Pesawat Komersial Pertama Mendarat di Kabul Era Taliban

  • Oleh : Fahmi

Selasa, 14/Sep/2021 23:02 WIB
Foto:Istimewa Foto:Istimewa

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Sebuah maskapai penerbangan komersial, Pakistan International Airlines (PIA) mendarat di Bandara Kabul, Senin (13/9). Pesawat ini merupakan penerbangan asing pertama sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus lalu. 

"Hampir tak ada orang di pesawat itu, sekitar 10 orang. Mungkin lebih banyak staf dari pada penumpang," kata seorang wartawan kepada AFP, yang ikut penerbangan itu. 

Baca Juga:
Qatar Airways Tambah Frekuensi Penerbangan dari dan ke Indonesia

Seorang juru bicara PIA, mengatakan pekan ini maskapai tersebut ingin melanjutkan layanan komersial reguler, namun masih terlalu dini untuk mengatakan seberapa sering penerbangan antar kedua negara itu akan beroperasi. 

Sebelumnya, bandara Kabul kacau-balau tak lama usai Taliban menduduki istana kepresidenan Afghanistan pertengahan Agustus lalu. Banyak warga asing dan penduduk yang ingin kabur dari negara itu. 

Baca Juga:
Qatar Airways Cargo adalah yang pertama menggunakan inovasi nol-emisi Gaussin: AMDT FULL ELEC

Sejumlah negara pun melakukan evakuasi, termasuk Amerika Serikat. Negara ini mengklaim telah mengangkut 122 ribu warga dari Kabul. 

Taliban sendiri, mengaku berusaha memulihkan bandara untuk penerbangan domestik maupun internasional. Mereka kemudian meminta bantuan Turki dan Qatar untuk turut menjalankan operasional bandara. 

Baca Juga:
Puluhan Perempuan Gagal Naik Pesawat dari Bandara Kabul Karena Tak Didampingi Wali atau Pedamping

Pekan lalu, Qatar Airways mengoperasikan beberapa penerbangan charter. Maskapai ini membawa sebagian besar warga asing dan penduduk lokal Afghanistan yang tak sempat dievakuasi. 

Pada 3 September lalu, Afghanistan juga sudah memulai penerbangan domestiknya. 

Selain memikirkan operasional bandara, Taliban juga sibuk dengan urusan internal pemerintahan. Pekan lalu, mereka mengumumkan kabinet interim Afghanistan. Dari semua nama yang muncul, kebanyakan dari kalangan veteran kelompok itu. 

Padahal, sebelumnya, mereka mengklaim akan membangun pemerintah yang inklusif dan melibatkan berbagai kalangan termasuk perempuan. 

Namun hari ini, pembatasan terhadap perempuan bahkan mulai terlihat. Mereka tak diizinkan berolahraga di ruang publik, ke sekolah atau kampus menggunakan burkak dan selama kegiatan belajar mengajar antara murid laki-laki dan perempuan dipisah dengan tirai. 

Taliban bahkan menyatakan perempuan tak perlu ada di pucuk kekuasaan. Karena, menurut mereka, tugas perempuan melahirkan tak bisa menjadi menteri mengurus Afghanistan.(fhm/sumber:CNN)