Kementerian-KP dan FAO Siapkan Fishway Pada Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro di Sukabumi

  • Oleh : Redaksi

Jum'at, 07/Jun/2024 16:14 WIB
Foto:Istimewa Foto:Istimewa

SUKABUMI (BeritaTrans.com) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersinergi dengan Food and Agriculture Organization (FAO) melalui Proyek IFish yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) melakukan groundbreaking (peletakan batu pertama) pembangunan fishway (tangga untuk jalur ikan), sebagai tempat untuk ruaya ikan, khususnya sidat. 

Pembangunan fishway pada Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) PT. Metafora Andalan Utama di Sukabumi, Jawa Barat, ini menjadi percontohan pembangunan fishway  pertama di Indonesia sebagai upaya konservasi hayati perairan darat.

Baca Juga:
KKP Optimalkan Terumbu Karang di Wilayah Timur untuk Alihkan Utang Amerika Serikat

Plt. Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan (Pusdik KP) Yayan Hikmayani mewakili Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM) KKP I Nyoman Radiarta mengatakan, Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu lokasi project IFish, yang berfokus pada konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan perikanan ikan sidat yang berkelanjutan.  

Upaya-upaya komprehensif yang telah dilakukan selama proyek dilakukan diharapkan dapat meningkatkan penyediaan kebutuhan dan jasa ekosistem di perairan darat, khususnya untuk keberlanjutan ikan sidat.

Baca Juga:
Kementerian-KP Berkomitmen Tata Ruang Laut Sekitar IKN

Ia mengatakan, ikan sidat termasuk jenis ikan katadromik, yaitu memijah di laut dalam, namun ketika telur menetas menjadi larva, larva mengalami metamorphosis menjadi elver atau glass eel. Selanjutnya glass eel akan beruaya ke muara sungai yang memiliki salinitas lebih rendah, bermigrasi ke arah hulu sungai ke daerah air tawar. Ikan sidat  bermigrasi ke laut setelah mengalami kematangan gonad dan memijah di palung laut dalam. 

"Keberadaan ikan sidat tersebut semakin terancam dengan adanya berbagai pembangunan, khususnya dalam pemanfaatan sungai dan pada akhirnya menghambat jalur ruaya ikan sidat. Menurut hasil penelitian, Kabupaten Sukabumi merupakan jalur terpendek dari ruaya ikan sidat, sehingga upaya penyelamatan ikan sidat di Sukabumi menjadi bagian penting untuk mempertahankan keberlanjutan sumber daya ikan sidat," tutur Yayan.

Baca Juga:
Kementerian-KP Buru Dalang Penyelundup Benur di Cilacap

Ia melanjutkan, hasil yang telah dilakukan proyek IFish antara lain dikeluarkannya kebijakan di tingkat nasional melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor 73/2022 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Sidat, Kepmen KP Nomor 118/2021 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Sidat, Kepmen KP Nomor 80/2020 tentang Perlindungan Terbatas Ikan Sidat, Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Nomor 7/2022 tentang Juknis Penangkapan dan Restocking Sidat, serta Keputusan DJPT Nomor 8/2022 tentang Juknis Penangkapan Glass eel. 

Kebijakan di tingkat nasional lainnya dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), yang mensyaratkan fishway dengan desain yang sesuai dengan kondisi keanekaragaman hayati dan lingkungan perairan lokal melalui KP-02 tentang Kriteria Perencanaan, Standar Perencanaan Irigasi yang akan disahkan pada tahun ini. Selain di tingkat nasional, terdapat kebijakan di tingkat daerah, yaitu Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2023 yang mengatur Kabupaten Sukabumi yaitu kewajiban pembangunan fishway/fishladder (jalur laluan ikan) pada setiap bendung melintang sungai yang dibangun di Kabupaten Sukabumi. 

"Fishway merupakan struktur yang dibuat untuk memfasilitasi pergerakan migrasi ikan. Fishway umumnya dibangun melekat pada bendung, bendungan, atau bangunan melintang sungai lainnya. Beberapa tangga ikan juga dibuat untuk membantu ikan melewati penghalang natural seperti air terjun," jelas Yayan.

Pasca keluarnya aturan terkait kewajiban membangun fishway pada setiap bendung dapat dipastikan, jalur migrasi yang tidak terhalang untuk sidat dan migratory species lainnya. Kewajiban ini dimasukkan ke dalam persyaratan izin pengusahaan sumber daya air (pemanfaatan air sebagai bahan baku utama) atau izin pembangunan bendung.

"Implementasi dari Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023 dan persyaratan izin untuk Pembangunan bendung mikro-hidro di Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, serta inisiatif sektor swasta PT. Metafora sebagai perusahaan yang akan membangun bendung mikro-hidro di Sungai Cicatih juga akan membangun fishway pada bendung yang akan dibangun tersebut. Selain itu, dari kegiatan percontohan pada budi daya sidat yang dilakukan IFish, Pemkab Sukabumi memiliki program Si Bulat Merah (Sistem Budidaya Sidat Tersegmentasi Dengan Biaya Murah) dengan pembiayaan dari Pemprov Jawa Barat," ungkap Yayan.

Terkait dengan inisiasi wilayah konservasi, Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG) dengan dukungan dari IFish menginisiasi wilayah konservasi sidat di Kawasan CPUGG dan memasukkan sidat menjadi species prioritas CPUGG.  

Selain itu, untuk memperkuat sumber daya manusia, KKP telah melaksanakan pelatihan/bimbingan teknis/sosialisasi budidaya pembesaran, pengolahan/peningkatan nilai tambah ikan sidat, Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM), pendataan, dan sebagainya yang melibatkan hampir lebih dari 1000 orang baik Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklasar), Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), nelayan, berbagi komunitas, penyuluh dan jajaran Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) setempat. 

"Selain itu, juga telah tersedia Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk budi daya sidat dan melalui proyek IFish diusulkann SKKNI untuk pengolahan sidat serta modul pelatihan untuk keduanya. Untuk menjaga kelestarian  dan keberlanjutan sidat, juga telah dilakukan restocking sidat, gerakan bersih sungai serta perluasan kawasan pencadangan konservasi perairan darat pada wilayah Kecamatan Ciemas dan Ciracap," tambah Yayan.

Ia juga mengatakan, kegiatan ini dalam rangka pengarusutamaan konservasi keanekaragaman hayati dan untuk keberlanjutan pemanfaatan ekosistem perairan daratan yang memiliki nilai konservasi tinggi. Program dan kegiatan yang telah dilaksanakan ini sejalan dengan erat dengan strategi implementasi ekonomi biru melalui lima program prioritas KKP yang gencar dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Wakil Bupati Sukabumi Iyos Somantri mengatakan, pembangunan fishway ini merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan di dunia. Maka dari itu, hal ini menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi.

"Fishway di PLTM Kertamukti merupakan yang pertama dibangun di sepanjang Sungai Cimandiri, bahkan di Jawa Barat. Ini bisa menjadi contoh untuk private sector lainnya," ucapnya.

"Sungai Cimandiri merupakan salah satu habitat utama ikan sidat yang bermigrasi dari Pantai Selatan Jawa ke Teluk Palabuhanratu," tambahnya.

Sementara itu, Direktur PT. Metaphora Andalan Utama Tatang Kusmana mengatakan, Fishway menjadi salah satu solusi agar konektivitas sungai tetap terjaga. Terutama bagi ikan air tawar adlam bermigrasi. Baik untuk bertelur, mencari makan, berlindung, maupun menghindari polusi atau lingkungan ekstrim.

"Sidat menjadi salah satu yang terganggu siklusnya akibat pembangunan infrastruktur sungai seperti, bendung, dan bendungan. Fishway ini menjadi salah satu solusinnya," bebernya.

Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu penghasil benih sidat terbesar di Indonesia. Benih sidat hasil tangkapan alam dibesarkan pada unit-unit usaha pembesaran sidat untuk tujuan ekspor.

"Makanya kita harus terus memperhatikan dan menjaga keberlanjutan sumberdaya sidat di alamnya. Fishway ini salah satunya," tuturnya

Sebagai rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan juga kunjungan ke pembudidaya sidat di Pondok Pesantren Assalam boarding school di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, sebagai lokasi penerima program Sibulat Merah. Selain itu dilakukan pula kegiatan penanaman pohon, restocking sidat dalam kawasan pencadangan konservasi perairan darat pada wilayah Sungai Cikanteh, serta peresmian kawasan konservasi di Geopark Ciletuh.

Sebagai informasi, KKP dan FAO bersinergi dalam proyek IFish untuk pengelolaan perikanan darat berkelanjutan sejak 2017 hingga 2024. Tujuan proyek IFish adalah memperkuat kerangka kerja pengelolaan untuk pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati perairan darat guna meningkatkan perlindungan ekosistem air tawar yang bernilai konservasi tinggi dan keanekaragaman hayatinya di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan ekosistem dan ketahanan pangan bagi masyarakat lokal yang mata pencahariannya bergantung pada perikanan perairan darat.

IFish memiliki lima wilayah demosntrasi di Indonesia dengan target ikan bernilai konservasi tinggi di masing-masing wilayah, yakni sidat di Jawa (Kabupaten Sukabumi dan Cilacap), arwana dan perikanan Beje di Kalimantan Tengah (Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan), serta belida di Sumatera (Kabupaten Kampar).(fhm)