Covid-19 Menghambat Emisi Karbon, Tapi Hanya Sebentar

  • Oleh : Redaksi

Rabu, 24/Mar/2021 00:01 WIB
FOTO: GETTY IMAGES FOTO: GETTY IMAGES

Jakarta (BeritaTrans.com) - Setahun lalu ketika dunia tiba-tiba lockdown, dampaknya langsung terasa pada emisi karbon. Namun, kini emisi sudah mulai kembali lagi ke tingkat normal.

Planet ini sudah menghangat sekitar 1,2C sejak masa pra-industri ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan pandemi pada 11 Maret 2020.

Aktivitas manusia menurun secara tiba-tiba, suatu kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebagian besar dunia melakukan pembatasan sosial, pabrik-pabrik berhenti beroperasi, mobil mematikan mesinnya dan pesawat dilarang terbang.

 

Ada banyak perubahan monumental sejak saat itu, tetapi bagi para ilmuwan iklim, periode ini juga membuka wawasan yang sama sekali baru dan terkadang tidak terduga.

Berikut tiga hal yang telah kami pelajari:

1. Ilmu iklim bisa dirasakan saat itu juga

Pandemi ini membuat kami berpikir tentang cara mengatasi beberapa kesulitan dalam memantau emisi gas rumah kaca, dan khususnya karbon dioksida, secara real time.

Ketika banyak lockdown dimulai pada Maret 2020, Anggaran Karbon Global komprehensif yang menetapkan tren emisi tahun ini baru akan ada pada akhir tahun.

Jadi, para ilmuwan iklim mulai mencari data lain yang mungkin menunjukkan bagaimana CO2 berubah.

Kami menggunakan informasi dari lockdown sebagai cermin untuk emisi global.

Dengan kata lain, jika kita tahu berapa besar emisi dari berbagai sektor ekonomi atau negara sebelum pandemi, dan kita tahu berapa banyak penurunan aktivitas, kita dapat berasumsi bahwa emisi turun dengan jumlah yang sama.

Emisi karbon.

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES

Meskipun emisi mungkin turun karena maskapai menghentikan penerbangan, kurangnya lalu lintas udara sebenarnya menyebabkan sedikit pemanasan pada suhu.

 

Pada Mei 2020, sebuah studi menggabungkan kebijakan pembatasan sosial pemerintah dan data aktivitas dari seluruh dunia untuk memprediksi penurunan emisi CO2 sebanyak 7% pada akhir tahun. Angka ini kemudian dikonfirmasi oleh Proyek Karbon Global.

Penelitian oleh tim saya sendiri segera menyusul, menggunakan data mobilitas Google dan Apple untuk melihat perubahan pada 10 polutan yang berbeda.

Ada pula penelitian ketiga yang melacak lagi emisi CO2 menggunakan data pembakaran bahan bakar fosil dan produksi semen.

Data mobilitas Google terbaru menunjukkan bahwa meskipun aktivitas harian belum kembali ke tingkat pra-pandemi, aktivitas sudah pulih sampai batas tertentu.

Hal ini tercermin dalam perkiraan emisi terbaru kami, yang menunjukkan kembali naiknya tingkat emisi setelah lockdown pertama.

Pertumbuhan emisi global ini cukup stabil selama paruh kedua tahun 2020.

Pada saat terjadi gelombang kedua virus corona pada akhir 2020/awal 2021, kami mencatat penurunan emisi kedua yang lebih kecil.

Sementara itu bersamaan dengan berlangsungnya pandemi, proyek Pemantau Karbon menetapkan metode untuk melacak emisi CO2 secara hampir langsung, memberi kita cara baru yang berharga untuk melakukan sains semacam ini.

2. Tidak ada efek dramatis pada perubahan iklim

Berlawanan dengan harapan banyak orang, pandemi tidak akan terlalu berdampak pada upaya penanggulangan perubahan iklim dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Meskipun langit cerah dan tenang, penelitian yang saya lakukan menemukan bahwa lockdown sebenarnya hanya sedikit berdampak pada pemanasan di musim semi 2020. Ketika industri terhenti, polusi udara turun dan begitu pula kemampuan aerosol (partikel kecil yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil) untuk mendinginkan planet dengan cara memantulkan sinar matahari menjauh dari bumi.

Dampaknya pada suhu global sangat singkat dan sangat kecil (peningkatan hanya 0,03C), tetapi masih lebih besar dari dampak apa pun terkait lockdown di ozon, CO2, atau penerbangan.

Melihat lebih jauh ke tahun 2030, model iklim sederhana memperkirakan bahwa suhu global hanya akan menjadi sekitar 0,01 C lebih rendah karena Covid-19 dibanding jika negara-negara menepati janji emisi mereka pada puncak pandemi. Temuan ini kemudian didukung oleh simulasi model yang lebih rumit.

Emisi karbon.

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES

Menutup ekonomi global bukanlah cara praktis untuk menekan emisi karbon.

 

Banyak janji-janji nasional yang telah diperbarui dan diperkuat selama setahun terakhir, tetapi masih belum cukup untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya.

Selama emisi terus berlanjut, kita akan menghabiskan anggaran karbon yang tersisa.

Semakin lama kita menunda bertindak, makin banyak pengurangan emisi yang harus dilakukan.

3. Lockdown bukanlah solusi aksi iklim

Penghentian kehidupan normal yang sekarang kita lihat dalam rangkaian lockdown bukan hanya tidak cukup untuk menghentikan perubahan iklim, tetapi juga tidak berkelanjutan.

Seperti halnya perubahan iklim, Covid-19 paling parah menyerang mereka yang paling rentan.

Kita perlu menemukan cara untuk mengurangi emisi tanpa dampak ekonomi dan sosial lockdown, dan menemukan solusi yang juga mempromosikan kesehatan, kesejahteraan, dan kesetaraan.

Ambisi iklim yang meluas dan tindakan oleh individu, institusi, dan bisnis masih penting, tetapi harus didukung dengan perubahan ekonomi secara mendasar.

Saya dan kolega saya memperkirakan bahwa investasi sebanyak 1,2% dari PDB global dalam paket pemulihan ekonomi dapat menjaga kenaikan suhu global di bawah 1,5C.

Jika tidak, di masa depan kita akan menghadapi dampak yang jauh lebih parah dan biaya yang lebih tinggi.

Sayangnya, investasi hijau tidak dilakukan pada tingkat yang dibutuhkan.

Meski demikian, akan ada lebih banyak investasi dalam beberapa bulan ke depan.

Tindakan iklim yang kuat harus diintegrasikan ke dalam investasi masa depan. Taruhannya mungkin nampak tinggi, tetapi potensi imbalannya jauh lebih tinggi.

Piers Forster adalah profesor perubahan iklim dan direktur Pusat Internasional Priestley untuk Iklim di Universitas Leeds.

(sumber:bbcindonesia.com)​​​​