Preman Sadar, jadi Kondektur Bus Primajasa: Banyak Tato di Badan, Pernah Nyandu Narkoba, 2 Kali Dipenjara, Pernah 3 Kali Menikah

  • Oleh : Redaksi

Senin, 03/Janu/2022 14:45 WIB
Firman, preman sadar, yang memilih hidup berkah menjadi kondektur bus Primajasa Bandung-Bekasi. Foto: Awe/BeritaTrans.com/Aksi.id. Firman, preman sadar, yang memilih hidup berkah menjadi kondektur bus Primajasa Bandung-Bekasi. Foto: Awe/BeritaTrans.com/Aksi.id.

BANDUNG (BeritaTrans.com) - Namanya Firman. Berpeci saat bekerja sebagai kondektur bus Primajasa rute Bandung-Bekasi. Siapa sangka, ternyata anak muda ini mantan preman. Ayo, kita simak verita lengkapnya.

Anak muda satu ini bertugas di bus Primajasa, yang dinaiki BeritaTrans.com dan Aksi.id, dari depan gerbang Tol Pasir Koja, Bandung, menuju Terminal Bekasi, Senin (3/12/2022).

Baca Juga:
Cerita Mulyadi Interaksi Terakhir dengan Pengemudi Bus Primajasa Sebelum Terjadi Kecelakaan Maut di Tol Cipali

Dia tersenyum ramah saat menarik ongkos dari penumpang. Setelah menerima uang, warga Cimahi ini memberikan tiket di antaranya bertuliskan tarif Rp60.000.

Pemuda ini mengaku berkah dan barokah dari rezeki hasil bekerja sebagai kondektur di perusahaan bus milik Amir Mahpud tersebut.

Baca Juga:
Masa Lebaran, Bus Primajasa Tidak Naikkan Tarif, Cek Harga Tiketnya!

"Harus rajin kerja, harus jujur, taat shalat, banyak bantu orang,  itu kuncinya hidup berkah," tuturnya dalam bincang-bincang di smoking area bus.

Penampilan berpeci dan perkataannya soal hidip berkah itu menjadi unik bila dibandingkan dengan tato di lengannya. "Tato ini sisa zaman jahiliyah. Waktu masih bangor pisan. Ada nih tato di tangan, di badan sama di kaki," ujarnya.

Baca Juga:
2 Kendaraan Alami Kecelakaan di Tol Jakarta-Cikampek, 1 Truk Terguling dan 1 Bus Ringsek

Zaman jahiliyah? "Iya dulu saya rajin berkelahi, mabok, nyandu narkoba. Pernah dua kali dipenjara," ungkapnya dengan logat Sunda.

Dia mengaku jalan, yang dipilihnya, itu tidak berkah. "Makanya mendingan saya kerja yang bener. Udah enam tahun jadi kondektur bus Primajasa,"  cetus alumni SMAN 17 Bandung tersebut.

Dia mengutarakan perjalanan hidup menyadarkan untuk kembali ke jalan yang benar. "Awalnya sih setelah punya anak. Saya mikir-mikir masak mau begini terus. Entar anak saya jadi kayak saya juga," ujarnya.

Firman pun mulai menata hidup. Memilih bekerja dengan memeras keringat. Belajar mengaji, dan mencoba konsisten melaksanakan shalat lima waktu.

Sebulan Penuh Kerja, Tidur di Bus

Dia pun melakoni bekerja sebulan penuh tanpa sehari pun berhenti sejenak, "Jadi sebulan full kerja, libur 10 hari, terus kerja sebulan lagi, begitu aja terus," ungkapnya.

Saat sebulan bekerja, dia mengemukakan tinggal di bus. Tidur di bus saat malam. "Nggak pulang ke rumah dulu. Nanti uang habis diongkos. Kalo kos juga begitu, bisa nggak bawa uang kalo pulang ke rumah. Makanya mendingan tidur di bus," ujarnya sambil menuturkan pakaian dicuci sendiri atau menggunakan jasa laundry.

Lalu shalatnya bagaimana? Firman menjelaskan, "Kalau lagi pas jalan, ya dijama. Yang penting shalat nggak boleh kelewat.".

Lalu berapa besar pendapatan dari bekerja sebagai kondektur bus Primajasa? "Alhamdulillah cukup. Disyukurin aja. Bisa buat diri sendiri, buat ibu, buat anak. Saya tinggal dengan ibu dan dua anak. Jadi ngurus ibu, ngurus juga anak," ucapnya.

Memang isterinya ke mana? Dia mengaku tidak memiliki isteri lagi setelah tiga kali menikah. "Semuanya cerai. Mungkin karena dulu sayanya nggak bener," ujarnya.

Dia berharap akan menikah lagi. "Jadi kalo nikah lagi berarti yang keempat," ujarnya sambil tertawa.

Setia di Primajasa

Kembali ke persoalan pekerjaan, dia menegaskan bersyukur menjadi bagian dari Primajasa, dan akan terus setia bekerja di sana. "Berkah dan barokah bekerja di Primajasa," cetusnya.

Karenanya, dia menyatakan berterima kasih kepada pengurus bus, juga kepada pemilik PO Primajasa, H. Amir Mahpud, yang memberinya kesempatan untuk mencari nafkah. (awe).