Pengemudi ini Nginap Berhari-hari di Terminal Bekasi, Tapi Bus Dedy Jaya Tujuan Slawi yang Dipilotinya Cuma Dapat Segelintir Penumpang

  • Oleh : Fahmi

Sabtu, 21/Nov/2020 08:27 WIB
Pengemudi bus PO Dedy Jaya lintas Slawi-Bekasi bernama Edi tengah menunggu penumpang untuk diberangkatkan dari Terminal Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/11/2020). (Foto:Beritatrans&Aksi) Pengemudi bus PO Dedy Jaya lintas Slawi-Bekasi bernama Edi tengah menunggu penumpang untuk diberangkatkan dari Terminal Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/11/2020). (Foto:Beritatrans&Aksi)

BEKASI (BeritaTrans.com) - Semakin sepinya penumpang angkutan transportasi darat, membuat suasana di dalam bus antarkota antarprovinsi (AKAP) menjadi menyedihkan.

Hal itu diungkapan sopir PO Dedy Jaya lintas Tegal-Slawi-Bekasi. Edi 44 tahun menceritakan, bahwa kapasitas bangku kosong di dalam busnya lebih banyak dari jumlah penumpang yang dibawa sehari-hari.

Baca Juga:
13 Tahun Kemudikan Bus PO Nusantara, Huda Dapat Rp200.000-an Bolak-balik Kudus-Jakarta

"Banyangkan, ya Mas! Bangku 60 diisi tujuh kadang delapan orang, kan seram,... Kalo penumpang tidur semua. Bengong kitanya kan," kata Edi pilot Dedy Jaya tersebut kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id di Terminal Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/11/2020).

Jumlah penumpang dan bangku yang tersedia tidak seimbang tersebut dikatakan Edi juga membuat pendapatannya berkurang. Hal itu dirasakannya semenjak pandemi Covid-19.

Baca Juga:
Kisah Pengemudi Bus Rasa Sayang Jurusan Terminal Pulogebang-Bima Bolak-balik Seberangi 3 Pulau

"Sekarang susah nyari penumpang di jalan. Dapatnya lebih kecil. Enggak sebanding dengan risikonya di jalanlah ya," keluh Bapak satu orang anak ini.

Warga Kelurahan Randugunting, Tegal, Jawa Tengah ini mengungkapkan, dari tahun 2000 saat pertama kali memulai karir menjadi pengemudi bus, baru tahun ini merasakan sepinya penumpang dan harus juga lebih sering menginap atau perpal di terminal pemberangkatan ataupun tujuan.

Baca Juga:
Layani Trayek Baru dari Pekalongan, Pengemudi Bus Sinar Jaya ini Kerap Diminta Uang oleh Preman Tanjung Priok, Padahal Penumpang Sepi

Untuk operasional pulang pergi, Edi pun kerap merasa pusing lantaran tidak cukupnya penumpang. Dia juga harus rela menanti di hari berikutnya untuk adanya penumpang yang akan diangkut.

"Ini mau jalan lihat dulu penumpangnya. Kadang kalau enggak kuat (red:cukup), besok berangkat. Kalau besok enggak kuat juga tunggu semalam malam lagi," cerita Edy.

Dia  kerap mengetemkan busnya selama dua, sampai tiga hari di terminal, yang ada di Slawi ataupun di Bekasi.

"Kalau dari sininya cuma dapat lima orang, enam orang ya enggak kuat. Diover sama PO lain," tambahnya.

Saat ditemui di Terminal Bekasi, bus Edi sebelumnya hanya mengangkut tujuh orang penumpang dari Slawi. Dia harus membawa delapan sampai 10 orang penumpang lagi untuk mencukupi uang operasional bus seperti bahan bakar, tol, gajinya dan keperluan lain.

Edi pun pernah untuk satu trip dijalani selama enam hari di perjalanan hanya mendapatkan uang Rp40 ribu.

"Pusing mas sekarang, kemarin pas libur panjang maulit saya berangkat Rabu pulang Minggu cuma bawa ke rumah Rp40 ribu," ungkapnya.

Padahal waktu tempuh busnya adalah hanya enam jam dengan melalui jalan tol lintas Jawa.

Saat ini armada bus Dedy Jaya yang dibawanya telihat cukup tua dengan ketersediaan bangku penumpang dua baris di sebalah kiri dan tiga baris bangku di sebalah kanan, berjumlah sebanyak 60 seat.

Saat ini diungkapkan Edi, tarif bus Slawi-Bekasi mengalami kenaikan karena jumlah penumpang yang berkurang.

"Kalau dari sini Rp100 ribu, kalau dari Slawi Rp120 ribu, itu dikarenakan penumpangnya sedikit," ungkapnya.

Pandemi tidak hanya berdampak pada bus tersebut. Saat ini rata-rata semua PO mengalami hal sepinya penumpang. Mulai dari perusahaan, sopir, agen termasuk 'calo' atau sales tiket lapangan juga merasakan dampak sepi penumpang.(fahmi)