Indonesia Bareng Australia Gelar Konferensi Aviasi Keamanan Siber

  • Oleh : Naomy

Jum'at, 02/Des/2022 08:16 WIB
Konferensi terkait Siber penerbangan Konferensi terkait Siber penerbangan

 

BALI (BeritaTrans.com) - Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bekerjasama dengan The Australian Department of Home Affairs' Cyber and Infrastructure Security Centre (CISC) dan the US Transportation Security Administration (TSA) menyelenggarakan Konferensi Aviasi dengan tema Cyber Security in Aviation Conference di Bali 1-2 Desember 2022.

Baca Juga:
Ditjen Hubud Gelar Pelatihan Kehumasan di Wilayah Bandara Cilacap dan Sekitarnya

Konferensi ini tidak hanya melibatkan Indonesia dan Australia, namun dihadiri juga oleh wakil dari ICAO, US TSA, ACI, IATA serta stakeholders keamanan siber lainnya.

Diharapkan para peserta dapat berkontribusi sehingga membawa dampak positif untuk masa depan industri penerbangan global.

Baca Juga:
Sempat Ditutup Sejak 2021, Penerbangan Sentani-Kiwirok Dibuka Kembali

Konferensi ini dibiayai oleh Pemerintah Australia dengan menghadirkan pembicara dari Indonesia, Australia, Amerika Serikat, International Civil Aviation Organization (ICAO), Airport Council International (ACI), International Air Transport Association (IATA) dan Badan Siber Sandi Negara (BSSN), serta stakeholders keamanan siber baik domestik maupun internasional. 

Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nur Isnin Istiartono membuka dan memberikan sambutan terkait bahaya keamanan siber di bidang penerbangan. 

Baca Juga:
Antisipsi Insiden Siber di Sektor Penerbangan, Ditjen Hubud Luncurkan IAS-CSIRT

"Semakin berkembangnya era digital, risiko ancaman siber juga beragam dan dapat memengaruhi tak hanya keamanan tetapi juga keselamatan penerbangan sipil. Oleh karenanya, diperlukan persiapan dan mitigasi yang siap dan baik," ungkapnya. 

Kejahatan siber ini lebih sulit dan rumit untuk ditelusuri asal usulnya, sehingga demi keamanan dan keselamatan penerbangan sipil, perlu adanya kerja sama dan kolaborasi yang intens dengan ICAO dan stakeholders keamanan siber terkait lainnya untuk mengimplementasikan strategi keamanan siber.

Indonesia telah melakukan regulasi terkait keamanan siber sejak tahun 2017 di Program Keamanan Penerbangan Sipil Nasional, yang terus berkembang dan diperbarui untuk implementasi keamanan siber dengan mengacu pada internasional standar. 

“Kami terus melakukan usaha yang lebih baik dalam rangka memelihara keberlangsungan standar dan kebijakan keamanan penerbangan sesuai dengan regulasi ICAO, dan untuk memastikan efektifitas dari implementasinya maka perlu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), infrastruktur serta teknologi. Untuk itu sejak tahun 2019 telah dilakukan pelatihan terkait cyber drill dan cyber awareness,” ujarnya. 

Di sela-sela konferensi tersebut, dilakukan pula pertemuan bilateral antara Indonesia dan Australia untuk meningkatkan hubungan kerja sama di bidang keamanan siber dalam industri penerbangan.

Perlu diketahui, pada tahun 2020 Indonesia dan Australia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama keamanan transportasi yang ditandatangani oleh Menteri Perhubungan Indonesia dan Minister of Home Affairs of Australia.

“Untuk meningkatkan  dan menjaga keamanan penerbangan tentu kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Perlu dilakukan kerja sama dan kolaborasi secara berkala dengan seluruh elemen penerbangan. Maka dari itu, kami harap kerja sama ini juga dapat tercapai pada level regional,” pungkas Isnin. (omy)