KNKT: Pelayaran Kapal Ikan Perlu Terus Dibenahi

  • Oleh : Naomy

Jum'at, 05/Agu/2022 06:11 WIB
FGD KNKT FGD KNKT

TEGAL (BeritaTrans.com) - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat sebanyak 483 insiden kecelakaan kapal perikanan Indonesia kurun waktu 2018-2021.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, hal ini harus segera dibenahi mengingat banyaknya jumlah kecelakaan dan korban jiwa.

Baca Juga:
Ini 8 Fakta Kecelakaan Perahu Gako Menurut KNKT

"KNKT menilai pelayaran kapal-kapal ikan dari tahun ketahun kecelakaannya tidak berkurang, bahkan bertambah banyak," ulasnya di dalam Focus Group Discussion (FGD) "Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan sebagai Upaya Mencegah Kebakaran Kapal di Pelabuhan Perikanan" di Tegal, Kamis (4/8/2022).

Tegal merupakan salah satu kota yang mempunyai pelabuhan perikanan cukup besar di pulau Jawa. Ribuan kapal ikan hilir mudik dipelabuhan perikanan kota Tegal.

Baca Juga:
KNKT Beberkan Hasil Investigasi Kecelakaan Kapal Yunicee di Selat Bali yang Tewaskan 9 Penumpang

FGD menampilkan sejumlah nara sumber antara lain Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko yang berbicara mengenai investigasi kecelakaan kapal perikanan, Asisten Deputi Navigasi Keselamatan Kantor Kemenkomarves Nanang Widiatmojo yang memaparkan materi tentang koordinasi rencana aksi tindak lanjut penanganan kebakaran di pelabuhan perikanan, Subkoordinator Tata Laksana dan Tertib Bandar Kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan Zulfikar, Singgih dari HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia), Retno Widya Ningsih, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Mas Semarang, dan Praktisi Asuransi Surachman Jusuf yang membahas dukungan asuransi dalam operasional kapal perikanan.

FGD dibagi dua sesi dimoderatori wartawan senior liputan Perhubungan Budi Nugraha yang juga wartawan Harian Umum Suara Merdeka.

Baca Juga:
KNKT Sampaikan Kinerja Tahun 2021, Moda Pelayaran Terbanyak Alami Kecelakaan

"FGD ini merupakan kelanjutan FGD
yang dilaksanakan di Pati 17 November 2021 lalu, di mana kegiatan ini ditujukan untuk membahas keselamatan kapal perikanan dan mencari solusi atas permasalahan yang dialami oleh para nelayan," ungkap Soerjanto. 

Sebelumnya bersama sejumlah instansi, KNKT juga mengadakan pembahasan bersama Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam Maritime Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, serta Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

KNKT mempertanyakan bagaimana kapal perikanan yang mempunyai ukuran Gross Tonnage (GT) kecil mampu dan dapat berlayar pada kondisi cuaca yang buruk.

Seharusnya kapal perikanan berlayar sesuai spesifikasi kapal yang telah ditentukan. 

"Lokasi pelayarannya berdasarkan di mana banyak ikan dan nelayan kapal ikan akan mengarahkan kapalnya ke sana," ujarnya.

KNKT juga mempertanyakan tindakan yang akan dilakukan oleh kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk peningkatan keselamatan kapal perikanan, sehingga dapat menekan angka kecelakaan kapal perikanan.

Pihaknya telah memberikan rekomendasi keselamatan kepada KKP dari tahun 2014, namun rekomendasi KNKT tersebut hingga saat ini belum dapat ditindaklanjuti atau masih berstatus open.

Perlu juga diatur bagaimana spesifikasinya, agar menyesuaikan dengan jumlah awak kapal yang berada di atas kapal.

"Kapal kecil namun awak kapal ada yang sampai 30 orang. Walaupun pengawakan kapal-kapal perikanan memiliki teknologi yang tidak sulit (padat karya) namun tetap diperhatikan kapal harus layak dari sisi kemanusiaan," imbuh dia.

Kualifikasi awak kapal juga harus diperhatikan dan ditingkatkan.

Hasil temuan KNKT di lapangan menunjukkan bahwa peralatan di atas kapal seperti Vessel Monitoring System (VMS) belum optimal dilaksanakan dan standarisasi terkait radio (peralatan navigasi) di atas kapal belum ada.

Sebelum berlayar agar memastikan memeroleh informasi cuaca dari BMKG. Apakah kapal perikanan tersebut sanggup berlayar di kondisi cuaca tersebut.

KNKT meminta agar KKP dapat menidentifikasi masalah-masalah yang ada dikapal-kapal perikanan agar dapat menentukan mitigasinya, sehingga semakin berkurang kecelakaan kapal perikanan.

Wakil Ketua KNKT Haryo menjelaskan, sejumlah insinden kebakaran di pelabuhan perikanan mulai di Pelabuhan Benoa Bali, Pati, Muara Angke, Juwana Pati dan terbaru di Cilacap dan Tegal.

Asisten Deputi Bidang Navigasi dan Keselamatan Maritim Nanang Widiyatmojo  mengatakan, insiden kebakaran kapal berulang di Tegal cukup mengkhawatirkan dan meresahkan berbagai pihak, khususnya bagi keselamatan para Anak Buah Kapal dan nelayan.
 
Soerjanto menambahkan, pihaknya sengaja melaksanakan FGD di Kota Tegal, untuk mendalami dan menggali informasi terkait persoalan kebakaran kapal di Pelabuhan Perikanan Kota Tegal.

Menurutnya, Pemerintah harus mengetahui bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi terjadi kebakaran kapal, agar tidak terjadi lagi dikemudian hari.

Pada kasus kebakaran kapal perikanan, tugas pokok dan fungsi KNKT adalah untuk menjamin peningkatan keselamatan, baik kapal dan awak kapal.

Beberapa hal yang disampaikan Soerjanto adalah terkait dengan kelengkapan prasaran keselamatan yang kadang diabaikan. 

Selain itu juga menyampaikan fungsi BMKG, sebelum berlayar, awak kapal harus mendapatkan info yang komprehensif dari BMKG terkait cuaca.

Dia berharap BMKG bisa memilki kantor di setiap pelabuhan-pelabuhan perikanan, untuk mempermudah memberikan informasi kepada awak kapal. Ia mencontohkan keberadaan kantor BMKG di bandara-bandara.

Menurutnya yang tidak kalah penting menurutnya adalah asuransi bagi kapal dan awak kapal.

Dia menilai bahwa asuransi sangat dibutuhkan, agar bisa membantu keluarga yang ditinggalkan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, asuransi ini penting untuk mengurangi beban keluarga yang ditinggalkan.

FGD yang juga dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting dan diikuti oleh instansi dan pihak-pihak terkait di luar Kota Tegal, diharapkan bisa menjadi gambaran dan pengetahuan agar bisa diaplikasikan di daerah masing-masing.

Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono yang hadir secara langsung dalam acara tersebut menilai, pelaksanaan FGD KNKT di Kota Tegal sangat tepat, mengingat Kota Tegal adalah daerah pesisir yang memiliki potensi dalam industri perikanan dan kelautan.

Ada begitu banyak kapal nelayan yang berlabuh serta berlayar dari Pelabuhan Tegal.

"Di waktu-waktu tertentu Pelabuhan Perikanan Kota Tegal akan penuh sesak dengan kapal-kapal nelayan yang berlabuh, apalagi jika mendekati hari Raya Idul Fitri, pelabuhan penuh dengan kapal nelayan," tuturnya.

Kapal-kapal itu bersandar dengan jarak yang berdekatan. Apabila terjadi kebakaran di satu kapal, maka resiko untuk menyambar kapal lain cukup besar.

Beberapa waktu yang lalu, terjadi dua kali kebakaran yang menyebabkan puluhan kapal di dok maupun Pelabuhan Kota Tegal terbakar. 

Akibat kebakaran tersebut kapal-kapal yang menjadi armada sekaligus fasilitas kerja yang sangat penting bagi para nelayan hangus terbakar.

Dedy Yon menuturkan Pemkot Tegal telah berupaya melakukan sosialisasi dalam rangka pencegahan, kepada pemilik kapal dan para anak buah kapal.

Dia menilai, FGD yang dilaksanakan KNKT perlu dilakukan bersama stakeholder terkait untuk mencari solusi dan mengambil langkah-langkah efektif dan efisien dalam mencegah terjadinya kebakaran terulang.

Pemkot Tegal tidak dapat bekerja sendiri dalam mengatasi permasalahan tersebut, menurut Wali Kota Tegal, diperlukan sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak.

“Kami mengajak semua pihak yang terkait permasalahan ini dapat sengkuyung bersama-sama mencurahkan pikiran, tenaga dan juga biaya, dalam rangka mewujudkan manajemen pencegahan dan penanggulangan kebakaran kapal di Pelabuhan,” tutup Dedy. (omy)