Larangan Mudik, Pengemudi Bus Slawi-Bekasi: Mau Makan Apa Anak-Anak Kalau Enggak Nyopir?

  • Oleh : Fahmi

Minggu, 02/Mei/2021 16:01 WIB
Pengemudi bus PO Dedy Jaya jurusan Bekasi-Slawi, Abdul Warin tengah menunggu busnya terisi lebih banyak penumpang untuk diberangkatkan. Pengemudi bus PO Dedy Jaya jurusan Bekasi-Slawi, Abdul Warin tengah menunggu busnya terisi lebih banyak penumpang untuk diberangkatkan.

BEKASI (BeritaTrans.com) - Keberangkatan bus antarkota antarpropinsi (AKAP) di Terminal Kota Bekasi masih sepi penumpang menjelang larangan mudik, pada Ahad (2/5/2021). 

Hal itu dirasakan oleh pengemudi bus jurusan Slawi, Jawa Tengah bernama Abdul Warin 62 tahun, yang tengah menaikkan penumpang bus PO Dedy Jayanya di Terminal Tersebut. 

Baca Juga:
Sopir Bus TransJakarta Tewas Ditusuk di Ciracas Jaktim

"Masih sepi terminal itu, ini sudah tiga hari nginap," ujar Warin kepada BeritaTrans.com. 

Warga Pasar Batang, Brebes ini juga mengeluhkan para kru bus nantinya tidak ada pekerjaan lain, lantaran larangan mudik selama 12 hari, dari 6-17 Mei mendatang. 

Baca Juga:
Cerita Sopir Angkot Saat BBM Naik, Hakim Sudrajat Cuma Dapat Rp20 Ribu Sehari

"Kami kru-kru ini mau kasih makan apa anak-anak di rumah," kata bapak empat anak ini. 

Kakek dari lima cucu ini berharap busnya, bisa jalan beroperasi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan agar mendapatkan pendapatan untuk kehidupan sehari-hari. Namun, kebijakan pemerintah sudah ditetapka untuk melarang mudik dan terminal tidak beroperasi bagi bus AKAP. 

Baca Juga:
Sopiri Bus Sempati Star Bakasi-Medan, Adi Tetap Perlente Selama 3 Hari di Jalan, Begini Aksinya!

"Kemarin dari Timur(Slawi) bawa dua orang penumpang," ucapnya. 

Diungkapkan Warin, saat ini gajinya didapat dari sistem uang bekal atau sangu dari Slawi ke Bekasi untuk pulang pergi (PP) ialah Rp1,4 juta. Dari sisa uang dan kelebihan operasional tersebut  itulah dia mendapatkan gaji untuk dibagi dua bersama keneknya. 

"Kita sistemnya sangu, misalnya Rp1,4 juta, kalau lebih itu buat kru," ungkapnya. 

Terlebih lagi, jika bus harus menginap atau perpal lantaran harus bergantian untuk mendapatkan penumpang yang semakin sepi sampai berhari-hari, gajinya semakin banyak berkurang lantaran harus mengeluarkan uang untuk bertahan di terminal. 

"Kalau menginap begini, risiko sendiri abis uang sangunya," katanya. 

Diketahui bus PO Dedy Jaya selama pandemi sudah menaikkan harga tiket tujuan Bekasi-Slawi lantaran penumpangnya menurun drastis. Harga yang dulunya Rp120 ribu kini menjadi Rp200 ribu. 

BeritaTrans.com melihat di Terminal Bekasi terdapat beberapa unit bus Dedy Jaya jurusan Slawi dan Pekalongan yang secara bergantian akan berangkat. Bus itu juga akan menunggu kecukupan penumpang terlebih dahulu. 

"Paling Insyaallah malam ini berangkat kalau ada penumpang yang di dibelakang mobil saya itu," kata Warin. 

Jumlah penumpang yang kurang harus menunggu lama lagi, lantaran penumpang banyak yang akan berangkat secara mendadak. 

Warin ialah pengemudi yang sudah bergabung di PO Dedy Jaya jurusan tersebut selama 20 tahun. Sebelumnya dia adalah pengemudi taksi di Jakarta. 

"Sebelumnya taksi Jakarta. Taksi apa saja saya pernah, dari setoran Rp13 ribu sampai setoran Rp 300 ribu," pungkasnya. (fahmi)