ALFI : Hilirisasi & Penguatan Pasar Domestik, Halau Gejolak Ekonomi 2023

  • Oleh : Redaksi

Jum'at, 30/Des/2022 18:27 WIB
Yukki Nugrahawan Hanafi Yukki Nugrahawan Hanafi

JAKARTA(BeritaTrans.com)- ISU krisis global tahun 2023 menjadi atensi para pelaku usaha nasional termasuk pebisnis logistik di tanah air. Demikian Catatan Akhir Tahun  "2022" Asosiasi Logistik  dan Forwarder Indonesia  (ALFI). 

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi, mengemukakan, gejolak ekonomi global pada 2023 akan berimbas terhadap semua negara di dunia, tanpa terkecuali. 

Baca Juga:
SCI Tanggapi Sri Mulyani Soal Kinerja Logistik

“Namun untuk bisa menerjang badai ekonomi di 2023 itu, program hilirisasi dan penguatan pasar domestik bisa menjadi kunci. Kita mesti menguatkan potensi domestik tersebut dan hal ini pula yang sudah seringkali saya ingatkan kepada teman-teman pelaku logistik di dalam negeri,” ujar Yukki melalui keterangan pers-nya pada Jumat (30/12/2022). 

Yukki mengatakan, prospek sektor logistik khusunya domestik pada 2023 masih potensial lantaran demografi penduduk Indonesia lebih besar, konsumsi domestik yang tinggi. Namun, dia memprediksi bisnis logistik yang bersinggungan dengan aktivitas ekspor impor (ocean going) akan terimbas resesi ekonomi global 2023. 

Baca Juga:
FIATA: Kegiatan Logistik di India & Eropa Kekurangan Pengemudi

Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat dari 2,9 persen menjadi 2,7 persen. Tak hanya itu, saat ini masih banyak negara dengan inflasi yang tinggi. 

Meski demikian, Yukki optimistis Indonesia mampu melewati rintangan tersebut karena memiliki potensi hilirisasi industri untuk meningkatkan perekonomian. 

Baca Juga:
ALFI : investasi Sektor Transportasi & Logistik pada 2023, Bergairah

Oleh karena itu, perlu dorongan hilirisasi di berbagai sektor komoditas, terutama pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Yukki menilai sektor-sektor tersebut memiliki kontribusi besar pada perekonomian, dengan porsi ekspor yang belum maksimal. 

Untuk itu, imbuhnya, Pemerintah dan pelaku usaha dapat berkolaborasi untuk menciptakan nilai tambah sumber daya alam sehingga dapat meningkatkan nilai jual dan daya saing komoditas ekspor unggulan dalam negeri. 

IDENTIFIKASI PASAR

Yukki menuturkan tahun 2023 bisa menjadi tahun yang transformatif jika pelaku usaha mampu mengidentifikasi peluang pasar yang tetap. Dia pun mencontohkan peluang itu bisa dilihat di sektor energi terbarukan. 

Dia mengatakan Indonesia diberkahi dengan berbagai mineral dan potensi energi terbarukan. “Karenanya, Indonesia harus melakukan hilirisasi supaya ada nilai tambah dan memacu pertumbuhan ekonomi,” ucapnya. 

Yukki menjelaskan, hilirisasi dan penguatan pasar domestik itu perlu dilakukan selain untuk menerjang potensi badai ekonomi juga untuk mewujudkan tujuan besar kita sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada 2045 dan mencapai net zero emission di 2060. 

Selain potensi dari hilirisasi, Indonesia juga harus memaksimalkan pangsa pasar domestik untuk mengembangkan kinerja industri. 

Apalagi, ancaman resesi global masih menjadi resiko terberat yang harus dihadapi oleh pengusaha. Berkurangnya permintaan global, terutama bagi industri berorientasi ekspor juga berdampak pada kinerja perusahaan yang akan berisiko untuk mengurangi beban operasional, salah satunya dengan PHK. 

“Permintaan domestik Indonesia masih kuat, dimana berkontribusi sebesar 55 persen pada PDB Indonesia. Maka dari itu, selama daya beli konsumsi masyarakat dapat kita jaga, roda ekonomi Indonesia dapat terus berputar,” ucapnya. 

Selain itu, Yukki juga menilai dukungan pemerintah juga sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat tersebut. 

Menurutnya, pasar domestik harus turut diperkuat melalui akselerasi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dan P3DN (Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri). 

“Penguatan UMKM untuk mendukung rantai pasok dalam negeri juga sangat diperlukan untuk mensukseskan upaya ini,” kata Yukki. 

Dia mengatakan, program hilirisasi industri dimaksudkan untuk mendapatkan nilai tambah produk bahan mentah, memperkuat struktur industri, menyediakan lapangan kerja, dan memberi peluang usaha di Indonesia. 

“Pasalnya Indonesia sudah puluhan tahun melakukan ekspor bahan mentah dan hilirisasi diperlukan agar bahan mentah diproses di dalam negeri,” ucap Yukki.[lam/ny)