Jepang Kenalkan Platform `Pendeteksi Kepadatan` Atasi Desak-desakan di Kereta

  • Oleh : Redaksi

Sabtu, 01/Okt/2022 09:57 WIB
Kereta komuter di Tokyo (AP/Kiichiro Sato) Kereta komuter di Tokyo (AP/Kiichiro Sato)

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Mungkin biasa bagi warga Jepang untuk berdesak-desakan di kereta saat jam sibuk, bahkan harus didorong oleh petugas kereta agar pintu menutup. Kini, mereka mempunyai cara untuk mengurai kepadatan tersebut.

Cara ini membantu para komuter untuk mengetahui gerbong mana yang padat. Sehingga, para calon penumpang bisa memilih gerbong yang masih memungkinkan untuk dimasuki.

Baca Juga:
Gempa di Jepang, Kereta Api Tergelincir ke Luar Rel, Penumpang Terluka

Dilansir dari SoraNews, Sabtu (1/10/2022) Tokyo Metro sedang melakukan uji coba platform yang menunjukkan bagian mana paling tidak ramai di gerbong kereta yang bisa dilihat para komuter. Jadi, kamu bisa melihat gerbong yang masih bisa dimasuki di kereta selanjutnya.

Cara ini dilakukan karena Tokyo Metro ingin mengurai kepadatan sadis kereta menjadi kepadatan biasa tanpa harus saling mendorong satu sama lain. Tentu traveler sudah sering melihat video bagaimana kepadatan kereta Jepang saat jam sibuk, bukan?

Jadi, Tokyo Metro ingin para komuter tersebar merata di setiap gerbong kereta. Mereka juga bisa menentukan ingin masuk melalui gerbong dan peron mana setelah mengetahui kepadatan yang ditampilkan platform. Jadi bisa deh para komuter memilih yang paling sepi.

Sejumlah stasiun Tokyo Metro sekarang memiliki gerbang platform otomatis dengan layar tampilan video di atasnya. Layar menggunakan skala kode warna empat tingkat, dimulai dengan biru (gerbong memiliki kursi kosong) dan berlanjut ke hijau (tidak ada kursi kosong, tetapi relatif tidak ramai), oranye (hanya berdiri, bahu akan bersentuhan dengan orang lain), dan merah (sangat ramai).

Untuk melakukan semua itu, Tokyo Metro akan menggunakan kamera penginderaan kedalaman yang dipasang di platform untuk melakukan pemeriksaan visual kereta dan memasukkan informasi itu ke program AI yang menghitung peringkat kepadatan dan meneruskan hasilnya ke tampilan di stasiun berikutnya. Perusahaan juga akan menggunakan tanggapan survei penumpang untuk membantu penyesuaian.

Tes akan berlanjut hingga akhir Maret 2023 yang biasanya merupakan akhir tahun bisnis di Jepang. Andai berhasil, kita mungkin akan melihat tampilan keramaian di platform Tokyo Metro lainnya dalam waktu dekat.(fh/sumber:detik)