Pesawat terakhir AS tinggalkan Kabul, Taliban kuasai bandara - `Akhir perang selama 20 tahun, tapi babak baru yang serba tidak menentu untuk warga Afghanistan`

  • Oleh : Redaksi

Selasa, 31/Agu/2021 13:10 WIB
Pesawat evakuasi terakhir AS meninggalkan Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, sebelum tenggat waktu yang jatuh Selasa (31/08), yang mereka sepakati dengan Taliban. Foto: BBCIndonesia.com. Pesawat evakuasi terakhir AS meninggalkan Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, sebelum tenggat waktu yang jatuh Selasa (31/08), yang mereka sepakati dengan Taliban. Foto: BBCIndonesia.com.

AFGHANISTAN (BeritaTrans.com) - Amerika Serikat menyelesaikan penarikan pasukan dan evakuasi warga sipil dari Afghanistan, Senin (30/08) malam. 

Setelah pertempuran selama 20 tahun, Afghanistan kini kembali dikendalikan Taliban.

Baca Juga:
Kala Korut Bela Rusia Sembari Tuding AS di Balik Invasi Ukraina

Sementara itu, pasukan khusus Taliban dilaporkan telah berada di bandara Kabul dan mengamankan lokasi itu.

AS menyatakan telah mengevakuasi 123.000 warga sipil dari negara itu sejak 14 Agustus lalu. Sekitar 6.000 orang yang dievakuasi itu berstatus warga negara AS.

Baca Juga:
4 Negara Bagian di AS Berencana Cabut Mandat Masker

Ini merupakan misi evakuasi non-kombatan terbesar dalam sejarah militer AS.

Klaim ini dikatakan pimpinan Korps Marinir AS, Jenderal Frank McKenzie, yang bertanggung jawab atas misi militer itu.

Baca Juga:
Seekor Ayam Nyasar sampai ke Markas Pentagon, Bikin Geger

Terdapat ribuan warga sipil lain yang diangkut keluar Afghanistan oleh negara koalisi AS. 

Namun banyak warga Afganistan yang gagal mengikuti program evakuasi walaupun selama ini telah bekerja untuk kepentingan negara-negara koalisi.

Setelah pesawat terakhir AS tinggal landas dari Bandara Internasional Hamid Karzai, letupan senjata terdengar di sejumlah titik di sekitar bandara.

Sejumlah pasukan Taliban dilaporkan juga merayakan kepergian pasukan AS di jalanan.

Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken, menyebut pemerintahannya akan memulai hubungan baru dengan Afghanistan.

"Kami akan memimpin dengan diplomasi. Misi militer telah berakhir. Misi diplomasi yang baru sudah kami mulai," kata Blinken.

Pemerintah AS, kata Blinken, akan membuka kantor diplomasi khusus di Doha, Qatar, untuk mengurus hubungan dengan Afghanistan.

Blinken berkata, pemerintahnya hanya akan terlibat dengan pemerintah Taliban jika urusan itu menyinggung kepentingan nasional AS.

Walau AS tengah memindahkan kantor diplomasi mereka ke Doha, Blinken berjanji akan terus mengupayakan evakuasi warga mereka dan orang-orang Afghanistan yang memegang paspor AS.

Menurut Kepala Koresponden BBC untuk Isu Internasional, Lyse Doucet, masyarakat Afghanistan akan menghadapi transisi kekuasaan yang serba tidak menentu.

Sekitar 38 juta warga Afghanistan, kata Doucet, tengah mengalami ketidakpastian soal peraturan baru yang akan diterapkan Taliban.

Pertanyaan terbesar yang mengemuka adalah tentang keputusan Taliban untuk menerapkan lagi regulasi ekstrem atau benar-benar memperbarui hukum seperti yang mereka janjikan belakangan ini.

Doucet berkata, banyak warga Afghanistan merujuk peraturan yang diterapkan Taliban di pedesaan. Mereka cemas regulasi itu diperluas dan dijalankan dengan cara yang lebih ekstrem.

"Besok akan menjadi permulaan babak baru dari perang panjang ini. Perang terlama AS telah selesai, tapi pertarungan yang dihadapi warga Afghanistan jelas belum usai," kata Doucet.

Sebuah video amatir yang beredar di media sosial menunjukkan anggota Taliban berjalan masuk ke bandara Kabul. BBC tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian rekaman itu.

Sekelompok laki-laki dalam video itu, yang diduga milisi Taliban, berjalan ke sejumlah titik sambil menggambarkan apa yang mereka lihat ke kamera. Sejumlah pesawat terlihat.

Seorang laki-laki menunjuk pesawat itu dan berkata, "Alhamdulillah. Semua pesawat diparkir di sana. Kami telah memasuki lapangan bandara. Tidak ada masalah. Alhamdulillah."

Seorang laki-laki lain dalam video itu ditanya apakah dia memiliki pesan untuk publik. Dia menjawab, "Pesan saya adalah jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja. Terima kasih kepada Allah."

Barbara Plett Usher, Jurnalis BBC News di Washington

Di Kementerian Luar Negeri AS, para diplomat telah berusaha maksimal untuk mengeluarkan sebanyak mungkin orang dari Kabul dalam dua minggu terakhir. 

Misi evakuasi itu akan dilanjutkan melalui sarana diplomatik setelah pasukan tempur AS pergi dari Afganistan. 

Presiden AS, Joe Biden, mengatakan target dalam misi perang AS sebenarnya sudah dicapai bertahun-tahun yang lalu, yaitu saat mereka membunuh Osama bin Laden dan menjatuhkan Al Qaeda.

Biden menyebut tidak akan lagi menempatkan pasukan Amerika di tengah perang saudara.

Namun saya ingat, saya pernah mendengar kata-kata seperti itu beberapa tahun-tahun yang lalu, tidak lama setelah invasi tahun 2001, ketika saya tinggal di Afganistan. 

Wartawan dan pakar dulu menyebut AS bergabung ke salah satu pihak dalam perang saudara melawan Taliban. 

AS seharusnya tidak memperlakukan Taliban seperti Al Qaeda, begitu saya diberitahu saat itu. Taliban adalah milisi Islam tapi bukan teroris internasional.

Saya memikirkan itu sekarang. Tidak diragukan lagi, misi AS memberdayakan orang-orang yang ditindas Taliban. Tapi dua puluh tahun setelah keterlibatan AS, justru Taliban yang merayakan kemenangannya.

AS selidiki insiden korban warga sipil akibat serangan drone

Sementara itu, militer Amerika Serikat mengatakan tengah menyelidiki laporan bahwa serangan pesawat tak berawak mereka di Afghanistan, yang diklaim untuk menghentikan serangan di Kabul, telah menewaskan warga sipil.

Serangan pesawat tak berawak pada Minggu (29/08) itu menewaskan 10 anggota keluarga, termasuk enam anak, menurut sanak keluarga mereka.

Ramin Yousufi, saudara para korban mengatakan kepada BBC bahwa anak-anak yang terbunuh berusia antara empat sampai 12 tahun.

Yousufi mengatakan keluarga itu dikenal dengan kerja sosial mereka dalam dua dekade terakhir dan bahwa mereka tak terkait dengan kelompok Islamic State-Khorosam atau ISIS-K, yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan di bandara Kabul pekan lalu.

"Serangan itu salah, serangan brutal ... dan terjadi karena informasi yang salah," kata Yousufi.

"Mengapa mereka membunuh keluarga kami? Anak-anak kami? Tubuh mereka begitu hangus dan kami tak dapat mengenali tubuh dan wajah mereka," katanya menangis.

Serangan drone milik AS menargetkan kendaraan yang membawa setidaknya satu orang, yang diduga terkait kelompok afiliasi ISIS di Afghanistan, ISIS-K.

Taliban menyebut serangan itu ilegal.

Juru bicara Pentagon, John Kirby mengatakan mereka "tengah menyelidiki laporan ini".

"Perlu diketahui, tak ada militer di dunia ini yang bekerja lebih keras untuk mencegah jatuhnya korban sipil dibandingkan militer Amerika Serikat, dan tak ada yang ingin adanya korban tak berdosa," kata Kirby.

"Kami sangat, sangat serius, dan ketika kami tahu ada korban tak berdosa dalam operasi kami, kami akan transparan," tambahnya.

Namun mereka mengakui serangan itu menimbulkan ledakan kedua.

Kirby juga mengatakan AS menyelidiki berbagai informasi dan "berusaha sekeras mungkin untuk memahami situasi di lapangan".

"Langkah kami termasuk diskusi dengan Taliban tentang apa yang mungkin mereka lihat."

Namun ia juga membela informasi intelijen tentang "apa yang kami yakini sangat benar, sangat spesifik dan ancaman yang sangat dekat" atas bandara Kabul, tentara dan warga sipil di dekat.

Pada Senin (30/08), beberapa roket dilepaskan ke arah bandara Kabul, dan kelompok ISIS-K mengatakan mereka yang bertanggung jawab.

Kelompok itu mengatakan dalam akun sosial media mereka bahwa serangan itu "berhasil" namun para pejabat mengatakan lima roket berhasil dicegah.

Sebelumnya, pejabat di Komando Pusat AS, Kapten Bill Urban, menyebut pihaknya melakukan serangan pesawat tak berawak untuk mencegah ancaman ke Bandara Internasional Hamid Karzai.

"Kami yakin kami berhasil mencapai target. Ledakan kedua di kendaraan itu menunjukkan sejumlah besar bahan peledak," ujarnya, Minggu (29/08).

Urban berkata, pihaknya mengetahui informasi soal jatuhnya korban warga sipil akibat serangan tersebut. 

"Tidak jelas apa yang mungkin terjadi. Kami sedang menyelidiki lebih lanjut," tuturnya.

Pusat Komando Militer AS, kata Urban, akan "sangat menyesali potensi hilangnya nyawa tak berdosa".

Menurut berbagai sumber, ledakan keras terdengar di dekat bandara Kabul. Beberapa gambar di media sosial menunjukkan asap hitam yang membumbung ke udara di atas gedung-gedung.

Sebelum ledakan ini, militer AS menyatakan telah menerima ancaman yang "spesifik dan kredibel" terhadap bandara di Kabul. Di satu sisi, AS mengungkap rencana serangan yang mereka anggap perlu.

AS menyarankan warga Kabul untuk menjauh dari daerah sekitar bandara. 

Secara terpisah kepolisian di Kabul menyebut seorang anak tewas akibat serangan roket di sebuah rumah di dekat bandara. Namun mereka tidak merinci serangan tersebut.

Kamis pekan lalu, sebuah serangan bom di bandara itu menewaskan setidaknya 170 orang, termasuk 13 tentara AS.

Sebuah kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Afganistan, ISIS-K, mengaku berada di balik pemboman tersebut.

Satu hari setelahnya, AS meluncurkan serangan pesawat tak berawak di kawasan timur Afghanistan. AS membuat klaim bahwa serangan itu menewaskan dua pimpinan ISIS-K.

Presiden AS, Joe Biden, Minggu kemarin bertemu dengan keluarga dari 13 tentara yang tewas dalam serangan di bandara Hamid Karzai.

Dari sekitar 170 korban tewas akibat serangan ISIS-K, puluhan di antaranya merupakan warga Afghanistan yang mengantre di bandara. Mereka berada di bandara dengan harapan dapat meninggalkan Afganistan. 

Dua korban tewas dalam serangan ISIS-K tercatat sebagai warga negara Inggris.

Sebagian besar dari beberapa ribu ekstremes ISIS-K diyakini bersembunyi di provinsi Nangarhar

Batas waktu untuk misi evakuasi tentara dan warga AS dari Afgansitan adalah Selasa, 31 Agustus besok.Tanggal itu disepakati AS dan Taliban.

Di sisi lain, AS berkata akan terus mengevakuasi warga Afghanistan dari bandara di Kabul hingga "saat terakhir".

AS akan menjadi negara terakhir yang menyelesaikan misi perang di Afganistan. Penerbangan terakhir yang memulangkan pasukan Inggris, misalnya, sudah tiba di pangkalan Angkatan Udara di Oxfordshie, Minggu kemarin.

AS menyatakan telah memfasilitasi evakuasi lebih dari 110.000 orang dari bandara Hamid Karzai sejak 14 Agustus lalu atau sehari sebelum Taliban menguasai Kabul

Wartawan BBC, Lyse Doucet, yang berada di Kabul, mengatakan dia dan rekan-rekannya masih menerima pesan SOS mendesak dari warga Afghanistan yang merasa terancam oleh Taliban. Pesan yang diterimanya berasal antara lain darimusisi, mahasiswa dan politikus perempuan.

Banyak dari mereka merasa mereka tidak dapat merengkuh masa depan yang telah mereka persiapkan setelah dua dekade keterlibatan pasukan internasional. Douchet berkata, sebagian dari mereka menyebut Taliban membatasi ruang gerak mereka.

Siapa dua pimpinan ISIS-K yang tewas dalam serangan AS? 

Dua orang itu digambarkan sebagai perancang dan seorang fasilitator. Masih belum jelas apakah mereka terlibat langsung dalam rencana serangan bom bunuh diri di bandara Kabul.

"Serangan ini bukan yang terakhir. Kami akan terus melanjutkan perburuan siapa pun yang terlibat dalam serangan keji, dan membuat mereka membayarnya," kata Biden dalam sebuah pernyataan yang dirilis Sabtu.

ISIS K merupakan kelompok paling keras dan ekstrem dari semua kelompok yang terkait dengan Taliban di Afghanistan, yang sekarang mengusai sebagian besar negara itu. Kelompok ISIS-K menuduh Taliban mengabaikan peperangan untuk negosiasi perdamaian dengan Amerika.

Di sisi lain, pihak Taliban mengutuk serangan udara melalui pesawat tanpa awak, dan mengatakan AS semestinya berkonsultasi dengan mereka terlebih dahulu, kata juru bicaranya kepada kantor berita Reuters.

Diluncurkan dari sebuah pangkalan di Timur Tengah, tembakan roket AS dari drone Reaper itu langsung menghancurkan mobil yang dikendarai perancang serangan ISIS-K itu bersama seorang anggota lainnya. Mereka langsung tewas di tempat, ungkap pejabat AS itu. 

Kelompok ISIS-K mengaku melancarkan serangan di luar Bandara Kabul Kamis (26/8) yang menewaskan sedikitnya 170 orang, termasuk 13 tentara Amerika. 

Saat itu evakuasi besar-besaran dengan pesawat terbang tengah berlangsung sejak kelompok Taliban kembali menguasai Kabul pertengahan Agustus.

Dalam dua pekan terakhir, lebih dari 100.000 orang diyakini telah dievakuasi, saat tenggat waktu bagi pasukan AS untuk keluar dari Afghanistan akan belangsung pada Selasa 31 Agustus mendatang. 

Biden bertekad AS buru pelaku bom teror

Sebelumnya, Presiden Joe Biden berikrar AS akan memburu para pelaku serangan bom bunuh diri di luar Bandara Kabul yang menewaskan sedikitnya 170 orang, termasuk 13 tentara AS.

"Kami tidak akan memaafkan. Kami tidak akan lupa. Kami akan memburu Anda dan membuat Anda membayar," kata Biden seraya menyiratkan bahwa para pelaku mungkin berasal dari penjara yang dibuka Taliban.

Biden juga merujuk kelompok ISIS-K, yang disebut-sebut sebagai pihak yang berada di balik serangan di luar Bandara Kabul.

"Kami tidak akan gentar oleh teroris-teroris. Kami tidak akan menghentikan misi. Kami akan melanjutkan evakuasi," tegas Biden sembari menambahkan bahwa AS akan membalas para pelaku serangan pada Jumat (27/08).

Hingga Jumat (27/08), sebanyak 104.000 warga sipil telah dievakuasi dari Afghanistan, termasuk 66.000 orang dari AS serta 37.000 individu dari negara sekutu dan mitra AS.

Seorang pejabat kesehatan senior Afghanistan kepada BBC mengatakan dua ledakan di bandar udara Kabul menewaskan setidaknya 80 orang dan 140 luka-luka. Namun, jumlah korban tewas hingga Sabtu bertambah jadi 170 jiwa.

Pejabat militer AS mengatakan 13 tentara mereka tewas dalam insiden ini, bersama sejumlah warga sipil Afghanistan.

Satu ledakan terjadi di Gerbang Abbey, tempat pasukan Amerika dan Inggris bertugas membantu evakuasi. 

Ledakan kedua terjadi di satu hotel di dekatnya. 

Setidaknya satu ledakan adalah bom bunuh diri, yang terjadi tak lama setelah AS dan sekutunya menyatakan terdapat ancaman besar serangan teroris dari kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Pejabat Taliban mengatakan pengawal mereka termasuk di antara korban luka.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menggambarkannya sebagai "serangan barbar".

"Saya bisa mengatakan, telah terjadi serangan teroris yang barbar di Kabul, di kompleks bandar udara, atau di keramaian di bandara, di mana, anggota militer Amerika Serikat menjadi korban, bersama sejumlah warga sipil Afghanistan," ujar Johnson.

"Kami ingin mengucapkan belasungkawa, baik kepada Amerika maupun kepada rakyat Afghanistan."

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam unggahan di Twitter mengatakan pihaknya dengan keras mengecam ledakan ganda di area yang dikontrol oleh militer Amerika Serikat.

"Kami mengutuk pengeboman yang menyasar warga sipil di bandar udara Kabul," kata Mujahid.

Ia menambahkan ledakan terjadi di "area yang tanggung jawab keamanannya ada di tangan militer AS".

Juru bicara sekjen PBB Antonio Guterres juga mengtutuk atas insiden yang ia gambarkan sebagai "serangan teroris yang menewaskan dan menyebabkan luka-luka warga sipil di Kabul, kata juru bicara Guterres.

"Insiden ini menggarisbawahi situasi di lapangan yang tidak menentu ... tapi juga menguatkan keinginan kami untuk melanjutkan bantuan di seluruh negeri bagi rakyat Afghanistan," kata juru bicara sekjen PBB, Stephane Dujarric kepada para wartawan.

Wartawan BBC Secunder Kermani di Kabul mengatakan, "Video yang dibagikan di media sosial menjukkan tumpukan jenazah, jadi kemungkinan korban meningkat."

Unit gawat darurat rumah sakit di Kabul mengatakan sekitar 60 korban luka tiba dari bandara. 

Saat ini masih ada puluhan ribu warga Afghanistan di bandara dan berupaya meninggalkan negara itu setelah Taliban berkuasa.

Media Afghanistan, Tolo, melaporkan sejumlah orang yang terluka telah diangkut ke rumah sakit dengan kereta dorong.

Sejumlah gambar - yang diunggah di Twitter oleh media Afghanistan, Tolo, menunjukkan pria, perempuan dan anak-anak dengan balutan seadanya untuk luka di kepala - menyelamatkan diri.

Ledakan terjadi di gerbang Abbey tempat pasukan Inggris ditempatkan baru-baru ini. Gerbang ini adalah satu dari tiga gerbang yang ditutup menyusul peringatan adanya ancaman teroris.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ledakan itu disebabkan oleh pembom bunuh diri.

Sebelumnya, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris termasuk negara yang merilis peringatan tersebut kepada warga mereka. Adapun warga yang telah berada di luar bandara diimbau untuk meninggalkan area itu secepatnya.

Lebih dari 82.000 orang telah diangkut menggunakan pesawat dari Kabul, setelah kota itu jatuh ke tangan Taliban 10 hari lalu.

Sejumlah negara bergegas mengevakuasi warga mereka serta orang-orang Afghanistan sebelum tenggat pada 31 Agustus mendatang.

Taliban menolak memperpanjang tenggat tersebut, namun berjanji mengizinkan warga asing dan warga Afghan untuk meninggalkan negara itu setelah 31 Agustus, menurut Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken.

Pada Kamis (26/08), Menlu Australia Marise Payne menyatakan: "Saat ini terdapat ancaman serangan teroris yang sangat besar."

Pernyataan itu mengemuka setelah Deplu AS mengimbau warganya yang menunggu di Gerbang Abbey, Gerbang Timur, atau Gerbang Utara Bandara Kabul untuk "segera pergi".

Pemerintah Inggris mengeluarkan imbauan serupa, yaitu agar warga di sana "menjauh ke lokasi aman dan menunggu anjuran selanjutnya".

Kemlu Inggris mengatakan situasi keamanan di Afghanistan "tetap berbahaya" dan ada "ancaman besar serangan teroris".

Menurut Departemen Pertahanan AS, ada sekitar 10.000 orang sedang menunggu dievakuasi dari Kabul menggunakan pesawat-pesawat AS. Dikhawatirkan masih ada ribuan orang Afghanistan yang ingin meninggalkan negara mereka, namun tidak bisa mencapai bandara.

Bandara Kabul saat ini dijaga oleh 5.800 tentara AS dan 1.000 tentara Inggris.

Pada Kamis (26/08), Menlu Australia Marise Payne menyatakan: "Saat ini terdapat ancaman serangan teroris yang sangat besar."

Pernyataan itu mengemuka setelah Deplu AS mengimbau warganya yang menunggu di Gerbang Abbey, Gerbang Timur, atau Gerbang Utara Bandara Kabul untuk "segera pergi".

Pemerintah Inggris mengeluarkan imbauan serupa, yaitu agar warga di sana "menjauh ke lokasi aman dan menunggu anjuran selanjutnya".

Kemlu Inggris mengatakan situasi keamanan di Afghanistan "tetap berbahaya" dan ada "ancaman besar serangan teroris".

Menurut Departemen Pertahanan AS, ada sekitar 10.000 orang sedang menunggu dievakuasi dari Kabul menggunakan pesawat-pesawat AS. Dikhawatirkan masih ada ribuan orang Afghanistan yang ingin meninggalkan negara mereka, namun tidak bisa mencapai bandara.

Bandara Kabul saat ini dijaga oleh 5.800 tentara AS dan 1.000 tentara Inggris.

Taliban merebut dan menguasai ibukota Afghanistan, Kabul, pada 15 Agustus lalu atau 20 tahun setelah mereka digulingkan Amerika Serikat dan sekutunya dari kekuasaan. Seperti apa kehidupan di kota itu setelah dikendalikan Taliban?

Pasukan Taliban ada di berbagai titik di Kabul, termasuk di pos-pos pemeriksaan yang dulunya merupakan barikade polisi atau tentara Afganistan.

Kepanikan tidak begitu terlihat di Kabul, Senin (16/08). Ini berbeda dengan satu hari sebelumnya,

Pada Selasa (17/08), jalan-jalan masih kosong, sangat sedikit kendaraan di jalan raya.

Warga takut dan merasa kondisi dapat berubah menjadi buruk kapan saja, jadi mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah.

Kondisi di tengah kota Kabul ini sangat berbeda dengan bandar udara, tempat banyak orang berbondong-bondong dan mencoba meninggalkan Afghanistan.

Di sejumlah lokasi, pasukan Taliban mengatur lalu lintas. Mereka menggeledah mobil, terutama kendaraan yang dulunya milik polisi dan tentara. 

Mereka telah mengambil semua kendaraan itu dan menggunakannya.

Kalaupun ada orang yang mengaku Taliban mengendarai kendaraan itu, dia tetap dihentikan di pos pemeriksaan. Pasukan Taliban berkata kepada kami bahwa mereka ingin memastikan para pengendara itu bukan penjarah atau pencuri yang menyamar sebagai anggota Taliban.

Sementara itu yang terjadi di bandara adalah sebuah 'bencana'. Ada banyak keluarga, terdiri dari anak-anak, orang tua, orang muda, semuanya berjalan di jalur pesawat sepanjang dua kilometer.

Mereka berjuang melarikan diri dari Afganistan. Sebagian besar dari mereka hanya menunggu, di sekitar bandara. Jumlah mereka lebih dari 10.000 orang. 

Di dekat gerbang masuk utama bandara, pasukan Taliban dengan senjata berat terlihat mencoba membubarkan kerumunan dengan menembak ke udara.

Orang-orang yang ingin masuk lalu memanjat tembok, gerbang, bahkan kawat berduri. Setiap orang mendorong untuk masuk.

Kami berbicara dengan seorang saksi mata yang terjebak di bandara pada hari Minggu lalu. Dia memiliki jadwal penerbangan ke Uzbekistan, tapi pesawat itu batal terbang. 

Para pimpinan dan karyawan bandara telah kabur dari tempat kerja mereka.

Orang-orang datang ke bandara tanpa tiket atau paspor. Mereka berpikir bisa naik pesawat apa saja dan bisa terbang ke tempat lain di dunia, kata seorang saksi mata.

Ribuan orang terjebak di dalam bandara, tanpa makanan atau air. Ada banyak perempuan, anak-anak, dan difabel.

Namun jika Anda pergi ke pusat Kabul, kehidupan tampak normal. Lalu lintas terlihat lengang. Sebagian besar toko tutup.

Meski begitu, warga tampak jauh lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya, saat banyak orang terlihat sangat marah. Ketika itu terjadi kemacetan yang parah.

Saya hanya melihat beberapa perempuan di jalan, beberapa dari mereka berjalan tanpa pendamping. Beberapa perempuan mengenakan burka biru, tapi saya juga melihat beberapa mengenakan masker wajah dan jilbab. Dan pasukan Taliban terlihat tidak mengusik mereka. Saya hanya melihat beberapa perempuan di jalan, beberapa dari mereka berjalan tanpa pendamping. Beberapa perempuan mengenakan burka biru, tapi saya juga melihat beberapa mengenakan masker wajah dan jilbab. Dan pasukan Taliban terlihat tidak mengusik mereka.

Di jalanan sama sekali tidak terdengar alunan musik. Biasanya hotel memainkan musik, tapi itu tak terjadi lagi. Staf hotel terlihat takut.

Namun, kota ini masih terus berjalan. Nuansanya tenang. Saya belum berbicara dengan banyak penduduk, tapi sopir taksi lokal yang mengantar saya berkata dia tidak ambil pusing soal Taliban yang kini menguasai negara.

Anehnya, saya melihat orang-orang menyapa milisi Taliban. Mereka antara lain mengatakan, "Halo, lebih banyak kekuatan untuk Anda, semoga berhasil".

Pasukan Taliban juga tampak bahagia. Saya berbicara dengan beberapa dari mereka, termasuk yang sedang berpatroli. 

Kami mencoba masuk ke istana kepresidenan tapi mereka tidak mengizinkan kami. Mereka bilang kami butuh izin dari komando yang lebih tinggi. Namun para milisi yang saya lihat itu ramah kepada kami.

Saya sebenarnya agak takut kemarin, cemas akan terjadi kekerasan dan hal-hal lainnya. Tapi untungnya tidak terjadi apa-apa. 

Kota ini begitu sunyi dan tenang. Saya tidak percaya bahwa kekuasaan atas ibu kota Afganistan ini telah berpindah tangan setelah 20 tahun. Semuanya begitu sunyi. (dn/sumber: BBCIndonesia.com)