang dengan memberangkatkan personel menggunakan perahu RIB 01 menuju lokasi kejadian.

"Hingga saat ini tim telah sampai di lokasi dan langsung melakukan pencarian bersama Tim SAR Gabungan lainnya," ucapnya.

Tim pencari melakukan penyisiran bersama tim gabungan menggunakan alat Aqua Eyes.

"Jadi tim akan menyelam menggunakan alat Aqua Eyes dan kita juga mendapatkan informasi masyarakat bahwa ada kerawanan saat di dalam air tapi kita sudah antisipasi," tutup Kornelis.(fh/sumber:merdeka)