SCI Sebut Pelaku Industri Harus Bangun Strategi Efisiensi Logistik

  • Oleh : Naomy

Kamis, 04/Agu/2022 14:32 WIB
Joni Gusmail Joni Gusmail

 

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI) Joni Gusmali menjelaskan, strategi peningkatan efisiensi biaya logistik dari merampingkan tingkat persediaan, mengoptimalkan jaringan pengiriman secara lebih cerdas, menyediakan proses yang lebih baik, meningkatkan hubungan antara pemasok dan pihak ketiga dengan cara sharing ekonomi dan teknologi, serta digitalisasi. 

Baca Juga:
SCI Prediksi Kontribusi Sektor Transportasi dan Logistik 2023 Tembus Rp1.090,2 Triliun

"Perusahaan perlu mempertimbangkan peluang konsolidasi pengiriman, terutama untuk pengiriman less-than-truckload (LTL), memanfaatkan ruang penyimpanan dengan meningkatkan kepadatan penyimpanan, dan menurunkan tingkat kerusakan barang dalam pengiriman," ungkapnya, Kamis (4/8/2022).

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (1/8/2022) merilis data peningkatan volume barang yang diangkut dengan moda transportasi laut dan kereta. Pada periode Januari–Juni 2022 jumlah barang yang diangkut dengan moda transportasi laut sebanyak 156,3 juta ton atau naik 0,32 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. 

Baca Juga:
Kritik SCI: Logistik Nasional alami Darurat Regulasi

Peningkatan itu terjadi di Pelabuhan Makassar sebesar 20,15 persen, Tanjung Priok sebesar 7,97 persen, dan Panjang sebesar 3,51 persen. 

Sementara, jumlah barang yang diangkut dengan moda kereta api sebanyak 28,6 juta ton pada periode Januari–Juni 2022 atau naik 14,79 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. 

Baca Juga:
Prediksi SCI: Kontribusi Logistik terhadap PDB tahun 2022 tumbuh 1,08%

Peningkatan itu terjadi di semua wilayah Jawa non-Jabodetabek dan Sumatera masing-masing sebesar 15,06 persen dan 14,71 persen. 

"Peningkatan volume barang tersebut harus diikuti dengan peningkatan efisiensi para pelaku logistik, karena biaya transportasi pengiriman barang merupakan kontributor terbesar yaitu sekitar 60-70 persen dari biaya logistik," urai dia.

Kerusakan dalam pengiriman produk atau komoditas berdampak cukup besar. Data FAO mencatat tingkat kerusakan dalam proses distribusi di wilayah Asia Selatan dan Tenggara, termasuk Indonesia, sekitar 5-6 persen untuk daging dan sekitar 6-7 persen untuk komoditas perikanan. 

Bahkan, kata Joni, tingkat kerusakan komoditas buah dan sayur mencapai sekitar 19 persen.

Peningkatan efisiensi biaya logistik juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pemasok karena pemasok dapat menutupi beberapa biaya logistik langsung. 

"Kerja sama bisa dengan membuat konsorsium pembeli dan pemasok untuk pengadaan dengan biaya lebih rendah dan dalam volume yang lebih besar," tuturnya.

Dia juga bilang bahwa perusahaan perlu mengoptimalkan layanan pergudangan. Jika volume pengiriman cukup banyak antara dua wilayah, terutama untuk jarak jauh, pelaku logistik dapat menyimpan produk lebih dekat ke pelanggan, sehingga dapat mengurangi biaya transportasi secara drastis.

Pelaku logistik perlu memastikan pengoperasian gudang pengiriman serta penerimaan secara efektif dan efisien, termasuk dengan menggunakan sistem pemuatan kontainer otomatis untuk mengoptimalkan biaya tenaga kerja. 

Perusahaan perlu merencanakan penggunaan multimoda, mendorong pengorganisasian operasi yang terkait langsung dengan tenaga kerja dan aset, serta persediaan. (omy)