Peneliti: Arus Bawah Laut Sebab Celaka Kapal Selam AS-Nanggala

  • Oleh : Fahmi

Selasa, 12/Okt/2021 22:50 WIB
Arus bawah laut diduga jadi penyebab celaka kapal selam AS USS Connecticut di Laut China Selatan hingga tenggelamnya KRI Nanggala 402. (Tangkapan layar web navy) Arus bawah laut diduga jadi penyebab celaka kapal selam AS USS Connecticut di Laut China Selatan hingga tenggelamnya KRI Nanggala 402. (Tangkapan layar web navy)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Ilmuwan menduga arus bawah laut menjadi penyebab celaka kapal selam Amerika Serikat, USS Connecticut, di Laut China Selatan beberapa waktu lalu, serupa dengan kasus tenggelamnya KRI Nanggala-402 April lalu. 

Untuk itu, ilmuwan China melakukan uji coba alat pemantau di Laut China Selatan yang dapat meningkatkan kemampuan deteksi terhadap arus bawah laut atau gelombang laut dalam (internal waves) yang berpotensi membahayakan kapal selam. 

Baca Juga:
Mantap, Tren Pengguna Ferizy Angkutan Penyeberangan Naik 58 Persen

Pengujian ini dilakukan usai terjadi kasus kapal selam Amerika Serikat, USS Connecticut, yang menabrak objek tak dikenal saat menyelam di Laut China Selatan dan melukai 11 awak. 

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Earth Science Frontiers yang sudah diulas rekan sejawat, ilmuwan tersebut mengatakan 1,4 ton sensor dapat dioperasikan di dasar dan permukaan laut selama beberapa minggu untuk merespon sinyal kapal utama. 

Baca Juga:
Petromaks Kapal Nelayan Pasuruan Meledak di Laut, 10 Orang Terluka

"(Sensor akan mengumpulkan) banyak data observasi lapangan yang sangat dibutuhkan untuk mengungkap lebih jauh tentang mekanisme dari gelombang laut dalam di dasar laut," kata Professor Jia Yonggang dan Kolega di Ocean University, China seperti tertulis pada penelitian tersebut. 

Diperkirakan objek yang ditabrak oleh kapal selam AS itu adalah imbas dari gelombang laut dalam seperti dilansir dari SCMP. Gelombang serupa yang diduga jadi penyebab tenggelamnya kapal selam Nanggala yang menewaskan 53 awak di perairan utara Bali pada April lalu.  

Baca Juga:
Kapal Penangkap Ikan Angkut 9 Orang Terbalik di Korea Selatan, Ada 2 WNI

Dugaan gelombang laut dalam muncul setelah gambar satelit menunjukkan foto gelombang di wilayah terjadinya tragedi tersebut. Hingga saat ini, penyebab tenggelam kapal yang tengah melakukan latihan tersebut masih dilakukan. 

Apa itu gelombang laut dalam? 

Selain Nanggala, laporan mengenai gelombang laut dalam juga datang dari kapal selam angkatan laut Amerika yang mengatakan salah satu kapal selam nuklir mereka mengalami kerusakan setelah ditabrak objek tak dikenal di wilayah Laut China Selatan pekan lalu. 

Internal waves atau gelombang dalam terjadi di laut dan udara. Contohnya, turbulensi pesawat bisa disebabkan oleh internal waves. Sehingga internal waves dikelompokkan menjadi dua, yaitu atmospheric internal waves (gelombang dalam atmosfer) dan oceanic internal waves (gelombang laut dalam). 

Lebih lanjut gelombang laut dalam memiliki intensitas paling besar pada kedalaman 50 hingga 200 meter, yang merupakan kedalaman sebuah kapal selam biasa beroperasi. 

Jika sebuah kapal selam tertabrak oleh salah satu gelombang ini, maka kapal selam tersebut akan terbawa ke bawah (atau ke atas tergantung arah gelombang) dengan kecepatan 10 meter per menit selama 10 menit. 

Sehingga jika kapal selam tidak melakukan langkah sesegera mungkin, maka kapal selam tersebut akan terbawa ke kedalaman maksimum yang menyebabkan kerusakan lambung kapal dan membuatnya tenggelam. 

Penyebab terjadi arus bawah laut 

Gelombang bawah (internal waves) pada dasarnya terjadi ketika ada arus atau angin kuat yang berhembus melewati bukit. Ketika angin atau arus menabrak bukit, maka akan menimbulkan gelombang udara atau gelombang laut setelah melewati bukit tersebut. 

Bukit ini tidak hanya berupa kontur yang ada di darat, tapi kontur serupa juga ada di bawah laut. Gelombang yang dihasilkan pun bergerak naik turun. menyebabkan getaran pada bagian bukit yang dilalui gelombang seperti dikutip The Conversation. 

Gelombang laut dalam akan semakin besar jika bukit yang dilewati lebih curam dan gelombang yang menabrak lebih deras, dan perairan dalam laut Indonesia disebut memiliki struktur yang mendukung hal ini.(fh/sumber:CNN)