Tahun ini ASDP Bidik Perluasan Digitalisasi di 10 Pelabuhan

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 15/Feb/2024 19:05 WIB
Petugas pelabuhan melayani kebutuhan pengguna jasa ASDP Petugas pelabuhan melayani kebutuhan pengguna jasa ASDP

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Tahun 2024, PT ASDP Indonesia Ferry menargetkan perluasan implementasi layanan digitalisasi tiket online ke 10 pelabuhan penyeberangan lainnya.

Di 2023, ASDP telah sukses menerapkan digitalisasi layanan tiket online di 20 pelabuhan. 

Baca Juga:
ASDP: Arus Balik Lancar, Pemudik Sudah Bertiket Saat Tiba di Pelabuhan Capai 98,2 Persen

Di antaranya adalah Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk, Ajibata, Ambarita, Lembar, Padangbai, Jangkar, Sape, Labuan Bajo, Jepara, Karimunjawa, Ujung, Kamal, Pototano, Kayangan, Tanjung Kalian, Gorontalo, dan Pagimana. 

"Rencananya untuk perluasan adalah di empat pelabuhan penyeberangan Cabang Ambon menjadi yang pertama untuk diterapkan digitalisasi tiket online di tahun 2024 ini," tutur Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin di Jakarta, Kamis (15/2/2024). 

Baca Juga:
65% Pemudik Telah Tinggalkan Sumatera Kembali ke Jawa dengan Angkutan Penyeberangan

Selanjutnya untuk pelabuhan lainnya akan diimplementasikan secara bertahap dengan target total 10 pelabuhan penyeberangan. 

Cabang lainnya yang direncanakan akan segera mendapatkan tambahan fasilitas sistem pembayaran online adalah cabang Batulicin, Bajoe, Ternate, dan Bitung. 

Baca Juga:
Arus Balik Lebaran dari Jawa ke Bali Melalui Penyeberangan Terpantau Lancar

Implementasi tersebut menurutnya, mempermudah pengguna jasa untuk mendapatkan/membeli tiket ferry yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja (tidak perlu berebutan antre di pelabuhan). 

Potensi terjadinya kepadatan di area pelabuhan penyeberangan pun dapat diminimalisir dengan baik karena populasinya tersebar secara merata sesuai dengan kuota tiket yang dibuka.

"Pengguna jasa juga akan menerima e-tiket secara real time setelah proses pembayaran tiket dilakukan, yang kemudian pengguna jasa dapat menunjukkan e-tiket tersebut di pelabuhan untuk dapat melakukan check in sesuai dengan waktu yang telah ditentukan," bebernya.

Shelvy menjelaskan sejarah perubahan pembelian tiket di ASDP di mana sebelum akhir 2008, ASDP masih menerapkan penjualan tiket sobek (kertas) secara manual di pelabuhan. 

Kemudian di akhir 2008, mulai diberlakukan RFID ticketing (tiket keras) di mana pembelian tiket tetap dilakukan di loket pelabuhan. 

Pada Agustus 2018, dilakukan digitalisasi pembayaran tiket menggunakan prepaid card (cashless).

"Terakhir sejak Mei 2020, ASDP mulai menerapkan layanan penuh tiket online di Pelabuhan Merak, Bakauheni, Ketapang, dan Gilimanuk. Tercatat total user platform Ferizy hingga 31 Desember 2023 mencapai 1.976.486 user," kata Shelvy.

Adapun waktu tunggu keberangkatan yang lebih singkat turut berkontribusi dalam mengurangi jumlah sampah, terutama sampah plastik di area pelabuhan. 

Dengan demikian, kehadiran ferizy juga merupakan bentuk tanggung jawab ASDP dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan menekan emisi karbon yang diterapkan mulai di pelabuhan, kapal penyeberangan, hingga lingkungan sekitarnya. 

ASDP memahami pentingnya beradaptasi mengikuti tren perkembangan teknologi agar dapat terus memberikan pengalaman yang terbaik serta meningkatkan kualitas layanan penyeberangan kepada seluruh pengguna jasa.

"Digitalisasi telah menjadi sebuah keharusan dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam melakukan transaksi pembayaran pada layanan transportasi," ujarnya. 

Digitalisasi juga sebagai bukti kontribusi nyata ASDP dalam memperlancar konektivitas antarwilayah, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperlancar distribusi arus logistik ke seluruh wilayah Indonesia.

Layanan tiket online Ferizy merupakan salah satu produk dari terwujudnya salah satu misi ASDP, yaitu penerapan teknologi berbasis nilai, sebutnya.

"Tujuannya, tentu saja untuk turut serta dalam pengembangan ekonomi daerah melalui sektor logistik dan pariwisata," tutup Shelvy. (omy)