Indonesia Sebut Peningkatan Perekonomian dan Kapasitas SDM jadi Fokus dalam Bahasan 53rd ASEAN STOM

  • Oleh : Naomy

Rabu, 29/Jun/2022 12:40 WIB
STOM ASEAN di Bali STOM ASEAN di Bali

 

BALI (BeritaTrans.com) - Setelah dua tahun dilaksanakan secara daring, 53rd ASEAN Senior Transport Officials Meeting (53rd STOM) akhirnya kembali digelar secara luring. 

Baca Juga:
Komisi V DPR Pertanyakan Penarikan Anggaran November-Desember Terbanyak, Ini Jawaban Kemenhub

Berlangsung selama dua hari dari 28 - 29 Juni 2022 di Bali, pertemuan ini dihadiri 10 negara anggota ASEAN untuk membahas berbagai isu pada seluruh sektor transportasi di masing-masing negara. 

Saat pembukaan 53rd STOM, Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Novie Riyanto yang juga merupakan Chairman Person STOM menyambut baik kesempatan yang diberikan kepada Indonesia selaku tuan rumah pelaksanaan 53rd ASEAN Senior Transport Officials Meeting. 

Baca Juga:
Kemenhub Simulasi Penanganan Kecelakaan Kapal di Lintas Ketapang-Gilimanuk

“Merupakan kehormatan besar bagi kami untuk menjadi tuan rumah pertemuan STOM pertama yang diadakan dalam format luring sejak awal pandemi dan menyambut peserta semua hari ini dari Pulau Dewata yang luar biasa ini," ujar Novie.

Kasubdit Angkutan Laut Luar Negeri Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Rifanie Komara ditunjuk sebagai delegasi Indonesia untuk sektor transportasi laut dalam 53rd STOM. 

Baca Juga:
Kemenhub Gelar Pelatihan Khusus Layanan Transportasi bagi Penyandang Disabilitas

Dia melaporkan perkembangan kesepakatan Indonesia - Filipina dan Indonesia - Malaysia dalam operasionalisasi Davao-General Santos-Bitung dan Dumai-Melaka RO-RO Shipping Routes yang bertujuan untuk peningkatan perekonomian tiap negara.

“Kami laporkan bahwa pelayaran Kapal Ro-Ro rute Davao-General Santos-Bitung, saat ini Indonesia dan Filipina masih berkomitmen untuk pengoperasiannya. Indonesia akan berkoordinasi lebih lanjut terkait keberlanjutan rute ini," urai Rifanie.
 
Selanjutnya dia juga menjelaskan terkait rute Ro-Ro Dumai-Melaka, saat ini Indonesia dan Malaysia sepakat untuk menunda operasionalisasi dan tengah fokus untuk mempersiapkan infrastruktur dan SOP agar sesuai dengan standar internasional.

Selain hal tersebut, pembahasan lain terkait transportasi laut yang diangkat, antara lain;
- Progress dari Regional Action Plan on Port Security (RAPPS) 2017 and Development of VTS Operator Training, termasuk finalisasi dari Best Practices Booklet in Port Security Measures for the Training of Trainer (ToT) Manual and Model Audit Training;
- Update pengambangan dari study terkait regional container shipping. 

Dalam hal ini, pertemuan akan mengadopsi Terms of Reference (TOR) dari study Enhancing Container Circulation to Support Maritime Transportation of Selected ASEAN Member States; dan 
- Perkembangan dari EU-ASEAN Maritime Transport Dialogue on the Implementation of the Maritime Labour Convention 2006.
 
Selain itu, sesaat sebelum 53rd STOM dimulai, Indonesia juga telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Singapura. 

Dalam pertemuan bilateral tersebut Indonesia mengapresiasi Training MoU bersama Singapura yang sudah berlangsung sejak tahun 2005 sampai saat ini. 

“Indonesia mengapresiasi kesepakatan yang telah berlangsung sejak tahun 2005, dan berkontribusi dalam pengembangan kapasitas SDM Direktorat Jenderal Perhubungan Laut," ujar Rifanie.

Hal lain terkait kemaritiman yang juga dibahas dalam 53rd STOM yaitu dukungan Indonesia dalam ASEAN Agreement on Aeronautical and Maritime Search and Rescue Cooperation pada 28th ASEAN Transport Ministers Meeting (28th ATM) yang akan ditandatangani oleh pimpinan SAR masing-masing negara pada Oktober mendatang dan disaksikan Menteri Perhubungan. 

Pertemuan 53rd STOM ini berpengaruh penting dalam membantu negara-negara anggota dalam pelaksanaan berbagai program yang bermanfaat untuk memperkuat jaringan transportasi dan konektivitas di ASEAN. (omy)