Hari Ini dalam Sejarah: 182 Jemaah Haji Indonesia Wafat akibat Kecelakaan Pesawat Martin Air di Sri Lanka

  • Oleh : Bondan

Jum'at, 04/Des/2020 11:44 WIB
Ilustrasi kecelakaan pesawat. Foto: akurat.co Ilustrasi kecelakaan pesawat. Foto: akurat.co

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Hari ini 46 tahun yang lalu, tepatnya pada 4 Desember 1974, pesawat milik Martin Air yang mengangkut 100 lebih jemaah haji Indonesia mengalami kecelakaan.

Melansir dari Harian Kompas, 6 Desember 1974, pesawat yang berangkat dari Surabaya itu mengangkut 182 jemaah  haji dan 9 awak pesawat. Mereka semua dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan.

Baca Juga:
Jokowi Minta KNKT dan Kemenhub Perketat Pengawasan Pesawat Terbang

Pesawat mengalami kecelakaan sekitar 15 menit sebelum mendarat di lapangan Internasional Bandaranaike, Kolombo, Sri Lanka, untuk mengisi bahan bakar.

Pesawat yang mengalami kecelakaan ini adalah jenis DC-8 55f, produksi McDonald Douglash tahun 1966, milik maskapai Belanda Martin Air yang disewa.

Baca Juga:
DVI Polri Identifikasi 7 Korban SJ 182, Ini Datanya

Mengutip Antara, 20 Agustus 2010, pada masa itu tidak ada penerbangan langsung dari Indonesia ke Mekkah. Sehingga, Garuda Indonesia harus mencarter maskapai lain karena armada kurang.

Kecelakaan pesawat ini adalah musibah kecelakaan terbesar kedua dalam sejarah dunia selama tahun itu.

Baca Juga:
Personel KRI Parang Temukan 2 Bagian Mesin Sriwijaya Air SJ 182 Serberat 200 Kg

Tilak de Zoysa, seorang petani teh di daerah lokasi kecelakaan, mengaku mendengar ledakan saat peristiwa terjadi.

Ia kemudian bergegas keluar dari bungalownya yang berjarak sekitar 180 meter dan melihat pesawat itu hancur berkeping-keping.

Ia menyebut puncak perbukitan yang ditabrak oleh pesawat adalah kawasan yang belum pernah dicapai orang sebelumnya.

Adapun Peerkhan Seiyadu, seorang keturunan Afghanistan dan India yang tinggal di Srilanka, 36 tahun kemudian usai kejadian tersebut bercerita, saat itu pukul 8 malam waktu Srilanka ia melihat pesawat terbang terlalu rendah dari arah timur dan terlihat hendak menghindari tebing tinggi yang berselimut kabut.

“Terlambat, tebing tinggi itu tak bisa dihindari. Pesawat itu menabrak tebing, lalu memercikkan api, hancur berkeping-keping,” kisah Sieyadu kepada Antara.

Ia menyebut tak ada satu pun korban ditemukan dalam keadaan utuh kecuali jenazah pramugari Belanda yang kondisi tubuhnya sudah sangat mengkhawatirkan.

Dikutip dari Kompas.com, 4 Desember 2011, Duta Besar Sri Lanka saat itu Djafar Hussein menyampaikan lokasi kecelakaan berada di puncak perbukitan yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya.

Kecelakaan tersebut disertai ledakan, sehingga sebagian besar bagian tubuh jenazah tidak berhasil dikumpulkan.

Para korban  kecelakaan pesawat itu terdiri dari 111 warga Blitar, 16 warga Lamongan, 49 warga Sulawesi Selatan, 2 warga Surabaya, dan 3 warga Kalimantan Timur.

Adapun, sembilan awak adalah 2 dari mahasiswi tingkat IV Fakultas Syariah (Hukum) IAIN Surabaya dan mahasiswa IAIN Ujungpandang. Sedangkan, 7 awak lainnya adalah warga Belanda.

Tebing yang ditabrak pesawat tersebut dikenal dengan sebutan Tujuh Perawan atau Seven Virgins. Warga Srilanka menyebutnya dengan Anjimalai.

Di daerah tersebut terdapat satu puncak yang dikenal warga dunia sebagai Adam’s Peak atau Sri Pada.

Puncak tersebut diyakini oleh banyak pemeluk agama di Asia Selatan dan sebagian Timur Tengah sebagai sebuah tempat suci.

Sebagian Muslim dan Kristen mempercayai lokasi tersebut sebagai tempat Nabi Adam pertama kali menjejakkan kaki di bumi.

Adapun, pemeluk Budha meyakini telapak kaki yang ada di Gunung itu adalah milik Sidharta Budha Gautama. Sementara, umat Hindu mempercayainya sebagai jejak Dewa Siwa.

Sebagian Muslim dan Kristen mempercayai lokasi tersebut sebagai tempat Nabi Adam pertama kali menjejakkan kaki di bumi.

Adapun, pemeluk Budha meyakini telapak kaki yang ada di Gunung itu adalah milik Sidharta Budha Gautama. Sementara, umat Hindu mempercayainya sebagai jejak Dewa Siwa.

Daerah berbukit-bukit di Maskeliya dikenal sebagai daerah yang memiliki panorama indah.

Usai kecelakaan yang terjadi, beberapa minggu kemudian usai investigasi rampung pemerintah membangun sebuah monumen sekitar 400 meter dari tebing di mana kecelakaan terjadi.

Monumen itu sekaligus menjadi perkuburan massal para jemaah mengingat kondisi jenazah tak memungkinkan untuk di bawa pulang ke Indonesia.

Hanya ada sebagian jenazah potongan jenazah yang kemudian dipulangkan dan dikubur dalam perkuburan massal di halaman Masjid Ampel, Surabaya.

Dubes Djafar Husein mengatakan, para anak cucu jemaah haji yang meninggal mungkin rutin menziarahi Ampel.

Namun menurutnya, sebagaimana dikutip dari Antara pada 20 Agustus 2010, tidak ada yang mengunjungi perkubran massal nenek moyang mereka di Maskeliya Srilanka.

“Selama ini memang hanya pihak Kedubes yang sering ke Maskeliya,” ujar Djafar saat itu.

Penyebab kecelakaan

Terdapat sejumlah faktor yang disebut sebagai kecelakaan pesawat. Harian Kompas, 7 Desember 1974, menyebutkan surat kabar yang terbit di Kolombo menyebut jatuhnya korban diakibatkan petugas menara salah mendengar laporan pilot pesawat.

Dalam kontaknya terakhir, pilot menyebut jarak pesawat dengan lapangan terbang adalah fourty (40) miles. Sedangkan, petugas menara salah mendengar sebagai fourteen (14) miles.

Karena salah mendengar, petugas menara menginstruksikan pilot untuk pesawat mendarat. Pilot kemudian mengurangi ketinggiannya dan terkejut karena rupanya instruksi itu salah.

Ia berusaha menaikkan kembali ketinggiannya, namun tak berhasil yang kemudian mengakibatkan pesawat menabrak. Meski demikian, tak diketahui dengan pasti kebenaran mengenai informasi tersebut.

Laporan-laporan resmi menyebut pesawat terbang terlalu rendah dari tinggi minimum yang seharusnya 10.200 kaki.

Sedangkan, puncak kelima dari Seven Virgin yang ditabrak pesawat memiliki ketinggian sekitar 4.600 kaki.

Korban

Salah satu korban dalam kecelakaan pesawat tersebut rupanya adalah cucu Sultan Banjarmasin, Ny Kamariyah Syarifudin. Ia adalah cucu Sultan Banjarmasin, Pangeran Suryanzah.

Ibunya Gusti Ratna, yang tinggal di Surabaya mengatakan, sebelum keberangkatan putrinya, sudah ada sejumlah firasat.

Kamariyah sebelum berangkat menyerahkan sekotak perhiasan kepada ibunya dan berpesan, seandainya ia tiada maka perhiasan itu agar dipakai sang ibu.

Gusti Ratna juga mengatakan sebelum putrinya pergi, sempat bercerita anaknya sempat bermimpi naik sepeda bersama anak dan suaminya yang sudah meninggal di kaki sebuah gunung.

Suami anaknya itu dalam mimpi kemudian meminta Kamariyah meninggalkan anaknya dan ikut bersamanya.

Sebelum terbang, Kamariyah juga sempat mengirimkan surat kepada ibunya dan menceritakan kondisi asrama haji tempatnya menginap memiliki sarana dan pelayanan yang memuaskan.

Tak disangka surat tersebut adalah surat terakhir kalinya yang dituliskan almarhumah. (Kompas.com)