Banjir di NTT: Pejabat Salahkan Warga dengan Tuduhan Merambah Hutan, Aktivis Tuding Pemda Selalu Abaikan Lingkungan

  • Oleh : Redaksi

Selasa, 06/Apr/2021 10:54 WIB
Permukiman masyarakat di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur tertutup lumpur dan digenangi banjir. (Humas BNPB) Permukiman masyarakat di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur tertutup lumpur dan digenangi banjir. (Humas BNPB)

Jakarta (BeritaTrans.com) - Peringatan soal potensi banjir di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah muncul beberapa tahun terakhir, sebelum akhir pekan lalu banjir bandang di provinsi itu menewaskan setidaknya lebih dari 60 orang dan memaksa ribuan orang mengungsi.

Pejabat pemerintahan di salah satu kabupaten yang terdampak menyebut banjir bandang dipicu kerusakan lingkungan akibat aktivitas masyarakat.

Baca Juga:
Banjir Bandang di Flores Timur NTT, Pengiriman Bantuan Terkendala Cuaca, Korban: Kami Sangat Panik, Kami Terisolir

Namun aktivis lingkungan menyebut pemerintah tidak semestinya menyalahkan warga lokal. Dia menuding banjir ini justru terjadi karena kebijakan otoritas di NTT mengabaikan lingkungan.

Wakil Bupati Flores Timur, Agus Payong Poli, menyebut aktivitas masyarakat menyebabkan penggundulan hutan di kawasan lereng kabupaten itu.

Baca Juga:
Banjir Bandang Bukit Es Himalaya Sebabkan Ratusan Orang Hilang di India

Agus juga menyalahkan warganya yang merambah daerah aliran sungai. Dua faktor ini, menurutnya, merupakan pemicu utama banjir di Flores Timur, selain Siklon Tropis Seroja yang menyebabkan hujan lebat dan gelombang laut tinggi.

"Populasi penduduk berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan. Itu memicu penebangan lahan di daerah lereng yang sebelumnya daerah lindung," kata Agus via telepon, Senin (05/04).

"Warga juga ada yang menebang pohon untuk menanam tanaman komoditas. Itu turut membuat daerah itu rawan longsor karena penyerapan air jadi tidak ada.

"Di kawasan zona merah juga dibangun rumah. Jadi jangan heran banyak yang meninggal karena bantaran kali itu zona merah. Menurut peraturan kami, daerah aliran sungai tidak boleh dibangun apapun, sampai sekitar 25 meter," ujarnya.

Banjir

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES/ANADOLU AGENCY

Rumah warga dan sejumlah bangunan di Kabupaten Lembata, NTT, rusak diterjang banjir.

 

Agus mengeluarkan pernyataan itu untuk menjawab pertanyaan BBC Indonesia terkait peringatan soal potensi banjir yang mengintai daerahnya.

Kajian lingkungan hidup tahun 2007 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Flores Timur sudah menyebut sejumlah faktor yang berpotensi besar memicu banjir di kabupaten itu.

Selain topografi sejumlah wilayah Flores Timur yang merupakan lereng curam, disebut pula penebangan hutan yang seharusnya dilindungi.

Hal lain yang disorot dalam kajian itu adalah pertambahan penduduk, kebijakan yang tidak tepat, serta lemahnya koordinasi antarinstansi dan penegakan hukum yang tidak optimal.

Saat berita ini disusun, jumlah korban jiwa akibat banjir di Flores Timur merupakan yang terbanyak dibandingkan di sembilan kabupaten lain di NTT yang diterjang banjir.

Sudah terdapat 68 orang yang ditemukan tewas di Flores Timur, menurut Juru Bicara Badan SAR Nasional, Yudi Latief.

Angka itu bisa bertambah karena pencarian korban hingga kini masih berlangsung.

Banjir

SUMBER GAMBAR,ANTARA/PION RATULOLI

Evakuasi swadaya korban banjir dilakukan warga Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.

 

Bagaimanapun, masyarakat semestinya tidak boleh menjadi kambing hitam dalam peristiwa banjir besar ini, kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTT, Umbu Wulang.

Wulang berkata, perubahan lingkungan akibat aktivitas warga ataupun korporasi menunjukkan minimnya upaya pencegahan pemerintah.

Bukan cuma di Flores Timur, Wulang menyebut banjir di sebagian besar NTT ini adalah konsekuensi kebijakan pemerintah yang mengabaikan lingkungan.

"Adonara di Flores Timur itu pulau kecil dengan daya dukung yang terbatas. Kalau sudah terjadi penggundulan di lereng, pendidikan kepada masyarakat seharusnya juga harus masif," kata Wulang.

" Artinya pemerintah tidak bisa lepas tangan dan menyalahkan masyarakat. Pola hidup warga sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah," ucapnya.

BANJIR

SUMBER GAMBAR,EPA

Warga di Adonara, Flores Timur. Sulitnya akses ke pulau-pulau kecil menghambat pencarian korban.

 

Wulang menyebut NTT rentan terguncang bencana karena daya dukung lingkungan yang rendah. Ia berkata, bentuk NTT yang kepulauan dan berada di pesisir perairan tidak cocok dieksploitasi untuk beragam jenis usaha.

Menurut Wulang, pemerintah NTT mesti segera mengubah kebijakan investasi untuk mencegah bencana berikutnya.

"Perlu pembatasan investasi yang rakus lahan dan air karena daya dukung lingkungan NTT tidak memadai untuk semua jenis investasi, baik pariwisata, monokultur atau pertambangan," ucapnya.

Merujuk data Bank Indonesia, sebagaimana dilansir kantor berita Antara, pada tahun 2020 NTT harus mendapat investasi senilai Rp37,18 triliun untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 7%.

Banjir

SUMBER GAMBAR,HUMAS BNPB

Selain permukiman dan bangunan publik, banjir di Flores Timur juga merusak akses transportasi.

 

Dalam sebuah pernyataan November lalu, Gubernur NTT Victor Laiskodat berkata akan melakukan apapun untuk mempermudah investor di provinsinya.

Laiskodat mengatakan itu pada seremoni panen garam industri PT Inti Daya Kencana, di Kabupaten Malaka.

"Sebagai gubernur, saya sangat serius mendorong investasi. Pro kontra itu biasa di dunia manapun," kata Victor.

"Tetapi harus kita yakin sebagai pemimpin, baik gubernur maupun bupati, bahwa ini pilihan terbaik di mana rakyat Malaka menata masa depan lebih baik, maka ini harus dilakukan.

"Saya tidak back up tapi saya berdiri di depan menjaga siapapun yang akan mengganggu para pengusaha.

"Lain halnya pengusaha curi kekayaan NTT maka siap berhadapan dengan gubernur," ujarnya kala itu.

Banjir

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES/ANADOLU AGENCY

Korban tewas akibat banjir di Kabupaten Lembata dievakuasi oleh warga setempat.

 

Proses evakuasi dan penyaluran bantuan korban banjir di NTT terhambat cuaca buruk dan akses transportasi yang terputus.

Jembatan Benenain di Kabupaten Malaka, misalnya, ambruk. Akses darat antarkecamatan di daerah itu pun akhirnya terputus.

Nalle Anggi, warga Desa Forekmodok di Malaka, mengaku secara mandiri mengevakuasi diri bersama keluarga saat banjir setinggi tiga meter menerjang permukimannya.

Anggi kini mengharapkan pengungsian yang lebih layak untuk keluarga dan para tetangganya. Apalagi, kata dia, mereka melarikan diri tanpa membawa bekal makanan dan kebutuhan dasar lainnya.

"Setelah kami ke tempat evakuasi, air banjir sekarang malah makin bertambah. Jadi kami berharap benar-benar dievakuasi karena hari ini lebih parah dari kemarin.

"Banyak juga yang dibutuhkan. Logistik sama sekali tidak ada, seperti pakaian, kebutuhan bayi dan lansia," kata Anggi.

Banjir

SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES/ANADOLU AGENCY

Warga Kabupaten Lembata mengevakuasi diri secara swadaya dari permukiman mereka yang dilanda banjir.

 

Berbagai pihak kini menjanjikan bantuan untuk pengungsi di NTT, termasuk menyalurkannya dengan pesawat.

Di sisi lain, Wakil Bupati Flores Timur, Agus Poli, menyebut pemerintahannya kekurangan dana darurat. Agus berkata, dana alokasi umum untuk penanganan bencana dipotong untuk penanganan pandemi Covid-19.

(sumber:bbcindonesia.com)