BMKG soal Hujan Berhenti di Mandalika: Bukan Karena Pawang, tapi Faktor Durasi

  • Oleh : Redaksi

Selasa, 22/Mar/2022 12:35 WIB
BMKG soal Hujan Berhenti di Mandalika: Bukan Karena Pawang, tapi Faktor Durasi. Foto: istimewa. BMKG soal Hujan Berhenti di Mandalika: Bukan Karena Pawang, tapi Faktor Durasi. Foto: istimewa.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Sosok pawang hujan di MotoGP Mandalika Raden Rara Isti Wulandari atau lebih dikenal dengan Mbak Rara mencuri perhatian. Rara dianggap berhasil menghentikan hujan dalam waktu singkat.

Terkait hal tersebut, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, pihaknya sudah memprediksi akan terjadi hujan lebat pada tanggal 17 hingga 20 Maret. Hal itu diketahui dari bibit siklon tropis.

Baca Juga:
Status Gunung Anak Krakatau Naik ke Level III, BMKG: Waspada Potensi Tsunami

"Kalau kita liat fenomenanya kemarin sejak 3 hari yang lalu tanggal 17, 18, 19 itu sudah diperkirakan BMKG, bahwa di Mandalika itu akan terjadi hujan dengan intensitas ringan sampai lebat," kata Guswanto di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (21/3/2022).

"Kemudian tanggal 20 diperkirakan juga hujan lebat disertai badai petir, kenapa perkiraannya itu? Karena pada waktu itu terjadi bibit siklon tropis 93f yang dampaknya itu memberikan potensi pertumbuhan awan hujan di Mandalika," sambungnya.

Baca Juga:
Ternyata eh Ternyata! Mbak Rara, Sang Pawang Hujan MotoGP Mandalika Sering Mengawal Acara Kenegaraan

Guswanto menuturkan, berhentinya hujan pada tanggal 20 Maret atau bertepatan saat lomba bukan karena pawang hujan, tapi saat itu durasi hujan sudah mencapai punjaknya sehingga perlahan-lahan mulai reda sekitar pukul 16.15 sore.

"Buktinya kan dari awal pawang itu udah bekerja, tapi kan gak berhenti juga. Artinya itu. Jadi sebenarnya kemarin waktu berhentinya, itu bukan karena pawang hujan. Karena durasi waktunya sudah selesai. Kalau dilihat prakiraan lengkap di tanggal itu memang selesai di jam itu. Kira kira jam 16.15 itu sudah selesai, tinggal rintik-rintik itu. Bisa dilakukan balapan kalau dilihat dari prakiraan nasional analisis dampak yang kita miliki," rinci Guswanto.

Baca Juga:
BMKG: Terjadi 183 Kali Gempa Susulan di Sumbar Sejak Bencana 25 Februari Lalu

Guswanto menyebut, pawang hujan merupakan kearifan lokal. Hal itu tak bisa dikaitkan dengan sains. Apa yang dilakukan pawang hujan juga bisa dilakukan secara sains yakni dengan modifikasi cuaca.

"Sebenarnya kalau cerita tentang pawang hujan itu adalah kearifan lokal yang mereka miliki, dan itu tidak bisa dicampuradukan dengan antara sains dan kearifan lokal," tandasnya. (dn/sumber: kumparan.com)