Rusia Blokir Jalur Utama Ekspor Gandum, 300 Kapal Tertahan di Laut Hitam, IMO Serukan Koridor Maritim, Berpengaruh terhadap Ketahanan Pangan di Indonesia

  • Oleh : Redaksi

Jum'at, 18/Mar/2022 22:27 WIB


FRANKFURT (BeritaTrans.com) - Lebih 300 kapal telah dilarang meninggalkan Laut Hitam oleh pasukan Rusia. Ini salah satu rute perdagangan utama global untuk gandum dari Ukraina. Kawasan subur ini dikenal sebagai "keranjang roti dunia".

Perusahaan agrikultur terbesar Jerman, BayWa melaporkan, Rusia masih menghalangi ekspor gandum dari Ukraina dan Rusia, yang merupakan bagian penting dari pasokan pangan dunia.

Baca Juga:
Rusia Kerahkan 11 Kapal Perang Tambahan di Laut Hitam untuk Serang Ukraina

"Tidak ada (gandum) diekspor dari pelabuhan Ukraina saat ini - tidak ada yang meninggalkan negara itu sama sekali," kata Jörg-Simon Immerz, kepala perdagangan bagian biji-bijian di BayWa kepada kantor berita Jerman dpa.

Pernyataan Immerz didukung oleh Otoritas Maritim Panama, yang pada hari Rabu (16/03) mengatakan, Angkatan Laut Rusia mencegah 200-300 kapal meninggalkan Laut Hitam. Kebanyakan dari kapal itu mengangkut gandum.

Baca Juga:
Rusia Klaim Telah Hancurkan Kapal Perang Ukraina Terakhir

Noriel Arauz, administrator Otoritas Maritim Panama mengatakan, tiga kapal berbendera Panama telah diserang Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada tanggal 24 Februari lalu. Satu kapal tenggelam dan dua lainnya rusak, sementara ini tidak ada korban tewas dan luka.

Sementara surat kabar Inggris The Guardian melaporkan, beberapa kapal lain juga telah diserang sejak invasi dimulai, termasuk dari Bangladesh dan Estonia, yang menyebabkan satu orang tewas.

Baca Juga:
Ukraina Tuduh Rusia Hancurkan Kapal Sipil di Sungai Dnipro di Selatan Kherson

Rusia beralasan pemblokiran kapal-kapal tersebut kareana adanya potensi risiko tinggi ranjau, yang diklaim Rusia telah dipasang oleh Angkatan Laut Ukraina.

Ketahanan pangan terancam

Pertanyaan yang dilontarkan adalah, berapa banyak gandum yang dapat diproduksi Ukraina tahun ini, dalam situasi konflik. Pada saat yang sama, Rusia telah menyatakan akan membalas sanksi Barat, yang telah melumpuhkan ekonominya.

Pembatasan ekspor gandum  dan pupuk diduga berada di urutan teratas dalam daftar sanksi balasan Moskow, yang dapat memiliki konsekuensi lebih lanjut bagi pasokan pangan dunia dan inflasi harga pangan.

Rusia memproduksi hampir 80 juta ton gandum per tahun dan mengekspor hampir 30 juta ton, sementara Ukraina mengekspor sekitar 20 hingga 25 juta ton gandum per tahun.

Infografik F├╝hrende Weizenproduzenten weltweit ENInfografis produsen gandum di dunia

Immerz dari BayWa lebih lanjut mengatakan, seluruh pasar kini mengikuti ekspor Ukraina lebih dari Rusia, karena ekspor Rusia saat ini dianggap lebih berisiko.

"Gandum disemai di musim gugur dan sekarang saatnya perlu diberi pupuk," kata Immerz. "Jagung bahkan belum ditaburkan, dan jika itu tidak bisa ditaburkan, tentu saja, tidak akan ada panen."

BayWa namun meyakini, tidak ada alasan untuk takut akan kekurangannya pasokan gandum, karena lebih banyak gandum yang dipanen di Uni Eropa (UE) daripada yang dikonsumsi.

"Uni Eropa mengekspor sekitar 30 juta ton gandum setiap tahun, dan Jerman juga merupakan negara pengekspor pada tahun-tahun normal," kata Immerz. Tapi itu tidak berlaku untuk semua jenis biji-bijian. "Kita mengandalkan impor untuk jagung," tambahnya.

Odesa HafenPelabuhan Odessa (foto) adalah salah satu titik keberangkatan utama untuk ekspor gandum Ukraina

Kebutuhan pangan Afrika rentan

Sementara itu, sebuah laporan baru oleh Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) telah memperingatkan tentang dampak perang terhadap situasi pangan di Afrika.

Antara tahun 2018 dan 2020, impor gandum dari Rusia menyumbang hampir sepertiga dari total kebutuhan benua itu, sementara sekitar 12% berasal dari Ukraina.

Laporan UNCTAD mengatakan, hingga 25 negara Afrika, terutama negara dengan ekonomi kurang berkembang, bergantung pada impor gandum dari Rusia dan Ukraina.

Laporan itu juga memperingatkan, kurangnya kapasitas cadangan pangan di Afrika membatasi kemungkinan untuk mengimbangi pasokan yang hilang, sementara melonjaknya harga pupuk akan menjadi beban tambahan bagi petani.

Diperlukan koridor pengiriman yang aman

Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) telah menyerukan apa yang disebut koridor maritim, untuk memungkinkan kapal-kapal meninggalkan Laut Hitam tanpa risiko serangan atau menabrak ranjau.

"Aksi militer yang sedang berlangsung di Laut Hitam dan Laut Azov menghadirkan ancaman serius dan langsung terhadap keselamatan dan keamanan awak dan kapal yang beroperasi di wilayah tersebut," kata IMO dalam sebuah pernyataan yang dirilis awal pekan ini.

"Keseriusan situasi ini digarisbawahi oleh semakin banyak laporan dari sumber terbuka, tentang insiden keamanan yang melibatkan kapal barang," lanjut pernyataan itu.

IMO saat ini berhubungan erat dengan semua pemangku kepentingan utama di kawasan itu, untuk "berkontribusi dalam upaya mengatasi keselamatan dan keamanan pelayaran kapal" di kawasan Laut Hitam.

Harga Pangan Melonjak

Setelah harga minyak dan gas dunia melonjak ke rekor baru, harga gandum juga naik sampai 40 persen minggu lalu. Rusia dan Ukraina adalah pemasok utama gandum ke Asia dan Afrika, bahan utama untuk mi instan.

Sejak Rusia melancarkan invasi di Ukraina pada 24 Februari, harga-harga di pasar komoditas telah melonjak jauh. Pasar gandum hari Senin (7/3) mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2008. Harga jagung dan kedelai juga mencapai level tertinggi sejak September 2012.

Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang sekitar 29% dari ekspor gandum global, serta 19% dari ekspor jagung. Rusia dan Ukraina juga menyediakan 80% ekspor minyak bunga matahari dunia, yang bersaing dengan minyak kedelai.

Petani Ukraina terpaksa mengabaikan ladang mereka karena jutaan orang harus melarikan diri, atau mencoba melawan dan mempertahankan hidup. Pelabuhan-pelabuhan yang biasanya mengirim gandum dan makanan pokok ke ke seluruh dunia berhenti beroperasi. Terutama suplai produk gandum yang menjadi bahan pokok untuk membuat roti, mi dan pakan ternak terganggu.

Indonesia importir besar gandum dari Ukraina

"Sampai pertempuran di Ukraina berakhir, tidak dapat diharapkan ekspor gandum dan jagung dari Ukraina dan Rusia akan dilanjutkan," kata seorang pedagang Eropa yang menolak namanya disebutkan kepada kantor berita Reuters. Permintaan gandum di Uni Eropa pekan lalu melonjak dan diperkirakan akan terus meningkat.

"Dengan beralih secara mendadak pada bahan alternatif, ada kekhawatiran beberapa negara akan memberlakukan pembatasan ekspor untuk menyediakan pasokan domestik mereka sendiri," kata pedagang lain. Dia menambahkan, beberapa importir besar masih tetap bersedia membeli pada kisaran harga lebih tinggi, karena khawatir harga akan terus naik.

Pemerintah Bulgaria mengatakan akan memperluas cadangan gandum. Hongaria sudah melarang semua ekspor biji-bijian. Importir gandum utama Aljazair pada hari Minggu (6/3) mengeluarkan tender internasional untuk membeli gandum dari penggilingan.

Gangguan pasokan akan dirasakan hingga ke Indonesia, di mana gandum terutama digunakan untuk membuat mie instan, roti, gorengan dan makanan ringan lain. Ukraina adalah pemasok gandum terbesar kedua di Indonesia. Tahun lalu Ukraina menyuplai 26% dari kebutuhan gandum yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. "Kenaikan harga mie, pada gilirannya, akan merugikan masyarakat berpenghasilan rendah", kata Kazan Muhri, yang mengepalai divisi penelitian di kementerian perdagangan.

Pada hari Kamis (03/03) harga gandum berjangka Amerika Serikat naik ke level tertinggi dalam 14 tahun akibat para importir berebut pasokan menyusul penutupan pelabuhan di Ukraina dan gangguan pasokan dari Rusia. Kedua negara tersebut memasok sekitar 29% ekspor gandum global.

Bagi Indonesia yang termasuk salah satu negara produsen dan konsumen mi instan terbesar di dunia, volatilitas harga ini dikhawatirkan akan berpengaruh pada harga akhir mi instan yang harus ditanggung konsumen.

Mengantisipasi lonjakan harga gandum di pasar internasional, Gabungan Pengusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mulai menyiapkan sejumlah alternatif. Mulai dari mencari pasokan impor dari negara lain, hingga kemungkinan menaikan harga makanan berbahan utama gandum.

Naikkan harga jual jadi jalan terakhir

Adhi mengakui bahwa terhadap bidang industrinya di Indonesia saat ini, krisis Rusia dan Ukraina belum berpengaruh besar meskipun pasar spot sudah bergejolak akibat pengaruh psikologis. Namun, para pengusaha berharap krisis Rusia dan Ukraina tidak berlangsung lama sehingga keadaan pasar akan kembali normal seperti sebelum krisis.

"Stok gandum Indonesia diperkirakan cukup untuk 2 bulan ke depan. Sementara pengusaha masih wait and see, dan tetap berharap perang segera berakhir sehingga tidak berdampak besar," terangnya.

Upaya lain yang akan dilakukan pengusaha menghadapi pasokan gandum yang terbatas jika krisis berlangsung panjang adalah mencari substitusi gandum. Gapmmi selama ini memberlakukan kontrak jangka panjang terkait impor gandum. Namun, gangguan logistik akibat krisis membuat pengusaha harus mencari alternatif-alternatif lain.

Lebih lanjut Adhi mengatakan bahwa ada beberapa dampak tidak langsung yang akan dirasakan jika krisis berlangsung berkepanjangan, termasuk naiknya harga komoditi substitusi. "Global value chain akan terganggu dan kenaikan harga jual produk pangan olahan dan akan tercermin dalam inflasi. Perlu upaya efisiensi di semua lini untuk mengurangi beban," lanjutnya.

Infografik Weizen Export Russland Ukraine EN

Kenaikan harga pangan "berdampak fatal" bagi kaum miskin

Konflik berkepanjangan juga akan berdampak besar di Mesir, pengimpor gandum terbesar dunia. Jutaan orang bergantung pada roti bersubsidi yang terbuat dari biji-bijian yang diimpor dari Ukraina.

"Perang berarti kekurangan suplai, dan kekurangan berarti kenaikan (harga),” kata Ahmed Salah, ayah tujuh anak berusia 47 tahun, di Kairo. "Setiap kenaikan harga akan menjadi bencana, tidak hanya bagi saya tetapi bagi sebagian besar orang."

Anna Nagurney, profesor rantai pasokan, logistik dan ekonomi di University of Massachusetts Amherst mengatakan, "Gandum, jagung, minyak, padi-padian dan tepung sangat penting untuk ketahanan pangan, terutama di bagian dunia yang lebih miskin."

Sumber: dw.com.