Wahyu Widayat Raih Doktor setelah Bedah Pengaruh Kinerja Logistik Nasional Terhadap Daya Saing Global

  • Oleh : Redaksi

Rabu, 13/Okt/2021 19:41 WIB


JAKARTA (BeritaTrans.com) - Wahyu Widayat berhasil mempertahankan disertasinya sehingga meraih gelar doktor ilmu ekonomi dari Universitas Borobudur, Jakarta, Rabu (13/10/2021).

Baca Juga:
Pentarifan Biaya Logistik Transportasi Laut Dibahas dalam FGD Ditjen Hubla

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) tersebut menyajikan disertasi bertema Pengaruh Kinerja Logistik, Nilai Tukar, Tingkat Suku Bunga dan Nilai Ekspor Neto terhadap Daya Saing Global setta Implikasinya pada Pertumbuhan Ekonomi (Studi Kasus Negara ASEAN dan Beberapa Negara Asia Selatan dan Asia Timur).

Ujian doktor dipimpin Rektor Universitas Borobudur Prof. Ir. Bambang Bernanthos, M.Sc. Sedangkan sidang dipimpin Wakil Rektor Universitas Borobudur, Prof. Dr. Ir. Rudi Bratamanggala, MM. 

Baca Juga:
Dosen STIP Wahyu Widayat Siap Beberkan Seputar Kinerja Logistik dan Implikasinya ke Pertumbuhan Ekonomi saat Sidang Promosi Doktor di Universitas Borobudur

"Alhamdulillah Bapak Doktor Wahyu Hidayat telah menyelesaikan studinya program doktor paska sarjana. Beliau sangat berusaha sangat keras sekali untuk menyelesaikan program studi dengan baik," ungkap Rudi Bratamanggala.

Dia mengutarakan: "Bukan hal yang mudah beliau dengan usia yang cukup, masih berhasil, masih mampu menyelesaikan dan menghasilkan suatu yang sangat berharga, khususnya logistik pelabuhan.  Alhamdulillah berjalan dengan baik, beliau semangat sukses dan berhasil sesuai dengan apa yang dituju. Beliau lulus dengan predikat sangat memuaskan."

Baca Juga:
Menteri KKP Trenggono Nilai Krakatau International Port Layak Jadi Simpul Logistik Perikanan

 

Sinopsis Disertasi

Wahyu Widayat menjelaskan, kinerja logistik difokuskan pada keenam dimensi World Bank’s Logistics Performance Index, yaitu: customs, infrastructure, international shipments, logistics services quality, tracking and tracing, timeliness.

Penelitian ini menggunakan metode eksplanatori yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan kausal dan menguji hipotesis (hypothesis testing study). 

Data sekunder yang diteliti adalah data panel antar 17 negara yaitu negara ASEAN, beberapa negara Asia Selatan dan beberapa negara Asia Timur dalam periode tahun 2007, 2010, 2012, 2014, 2016, 2018 sesuai tahun publikasi Logistics Performance Report. 

Model penelitian diformulasikan sebagai model linear rekursif dan dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda dengan panel data. 

Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa kinerja logistik  terdiri dari customs, international shipments, logistics services quality, tracking and tracing, timeliness, kinerja logistik infrastructure, nilai tukar, suku bunga dan Nilai Ekspor Neto berpengaruh secara simultan terhadap daya saing global.

Integrasi meningkatkan seluruh aspek kinerja logistik, nilai tukar, suku bunga, dan Nilai Ekspor Neto secara sinergis akan meningkatkan daya saing global. 

Pada era globalisasi, khususnya dalam masa implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dewasa ini, Indonesia dan negara-negara sekawasan dituntut untuk semakin meningkatkan daya saing ekonominya terhadap persaingan global. Indonesia yang terletak diantara benua Asia dan benua Australia dan di  antara samudera Atlantik dan Samudera, maka memerlukan infrastruktur logistik yang memadai, sistem logistik yang andal, dan sumber daya manusia sektor logistik yang profesional untuk menunjang daya saingnya di pasar global guna mewujudkan kemajuan ekonomi yang diharapkan, demikian pula negara-negara ASEAN lainnya dan negara-negara Asia Selatan dan Asia Timur.

Dalam perspektif diagnosis daya saing perdagangan (trade competitiveness diagnostics), salah satu untuk mengetahui aktivitas perdagangan internasional adalah daya saing ekonomi di pasar global. 

Negara yang mempunyai daya saing tinggi pada pasar ekspor, pada umumnya mempunyai pasar domestik yang unggul karena pasar ekspor mempunyai persaingan yang tinggi. 

Perdagangan dan produktifitas mempunyai hubungan timbal balik. Perusahaan yang produktif akan bertransformasi menjadi eksportir dan dengan meningkatnya pasar ekspor maka perusahaan tersebut akan menjadi lebih produktif. 

Reis dan Farole (2012) menyebutkan faktor internal merupakan hambatan utama seperti pembiayaan, bea cukai, logsitik dan kurangnya kompetisi. Di tengah-tengah rendahnya konektivitas industri pada pasar internasional, perbaikan kinerja logistik nasional dapat dipandang sebagai suatu strategi kunci untuk meningkatkan daya saing global dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Berdasarkan laporan World Bank tentang Logistics Performance Index (LPI) per 26 Juli 2018, kinerja logistik Indonesia masih tertinggal di tingkat ASEAN. 

Berdasarkan skala skor indeks 1 sampai 5, di mana skor yang lebih tinggi merepresentasikan kinerja logistik yang lebih tinggi, skor LPI Indonesia tahun 2018 masih sebesar 3,15 (peringkat 46 dunia). 

Kinerja logistik Indonesia di bawah Singapura (4,0 – peringkat 7), Thailand (3,41 – peringkat 32), Vietnam (3,27 – peringkat 39), dan Malaysia (3,22 – peringkat 41). Jerman menduduki peringkat ke-1 dunia dalam kinerja logistik dengan skor LPI 4,20.  Walaupun demikian, kinerja logistik Indonesia cenderung meningkat sejak turun di tahun 2010. 

Geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah untuk meningkatkan kinerja logistik nasional. 

Pembangunan infrastruktur logistik oleh pemerintah dan konektivitas antar daerah diharapkan menjadi pendorong makin membaiknya kinerja logistik Indonesia.

Logistik merupakan integrasi berbagai kepentingan seperti pemindahan barang (movement) dan penyimpanan barang (storage) (Swastha, 1990: 321). 

Logistik juga bertujuan mengirimkan berbagai barang barang dan material dengan ketepatan jumlah dan tempat dengan total biaya yang terendah (Bowersox, 2002). 

Sebagai ukuran kinerja logistik internasional dari World Bank, LPI mengukur dan memeringkat kinerja sektor logistik suatu negara berdasarkan enam (6) dimensi perdagangan dari hasil survei pada profesional logistik internasional tentang negara tersebut. 

Dimensi yang dianalisis didasarkan pada penelitian terkini, baik teoritis maupun empiris, dan pengalaman praktis dari profesional logistik yang terlibat dalam pengangkutan/ekspedisi kargo internasional. 

Ke-6 dimensi tersebut adalah: 1) Customs (efisiensi pabean dan izin perbatasan / border clearance); 2) Infrastructure (kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi – pelabuhan, bandar udara, jaringan kereta api, jaringan jalan raya, teknologi informasi); 3) International shipments (kemudahan pengaturan pengangkutan dengan harga bersaing); 4) Logistics services quality (kualitas dan kompetensi jasa logistik – angkutan truk, ekspedisi/forwading, dan perantara pabean / customs brokerage); 5) Tracking and tracing (kemampuan untuk menelusuri dan melacak muatan dalam pengiriman; dan 6) Timeliness (frekuensi pengiriman mencapai penerima dalam waktu yang dijadwalkan atau diharapkan).

Berkaitan dengan upaya meningkatkan kinerja logistik Indonesia, UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran merupakan titik awal perbaikan sistem logistik nasional.

Aturan tersebut mewajibkan pelayaran dalam negeri dilakukan oleh kapal berbendera Indonesia dan pelaksanaan asas cabotager di pelabuhan Indonesia.

Dalam masa lebih dari 10 tahun terakhir, penerapan asas cabotage dapat menggerakan pertumbuhan ekonomi nasional dan cukup efektif dalam menyerap tenaga kerja dan investasi. 

Permenhub No. 8 Tahun 2011 tentang Angkutan Multimoda, yang merupakan turunan dari UU Nomor 17 Tahun 2008, mengatur tentang angkutan barang dan telah memberikan kepastian usaha angkutan multimoda dalam kegiatan logistik. 

Pembenahan sistem logistik yang menjadi perhatian pemerintah adalah adanya kepastian usaha, biaya logistik diturunkan dan komptensi sumber daya ditingkatkan, yang menjadi acuan dalam penilaian sistem logistik kawasan ASEAN dengan 10 konsentrasinya.

Di antaranya yaitu: 1) maritime cargo handling service, 2) storage & warehousing services, 3) freight transport agency services, 4) other auxiliary services, 5) courier services, 6) packaging services, 7) customs clearance services, 8) international maritime freight transportation excluding cabotager,   9) international rail freight transport services, dan 10) international road freight transport services. 

Dalam relevansinya dengan kinerja logistik nasional, berdasarkan laporan World Economic Forum tentang Global Competitiveness Index (GCI) tahun 2018, daya saing global Indonesia juga masih tertinggal di tingkat ASEAN, beberapa Negara Asia Selatan dan beberapa negara Asia Timur. 

Berdasarkan skala skor indeks 1 sampai 7, di mana skor yang lebih tinggi merepresentasikan daya saing global yang lebih tinggi, skor GCI Indonesia tahun 2018 masih sebesar 4,89 (peringkat 45 dunia). 

Daya saing global Indonesia di bawah Singapura (6,01 – peringkat 2), Malaysia (5,46 – peringkat 25), dan Thailand (5,05 – peringkat 38), namun masih lebih unggul daripada Vietnam (4,49 – peringkat 77). 

Sedangkan Hongkong (5,53 – rangking 6), Jepang (5,49 – rangking 9) dan Korea Selatan (5,07 – rangking 26). Amerika Serikat menduduki peringkat ke-1 dunia dalam daya saing global dengan skor GCI 6,14. 

"Walaupun demikian, dalam periode tahun 2007-2018, daya saing global Indonesia cenderung meningkat," ungkapnya. 

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penelitian ini ialah untuk melihat pengaruh kinerja logistik terhadap daya saing global. 

Kinerja Logistik

Kegiatan utama pada kinerja logistik secara historis dan distribusi fisik terdiri dari pengangkutan atau transportasi dan penyimpanan. 

Kegiatan pengangkutan dan penyimpanan merupakan dua kegiatan berbeda. Menurut Swastha (1990:321), pengangkutan adalah proses membawa barang dari sutau tempet ke tempat lain dengan menggunakan jalan yang menggunakan saluran antara lembaga dengan konsumen. 

Sementara penyimpanan adalah proses penjagaan selama barang masih diperlukan. 

Pengelolaan aliran barang dapat dilakukan oleh manajemen logistik yang dimulai dari pengambilan barang barang dari supplier dan dikirimkan ke tempat penyimpanan dan pendistribusiannya. 

Jasa pelayanan dan informasi tentang produk disediakan dalam manajemen logistik.

Secara strategik bahwa logistik adalah suatu proses pengelolaan aliran perlindungan sejumlah bahan mentah, persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi dari titik asal sampai ke titik konsumsi (Daniel, 2001:31). 

Saluran distribusi kepada konsumen dilakukan melalui proses logistik. Bidang perekonomian dipengaruhi oleh sistem logistik khususnya transportasi muatan yang umumnya mempunyai jarak antara satu tempat ke tempat lain yang sangat jauh. 

Kegunaan, waktu dan tempat merupakan penyelenggarakan logistik dan merupakan aspek penting dari operasi perusahaan dan pemerintah. 

Titik berat pada manajemen logistik adalah cara mengelola barang dimulai dari perencanaan, penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, pemeliharaan, dan penghapusan barang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Chopra (2007) mengartikan supply chain management sebagai pendekatan yang holistik dan strategis dalam hal permintaan, operasional, pembelian, dan manajemen proses logistik.

Manajemen logistik merupakan suatu tanggung-jawab untuk membuat dan mengatur sistem guna mengatasi aliran bahan baku dan barang jadi (Swasta, 1990:322). 

Menurut Bowesox (2002:13), manajemen logistik unik karena merupakan satu aktivitas perusahaan yang tertua tetapi juga termuda. 

Aktivitas logistik (lokasi, fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, dan pengurusan & penyimpanan) telah dilaksanakan orang semenjak awal spesialisasi komersil. 

Logistik merupakan suatu bagian yang integral dalam kegiatan channel. Tugas umum dari manajemen logistik adalah mengadakan keseimbangan antara biaya dan penghasilan untuk mencapai laba tertentu (Swastha,1990:322).

Dalam proses logistik, fungsi dilakukan secara simultan oleh anggota saluran. Gerakan barang dalam satu arah yang menuju lokasi terakhir pelanggan merupakan gerakan fisik yang paling ekonomis. 

Menurut Simamora (2000:731), layanan pelanggan merupakan sistem saluran yang mempunyai kemampuan untuk memberikan kepuasan bagi keperluan pelanggan, pemakai industrial, atau perantara saluran dalam hal-hal: 

Waktu siklus pesanan adalah waktu yang diperlukan oleh perusahaan menerima, memproses, dan mengirimkan sebuah pesanan.

Keandalan adalah terkait dengan keandalan pengiriman yang merupakan elemen dari layanan bagi peruhanaan dalam mendistribusikan barang secara tepat waktu.

Komunikasi antara pembeli dan penjual secara dini kedua belah pihak dapat mencari solusi atas masalah yang dihadaapi sedini kungkin.

Kemudahan sistem yang luwes sehingga dapat mengakomodasi keperluan untuk berbagai pelanggan. 

Menurut Irawan (1990:323), pilihan dari manajer logistik untuk mengadakan kombinasi antara pengangkutan dan penyimpanan dalam saluran pemasaran. 

Saluran logistik adalah kombinasi antara logistik sendiri dan logistik umum yang dapat dikategorikan memindahkan barang dalam tiga macam pilihan yakni: menggunakan sepenuhnya alat sendiri; menggunakan agen; menggunakan kombinasi antara logistik umum dan logistik sendiri.

Daya Saing Global

Menurut Porter (1990) dalam buku PPSK-BI (2008) menyatakan bahwa “produktivitas” pada level nasional merupakan konsep daya saing yang dapat diaplikasikan pada level nasional. 

Produktivitas merupakan nilai output yang diperoleh dari serangkaian proses sejumlah input. Bank Dunia menyatakan bahwa “besaran dan laju perubahan nilai tambah per unit input merupakan ukuran daya saing”. 

Konsep daya saing nasional memandang daya saing secara luas dan tidak hanya berbicara kisaran pada level mikro perusahaan, tetapi juga pada level di luar perusahaan.

Aspek–aspek tersebut dapat bersifat firm-specific,region-specific, dan country-specific.

World Economic Forum (WEF), lembaga penerbit Global Competitiveness Report, daya saing global didefinisikan “kemampuan perekonomian nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan”. 

Kebijakan yang tepat dan institusi yang sesuai serta karakteristik ekonomi lainnya yang mendukung terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan focus pertumbuhan ekonomi. 

Institute of Management Development (IMD), lembaga penerbit World Competitiveness Yearbook, mendefinisikan daya saing global sebagai “kemampuan suatu negara dalam menciptakan nilai tambah dalam rangka menambah kekayaan nasional dengan cara mengelola dan proses, daya tarik dan agresivitas, globality dan proximity, serta mengintegrasikan hubungan-hubungan tersebut ke dalam model ekonomi dan sosial”. 

Daya saing global memiliki definisi yang tidak seragam, walaupun demikian terdapat kesamaan pendapat tentang apa saja yang harus dilakukan untuk meningkatkan daya saing global (Sachs, dkk., 2000).

Dalam Global Competitiveness Report, World Economic Forum mengukur dan memeringkat daya saing global suatu negara melalui Global Competitiveness Index (GCI) berdasarkan 12 pilar penentu daya saing ekonomi yang memungkinkan perekonomian nasional mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kemakmuran jangka panjang. 

12 pilar ini mengukur lingkungan ekonomi dan bisnis nasional suatu negara, baik secara kuantitatif dari berbagai organisasi nasional dan internasional maupun secara kualitatif berdasarkan survei opini eksekutif perusahaan yang menjalankan bisnis dalam negara tersebut (forum’s executive opinion survey). 

Pilar penentu daya saing tersebut dapat dikelompokan menjadi kelompok pilar persyaratan dasar (basic requirements), yaitu kunci bagi ekonomi factor-driven (ekonomi yang digerakkan oleh faktor-faktor dasar) sebagai tahap pertama dari pembangunan dan daya saing negara.

Kedua, kelompok pilar peningkat efisiensi (efficiency enhancers), yaitu kunci bagi ekonomi efficiency-driven (ekonomi yang digerakkan oleh efisiensi) sebagai tahap kedua dari pembangunan dan daya saing negara dan ketiga kelompok pilar faktor inovasi dan kecanggihan (innovation and sophication factors), yaitu kunci bagi ekonomi innovation-driven (ekonomi yang digerakkan oleh inovasi) sebagai tahap ketiga dari pembangunan dan daya saing negara. 

Mulai tahun 2018, World Economic Forum menyesuaikan metodologi pengukuran GCI-nya dengan konsep Revolusi Industri 4.0 yang menekankan tentang pentingnya human capital (modal manusia), agility (kemampuan untuk beroperasi secara cepat dan mudah), resilience (kecakapan untuk pulih secara cepatd dari berbagai kesulitan), dan innovation (inovasi) untuk mencapai kesuksesan ekonomi. 

Dalam kerangka GCI 4.0, daya saing global suatu negara diorganisasikan ke dalam 12 pilar main drivers produktivitas pada empat kategori, yaitu: enabling environment (lingkungan pendukung), human capital (modal manusia), markets (pasar), dan innovation ecosystem (ekosistem inovasi). 

Kategori Enabling Environment terdiri dari pilar: 1) Institutions; 2) Infrastructure; 3) ICT (Information and Communication Technologies) adoption; dan 4) Macroeconomic stability. 

Kategori Human Capital terdiri dari pilar: 5) Health dan 6) Skills. Kategori Markets terdiri dari pilar: 7) Product market; 8) Labour market; 9) Financial system; dan 10) Market size. 

Kategori Innovation Ecosystem terdiri dari pilar: 11) Business dynamism dan 12) Innovation capability. 

Walaupun dalam kategori yang berbeda, di mana indikator-indikatornya juga telah dimodifikasi – ada yang dipertahankan dan ada yang diperbarui, secara garis besar pilar-pilar dalam GCI 4.0 ini relatif sama dengan yang sebelumnya. 

GCI 4.0 tidak lagi diagregasi berdasarkan pembobotan kelompok/kategori pilar menurut tahapan pembangunan (factor-driven economic, efficiency-driven economic, innovation-driven economic) masing-masing negara. Dalam GCI 4.0, setiap pilar produktivitas diberi bobot yang sama.

METODE

Populasi pada  penelitian ini adalah  negara-negara ASEAN, beberapa negara di  Asia Selatan dan Negara Asia Timur, yaitu negara ASEAN: Kamboja, Laos, Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura. 

Selanjutnya beberapa negara-negara Asia Selatan meliputi India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan beberapa negara Asia Timur: China, Hongkong, Korea Selatan dan Jepang pada seluruh periode pembangunan. 

Sementara itu sampel yang diteliti adalah periode pembangunan tahun 2007 – 2018, yaitu tahun 2007, 2010, 2012, 2014, 2016, dan 2018 (6 tahun). 

Tahun yang diteliti berdasarkan kesesuaiannya dengan tahun publikasi kinerja logistik antar negara oleh World Bank.

Variabel penelitian terdiri dari variable bebas, variabel antara, dan variabel terikat. 

Variabel bebas adalah Kinerja Logistik yang terdiri dari: Customs, International Shipments, Logistics Services Quality, Tracking and Tracing, Timeliness (X1), Infrastructure (X2), Nilai Tukar (X3), Tingkat Suku Bunga (X4) dan Nilai Ekspor Neto (X5) dan Variabel antara adalah Daya Saing Global (Y) dan variabel terikat adalah Pertumbuhan Ekonomi (Z). 

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi. 

Studi dokumentasi dilakukan pada World Bank dalam Logistic Performance Report dan Economic Growth Report serta World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report maupun Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) secara langsung maupun melalui situs masing-masing lembaga.

Data yang dikumpulkan adalah data indeks kinerja logistik, data nilai tukar, data tingkat suku bunga, nilai ekspor neto, indeks daya saing global, dan Gross Domestik Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) antarnegara ASEAN, beberapa negara Asia Selatan dan beberapa negara Asia Timur untuk enam tahun, yaitu tahun 2007, 2010, 2012, 2014, 2016, dan 2018. 

Jumlah observasi yang dikumpulkan adalah sebanyak 17 negara x 6 tahun = 102 observasi. 

Sedangkan eksekusinya menggunakan program ekonometrik EVIEWS.

Desain penelitian menggunakan explanatory study atau hypothesis testing studi dengan pendekatan kuantitatif dengan maksud menerangkan hasil uji hipotesis tentang hubungan antarvariable, yang menerangkan hubungan kausal (sebab-akibat) atau pengaruh antarvariabel sebagaimana telah dimodelkan dalam paradigma penelitian, yaitu pengaruh antardimensi-dimensi kinerja logistik, nilai tukar, tingkat suku bunga dan nilai ekspor neto terhadap daya saing global dan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi. 

Pendekatan kuantitatif sejalan dengan penggunaan data kuantitatif dalam pengukuran variabel dan metode kuantitatif/statistik dalam analisis pengaruh antarvariabel (Cresweel, 2010: 24).

Metode statistika yang digunakan dalam penelitian atau analisa regresi linear dengan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk mengetahui pengaruh antarvariable dengan model rekrusif. 

Analisis regresi digunakan untuk mengkaji pola hubungan antara satu atau lebih variabel penyebab (eksogen) terhadap satu variabel akibat (endogen). 

Seluruh proses pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program komputer EViews 10 for Windows.

Adanya pengaruh secara simultan dari kinerja logistik

terhadap daya saing global menunjukkan bahwa integrasi dari peningkatan kinerja logistik dalam seluruh aspek; baik customs, infrastructure, international shipments, logistics services quality, tracking, tracing, timeliness maupun kinerja nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto, secara sinergis memiliki kemampuan untuk meningkatkan daya saing global. 

Demikian pula, temuan penelitian tentang pengaruh positif secara parsial maupun simultan dari customs, infrastructure, international shipments, logistics services quality, tracking, tracing, timeliness dan nilai tukar, suku bunga serta nilai ekspor neto bahwa meningkatnya aspek kinerja logistik, nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto ini secara efektif mampu mendorong daya saing global yang lebih tinggi. 

Kinerja logistik tersebut merupakan key strategies bagi pencapaian keunggulan daya saing global dan mempunyai pengaruhnya lebih dominan. 

Kinerja logistik berfungsi sebagai primary factor. Sedangkan nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto sebagai secondary factor. 

Dalam peningkatan konektivitas ekonomi, keduanya juga merupakan base factors yang menentukan kinerja rantai-pasok secara keseluruhan. 

Meningkatnya kinerja infrastruktur logistik dan kualitas jasa logistik akan meningkatkan daya saing global dan sekaligus mendorong efektivitas kinerja logistik secara keseluruhan, termasuk aspek customs, logistics services quality, international shipments, tracking and tracing, timeliness dan nilai tukar, suku bunga, nilai ekspor neto dalam pencapaian keunggulan daya saing global. 

Meningkatnya kinerja infrastructure ditandai dengan meningkatnya kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, baik pelabuhan, bandar udara, jaringan kereta api, jaringan jalan raya, maupun teknologi informasi.

Hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh positif dari daya saing global terhadap pertumbuhan ekonomi sesuai dengan teori diagnosis daya saing perdagangan dan teori pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana merujuk pada Kuznets (dalam Jhingan, 2004), meningkatnya daya saing global suatu negara akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan kemampuan suatu negara untuk menyediakan berbagai jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. 

Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi serta penyesuaian kelembagaan dan ideologis yang diperlukannya sebagai cerminan dari meningkatnya daya saing global. 

Tingginya daya saing global, yaitu tingginya produktivitas, akan memungkinkan perekonomian nasional mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kemakmuran jangka panjang (Porter, 1990; Bank Dunia).

Peningkatan daya saing ditandai dengan meningkatnya produktivitas basic requirements (institutions, entire infrastructure, macroeconomic stability, health and primary education) sebagai penggerak ekonomi factor-driven; efficiency enhancers (higher education and training, goods market efficiency, labor market efficiency, financial market sophistication, technological readiness, market size) sebagai penggerak ekonomi efficiency-driven; dan innovation and sophication factors (business sophistication, innovation) sebagai penggerak ekonomi innovation-driven (World Economic Forum, 2018). 

Seluruh hasil penelitian ini mengembangkan hasil penelitian Bizoi dan Sipos (2014) dan menunjukkan bahwa daya saing global merupakan intervening variable yang memediasi pengaruh kinerja logistik terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Dalam studi komparatifnya, Bizoi dan Sipos (2014) menunjukkan bahwa negara-negara Uni Eropa dengan kinerja logistik yang lebih baik mampu menghasilkan Gross Domestic Product yang lebih tinggi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis model pengaruh kinerja logistik terhadap daya saing global dan implikasinya pada pertumbuhan ekonomi menunjukkan hasil yang sama. 

Kinerja logistik (customs, international shipments, logistics services quality, tracking and tracing, timeliness), infrastructure, nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto secara bersama-sama atau simultan berpengaruh terhadap daya saing global dan berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi. 

Jika dibandingkan, model pengaruh paling tinggi tingkat kesesuaiannya adalah model pengaruh kinerja logistik, nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto terhadap daya saing global dengan koefisien determinasi yang disesuaikan (Adjusted R2) sebesar 95,60 %. 

Selanjutnya model pengaruh daya saing global terhadap pertumbuhan ekonomi dengan Adjusted R2 sebesar 67,02 0%. Tampak bahwa model pengaruh kinerja logistik, nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto terhadap daya saing global serta implikasinya pada pertumbuhan ekonomi telah memenuhi tingkat kesesuaian model atau kemampuan prediksi yang yang memadai, yaitu diatas 50 % (ukuran Baye). 

Hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh yang siginifikan secara parsial dari kinerja logistik, nilai tukar dan nilai ekspor neto terhadap daya saing global sesuai dengan teori diagnosis daya saing perdagangan (trade competitiveness diagnostics). 

Meningkatnya aktivitas perdagangan internasional seiring dengan meningkatnya kinerja logistik, nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto merupakan strategi kunci untuk mengembangkan daya saing ekonomi di pasar global. 

Sebagaimana merujuk pada Reis dan Farole (2012), rendahnya kinerja logistik, nilai tukar dan nilai ekspor neto merupakan salah satu penghambat utama negara berkembang, yang bersifat bersifat behind the border, untuk bersaing dalam perdagangan internasional. 

Melalui kinerja logistik, nilai tukar dan nilai ekspor neto yang tinggi, proses penyampaian barang jadi/material dalam jumlah yang tepat ke tempat yang tepat pada waktu yang tepat dan dengan total biaya yang terendah dapat terlaksana secara efektif (Bowersox, 2002).

Meningkatnya konektivitas sektor-sektor produksi pada pasar internasional akibat membaiknya kinerja logistik, nilai tukar, suku bunga dan nilai ekspor neto nasional akan mendorong daya saing global. 

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Anatan (2010) yang menunjukkan bahwa kinerja logistik, nilai tukar dan nilai ekspor neto merupakan determinan dalam pencapaian keunggulan kompetitif suatu entitas. 

Sedangkan tidak signifikannya secara partial pengaruh suku bunga mengindikasikan belum efektifnya peran aspek kinerja suku bunga dalam pencapaian daya saing global. 

KESIMPULAN

Berdasarkan model yang terbaik dan yang tepat untuk mengestimasi data panel telah dipilih Fixed Effect Model (FEM) dapat  disimpulkan bahwa Kinerja Logistik yang terdiri dari customs, international shipments, logistics services quality, tracking and tracing, timeliness (X1), secara parsial berpengaruh positif dan significant terhadap terhadap Daya Saing. 

Dari hasil permodelan ini, menunjukkan bahwa makin baik kualitas Kinerja Logistik, akan meningkatkan Daya Saing Global suatu negara. 

Daya saing global berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan daya saing global memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

Peningkatan daya saing global diindikasikan dari meningkatnya produktivitas basic requirements (institutions, entire infrastructure, macroeconomic stability, health and primary education) sebagai penggerak ekonomi factor-driven; efficiency enhancers (higher education and training, goods market efficiency, labor market efficiency, financial market sophistication, technological readiness, market size) sebagai penggerak ekonomi efficiency-driven; dan innovation and sophication factors (business sophistication, innovation) sebagai penggerak ekonomi innovation-driven. 

Forecasting ability dari model pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih rendah dibandingkan model daya saing global berimplikasi secara teoritis bahwa masih terdapat faktor-faktor lain di luar daya saing global yang turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. 

Posisi Indonesia dalam persaingan global pada tahun 2018 yang ditunjukan dalam permodelan ini masih menempati ranking 45 dunia. 

Daya saing global Indonesia di antara negara Asean di bawah Singapura (6,01 – peringkat 2), Malaysia (5,46 – peringkat 25), dan Thailand (5,05 – peringkat 38), namun masih lebih unggul daripada Vietnam (4,49 – peringkat 77). 

Sedangkan Hongkong (5,53 – rangking 6), Jepang (5,49 – rangking 9) dan Korea Selatan (5,07 – rangking 26). Ranking tertinggi dicapai oleh negara Amerika Serikat menduduki peringkat ke-1 dunia.

SARAN

Sebagai saran praktis, untuk meningkatkan daya saing global yang dapat berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi; disarankan kepada pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan pembangunan kinerja logistik nasional; khususnya daya dukung customs, logistics services quality, international shipmens, tracking and tracing, timeliness serta integrasinya dengan aspek-aspek kinerja logistik lainnya. 

Infrastructure merupakan base factors penentu kinerja rantai-pasok secara keseluruhan dalam peningkatan konektivitas ekonomi nasional (intra-wilayah dan inter-wilayah) dan internasional. 

Pemerintah juga disarankan untuk mendorong daya saing global yang berkelanjutan berdasarkan kebijakan peningkatan kinerja logistik secara berkelanjutan yaitu dengan meningkatkan kinerja operasional logistik secara sinergis melalui peningkatan daya dukung logistics services quality, tracking and tracing, timeliness, serta peningkatan efektivitas customs, infrastructure, international shipments, nilai ekspor neto serta nilai tukar, suku bunga yang kompetitif. 

Daya dukung infrastructure tidak saja berkaitan dengan ketersediaan, kapasitas, dan kapabilitas masing-masing infrastruktur logistik, namun juga integrasi dan koneksinya dalam jaringan. 

Meningkatnya kinerja customs, infrastructure, international shipments, dan nilai ekspor neto harus dapat diimbangi pula oleh meningkatnya kinerja customs, infrastructure, international shipments, nilai ekspor neto secara sinergis. 

Dalam pencapaian kinerja dwelling time yang kompetitif, kinerja infrastructure dan logistic services quality dalam menyingkat waktu pre-customs clearance, customs clearance (dari jasa customs brokerage), dan post-customs clearance, perlu diimbangi dengan kinerja customs dalam menyingkat waktu customs clearance. (fhm/aw).