Wujudkan Transportasi Modern di Jawa Timur, Balitbanghub Kaji Bareng ITS

  • Oleh : Naomy

Jum'at, 28/Mei/2021 16:23 WIB
Pertemuan Balitbanghub dan ITS Surabaya Pertemuan Balitbanghub dan ITS Surabaya


SURABAYA (BeritaTrans.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melakukan kunjungan ke Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya untuk mematangkan substansi Kajian Kebijakan Penyelenggaran Autonomous Rail Rapid Transit (ART) di Jawa Timur yang komprehensif, Kamis (27/5/2021). 

Baca Juga:
Kemenhub Siapkan Perwira Transportasi Darat yang Adiktif dan Kompetitif Menghadapi Era Industri 4.0

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak dan segenap jajaran ITS.

Kepala Badan Litbang Perhubungan (Balitbanghub) Umar Aris mengatakan, pihaknya bersama ITB, UGM dan ITS telah menyusun Naskah Akademik Regulasi Penyelenggaraan ART sebagai pedoman penyelenggaraan ART. 

Baca Juga:
Sambut Harhubnas, Balitbanghub Gelar Donor Darah dan Plasma Konvalesen

"Banyak hal dibahas pada pertemuan ini antara lain membahas legal aspek teknis, operasional, tata ruang, ekonomi, serta dampak lingkungan dalam penyelenggaraan ART," jelas Umar.

Terdapat beberapa hal yang dikemukakan pada pertemuan tersebut guna mempersiapkan transformasi transportasi di Provinsi Jawa Timur. 

Baca Juga:
Manfaat Digitalisasi Dokumen Logistik Hasil Kajian Balitbanghub

Di antaranya posisi perencanaan ART sebagai bagian dari rencana induk transportasi perkeretaapian Indonesia, peran ART sebagai penghubung pusat pertumbuhan ekonomi, penyesuaian dalam menggunakan jaringan jalan, spesifikasi prasarana dan fasilitas ART yang mendukung, serta hak dan kewajiban dari stakeholder yang terlibat.

Sebagai tindak lanjut Perpres 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan, pada tataran penyelenggaraan transpotasi jalan berbasis listrik di Surabaya diterbitkan Perpres  Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik – Bangkalan – Mojokerto – Surabaya – Sidoarjo – Lamongan, Kawasan Bromo – Tengger – Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis, dan Lintas Selatan. 

“Kami menunggu kebijakan pak Wagub terkait dengan perpres tersebut dan tindak lanjut dari Naskah Akademik Regulasi Penyelenggaraan ART pada tataran kebijakan daerah sesuai kewenangannya, kerangka regulasinya seperti apa, ruang pemenfaatannnya sesuai tata ruang, kemudian integrasi moda transportasi,  ini tentunya butuh kerangka hukumnya,” urainya.

Wakil Gubernur Emil Dardak menyambut baik sistem transportasi modern dan ramah lingkungan ini untuk diterapkan di Kota Surabaya dan sekitarnya, melalui Kajian Kolaboarsi antara Tim Peneliti ITS dan Balitbanghub terkait Kebijakan Implementasi ART di Surabaya.

"Secara strategis, Kota Surabaya sudah siap. Begitu pula aglomerasi Kota Surabaya, Kab. Gresik dan Kab. Sidoarjo," kata Emil.

Meski rencana penyediaan ART sudah masuk dalam kajian awal, Emil tetap mengingatkan pentingnya soal regulasi, teknis, rute dan biaya penyediaannya.  

Dari beberapa poin yang disebutkan, dia mengaku, salah satu poin paling penting untuk bisa mewujudkan penyediaan ART adalah memperhatikan ketersediaan infrastruktur serta konektivitas kesesuaian jaringan jalan.

"Ilmu jalan dengan ilmu kereta api harus komprehensif. Ini penting dan harus memadai," ungkapnya.

Saat ini rencana pengembangan ART  telah dimasukan dalam revisi rencana tata ruang wilayah Kota Surabaya tahun 2014 – 2034 dan detail tata ruang dan peraturan zonasi Kota Surabaya tahun 2018 – 2038. 

Terdapat tiga rencana trase alternatif yang akan diterapkan berdasarkan kajian yang dilakukan Balitbanghub bersama  ITS Surabaya.

Untuk trase alternatif satu akan dimulai dari Pelabuhan Ujung memutar di Stasiun Pasar Turi, dan berakhir kembali di Pelabuhan Ujung. 

Trase alternatif 2 akan dimulai dari Stasiun Pasar Turi, mengarah ke Pulau Madura melalui Jembatan Suramadu dan berakhir kembali di Stasiun Pasar Turi. Sedangkan untuk trase alternatif 3 akan dimulai dari Stasiun Pasar Turi, melewati bagian utara Kota Surabaya, mengarah ke Pulau Madura melalui Jembatan Suramadu dan berakhir kembali di Stasiun Pasar Turi. 

Senada dengan Wagub, Rektor ITS Mohammad Ashari mengatakan bahwa rencana penyelenggaraan ART ini harus dapat disubtitusikan dengan rencana pembangunan daerah provinsi Jawa Timur yang sudah ada. 

Jika dilihat dari segi teknis, ART merupakan moda transportasi kereta yang akan berjalan di jalan raya, sehingga perlu koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait.

“Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah ingin meningkatkan kereta api Sidoarjo – Surabaya, ini harus bisa disubtitusi, tidak boleh tabrakan, sehingga perlu koordinasi dan perencanaan matang, itulah yang akan dilakukan ITS dengan seluruh stakeholder,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Badan Litbang Perhubungan Pandu Yunianto, Kepala Puslitbang Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Eddy Gunawan, Kepala Puslitbang Transportasi Laut dan SDP Gunung Hutapea, Kepala Pusbang SDM Perhubungan Laut Sahattua, Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya Capt Dian Wahdiana, Ketua Tim Teknis Penyusunan  Naskah Akademik Regulasi ART di Indonesia Peneliti Madya Mutharuddin dan Koordinator Tim Peneliti ART ITS untuk Kota Surabaya Hera Widyastuti. (omy)