Tes GeNose Kini Tersedia Gratis di Terminal Bus

  • Oleh : Fahmi

Kamis, 08/Apr/2021 20:03 WIB
Terminal tipe A Tanjung Priok, Jakarta Utara. Terminal tipe A Tanjung Priok, Jakarta Utara.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Layanan tes GeNose Covid-19, hari ini mulai tersedia di terminal penumpang Tipe A. Terminal tipe ini berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP). 

"Penggunaan alat GeNose resmi digunakan di terminal Tipe A," kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dalam Rapat Koordinasi Teknis Perhubungan Darat Tahun 2021, Kamis (8/4/2021). 

Baca Juga:
Imbas Larangan Mudik, Agen Penjualan Tiket Bus di Bulak Kapal Bekasi Merana

Budi sempat berinteraksi secara virtual dengan pihak Dinas Perhubungan Darat yang sedang memantau penggunaan GeNose di Terminal Leuwi Panjang dan Terminal Terpadu Merak. 

Diketahui bahwa tes GeNose bagi calon penumpang diberikan secara random dengan sampel antara 10 sampai 20 orang. Budi meminta tes tersebut diprioritaskan bagi calon penumpang yang kelihatan kurang sehat. 

Baca Juga:
Mudik Dilarang, Sopir Bus AKAP: Mudik 2 Tahun Berturut-turut Keluarga Rayakan Lebaran Dalam Kesusahan

"Jadi tolong lakukan, tapi untuk random juga dilihat kira-kira siapa yang potensial, katakanlah mereka yang agak lemas, dan batuk-batuk. Nah, itu diajak untuk periksa karena indikasi mereka yang terkena Covid biasanya batuk, lemas. Jangan semua orang yang datang dilakukan GeNose," jelas Budi. 

Calon penumpang yang dites menggunakan GeNose pun dipastikan tidak dipungut biaya. Layanan tersebut disediakan secara gratis. 

Baca Juga:
Sampah Terbang dari dalam Bus ke Jalan Tol Bikin Geram

Budi Karya juga sempat menyinggung pandemi virus Corona amat menekan bisnis transportasi darat. Hal itu terjadi seiring diberlakukannya sistem kerja dari rumah (work from home/WFH), serta penerapan protokol kesehatan yang membatasi operasional angkutan umum. 

"Di tengah pandemi Covid-19 tentu banyak hal yang menjadi satu masalah, dan sektor darat mengalami suatu problem yang besar karena memang secara keseharian work from home, protokol kesehatan yang ketat membuat kita pemangku kebijaksanaan memang melakukan protokol kesehatan dengan ketat, dan ini membuat kinerjanya tidak maksimal," jelasnya.(fh/sumber:detikfinace)