Dengan Pelabuhan yang Ramai Didatangi Kapal China, India & Arab, Cirebon Dibangun Sunan Gunung Jati sebagai Kerajaan Bebasis Maritim

  • Oleh : Redaksi

Kamis, 26/Nov/2020 08:09 WIB
Foto ilustrasi Foto ilustrasi

CIREBON (BeritaTrans.com) -  Sejarawan Cirebon, Raffan S Hasyim menceritakan, dari berbagai sumber tradisional, semula di daerah pesisir Cirebon terdapat tiga pelabuhan, yaitu Muhara Jati, Japura, dan Singapura.

“Mungkin dulunya ketiga pelabuhan itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh. Diperkirakan pelabuhan Cirebon dibangun pada abad ke-15,” ungkap Raffan kepada JawaPos.com, Minggu (18/3).

Baca Juga:
Galangan Kapal Gamatara Layani 10 Kapal/Bulan

Seiring perjalanan waktu, Cirebon berkembang menjadi kota pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa. Menurut pria yang akrab disapa Opan ini, bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan Cirebon sebagai kota pelabuhan penting di Pulau Jawa.

Pertama, letak geografisnya strategis. Pelabuhan Cirebon berada pada lokasi berbentuk teluk, sehingga terlindung dari gelombang pasang air laut.

Baca Juga:
Pelabuhan Cirebon Sempat Lumpuh

Kedua, pelabuhan itu terletak di bagian tengah pesisir utara Pulau Jawa dan cukup jauh dari pelabuhan lain, yaitu Jepara, Tuban, dan Surabaya yang berada di sebelah timur Pulau Jawa dan Kalapa (Sunda Kalapa) serta Banten di sebelah barat Pulau Jawa.

“Ketiga, pantai Cirebon mudah didatangi oleh kapal berukuran cukup besar. Dan keempat, hubungan antara pelabuhan dengan daerah pedalaman sangat lancar, baik melalui sungai maupun jalan darat,” ungkapnya.

Baca Juga:
Pelabuhan Cirebon Akan Dikembangkan Jadi Terminal Peti Kemas

Lebih lanjut Opan mengatakan, sungai-sungai di Cirebon waktu itu digunakan sebagai prasarana lalu-lintas untuk bersandarnya kapal besar. Hal tersebut disaksikan oleh pelaut ternama asal Portugis, Tome Pires pada tahun 1513.

Dalam catatan perjalanannya, Time Pires menyatakan bahwa Cirebon adalah kota pelabuhan yang baik dan ramai oleh kegiatan perdagangan.

Sejarah

Pada tahun 1415, armada China yang dipimpin oleh Laksamana Te Ho dan Kun Wei Ping berlabuh di Muara Jati (Pelabuhan Cirebon sekarang). 

Dalam Kitab Caruban Purwaka Nagari (KCPN) dijelaskan armada China transit di Muara Jati untuk membeli perbekalan, baik air bersih maupun pangan dalam perjalanannya ke Majapahit.

Para tokoh sepuh Cirebon berhasil membangun kerja sama dengan Te Ho dalam pembuatan menara suar. Menara suar tersebut merupakan sarana penting dari sebuah pelabuhan sebagai tanda bagi kapal-kapal yang akan berlabuh di malam hari.

Setelah kedatangan armada China dan pembangunan menara suar, pelabuhan Muara Jati, Cirebon menjadi ramai. Banyak pedagang berjual beli dan berlabuh di pelabuhan. Mereka diantaranya terdiri dari orang China, Arab, Persia, India, Malaka, Tumasik, Pasai, Jawa Timur, dan Palembang.

Oleh karena itu, Cirebon pun memiliki beragam corak budaya sebagai akibat hadirnya para pendatang. Budaya Cina dan Arab juga melengkapi kebudayaan masyarakat Cirebon sebagaimana sebuah daerah pesisir lainnya.

Hal itu tercermin dari lambang naga yang menjadi khas kebudayaan Cina yang terdapat pada kereta pusaka, motif hiasan panji, dan batik yang bermotif mega. Arsitektur bangunan masjid dan gapura mendapat pengaruh dari perpaduan agama Hindu dan Islam.

Dengan ditemukannya jalur sutera laut, mulai muncul pelabuhan-pelabuhan baru sebagai pusat-pusat perdagangan yang membentang dari China hingga Eropa.

Begitu juga dengan Cirebon, karena letak geografisnya di daerah pesisir, maka termasuk jalur perdagangan Nusantara. Kedatangan kapal-kapal asing ke pelabuhan Muara Jati memperjelas keberadaan Cirebon dalam jalur perdagangan internasional.

Daerah pedalaman yang mengelilingi Cirebon merupakan wilayah penyangga dengan tanah subur yang menghasilkan produksi pertanian dalam jumlah besar, seperti sayur mayur, buah-buahan, macam-macam daging, serta padi. Dari produksi pertanian yang berasal dari daerah pedalaman ini, Cirebon menjadi pelabuhan yang ramai.

Adanya jaringan darat yang menghubungkan pelabuhan dengan daerah pedalaman juga menjadi faktor penting. Luasnya jaringan darat itu masih ditambah dengan adanya jalur transportasi sungai yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi yang telah mendorong para petani, pedagang, dan pengrajin untuk meningkatkan aktivitas mereka.

Dalam naskah Kertabumi dijelaskan bahwa barang-barang dagangan ekspor berupa garam, terasi, beras tumbuk, rempah-rempah, dan kayu jati mempunyai daya tukar yang tinggi sehingga menjadi komoditi andalan bagi Cirebon. Sedangkan komoditi impornya berupa logam besi, perak, emas, sutra, dan keramik halus.

Kota Cirebon mengalami perkembangan pesat saat kemunculan tokoh besar Syarif Hidayatullah atau biasa disebut Sunan Gunung Jati (1470 M), cucu dari raja Siliwangi dari Padjadjaran dan menantu Walangsungsang, seorang syahbandar Muara Jati.

Di bawah kepemimpinannya, Cirebon yang sudah masuk Islam memutuskan hubungan dengan Kerajaan Galuh yang masih Hindu. Dengan begitu, berdirilah kerajaan Islam Cirebon yang bercorak maritim.

Agar pelabuhan Cirebon dapat berfungsi secara maksimal, Sunan Gunung Jati melakukan perbaikan pada berbagai bangunan yang menunjang aktivitas perdagangan dan pelayaran.

Disamping itu, dibangun semacam perbengkelan, baik untuk membuat atau memperbaiki perahu-perahu ukuran besar yang mengalami kerusakan. Dengan demikian, pelabuhan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pedagang pribumi atau pedagang asing yang sudah banyak bertempat tinggal di sekitar pelabuhan.

Sebelum pedukuhan-pedukuhan di Cirebon dan Indramayu bermunculan, terdapat tiga pelabuhan penting yaitu Pelabuhan Japura (Losari), Muara Jati (Cirebon), dan Cimanuk (Indramayu). Pelabuhan Japura yang dikepalai oleh Lebe Usa sudah ramai dikunjungi para pedagang sebelum Dukuh Losari berdiri.

Sebelum Desa Kebon Pesisir didirikan oleh Walangsungsang, pelabuhan Muara Jati yang dipimpin oleh Jumajan Jati juga sudah mencapai kemapanannya.

Demikian pula dengan Pelabuhan Cimanuk, lebih awal dipadati para pengunjung dari mancanegara sebelum Arya Wiralodra mendirikan Pedukuhan Cimanuk (sekarang Indramayu), termasuk Desa Babadan.

Ki Gedeng Jumajan Jati adalah seorang juru labuhan yang berperan penting dalam proses pembangunan Pelabuhan Muara Jati. Projek besarnya yang terkenal adalah pembangunan mercusuar yang dikerjakan oleh orang-orang asal Majapahit. Sebagai upahnya, para pekerja diberi aneka rempah, diangkut ke Majapahit dengan menggunakan perahu hingga penuh.

Pengembangan Pelabuhan Cirebon
Setelah melewati masa keemasannya, pelabuhan ini dibangun kembali pada 1865 oleh pemerintahan kolonial Belanda serta diperluas dengan pembangunan kolam pelabuhan dan pergudangan. Ketika itu Pelabuhan Cirebon masih berada dalam struktur organisasi Pelabuhan Semarang.

Kemudian sejak tahun 1957 berada di bawah Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Seiring dengan perkembangan, sejak 1983 pelabuhan ini menjadi salah satu cabang pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang berkantor pusat di Jakarta.

Rencana untuk mengembangkan pelabuhan Cirebon menjadi pelabuhan yang maju dan modern yang terangkum dalam Rencana Induk Pelabuhan (RIP). Mengingat, pelabuhan Cirebon adalah pelabuhan besar yang sudah selayaknya diberikan porsi sesuai kapasitasnya, bukan hanya dijadikan museum sejarah atau heritage semata.

Beberapa tahapan pengembangan pelabuhan, diantaranya adalah reklamasi dan membangun dermaga serta membangun jalur kereta api yang terintegrasi dengan pengangkutan barang. Kemudian membangun terminal penumpang, yang kemudian dilanjutkan dengan membangun pelabuhan yang menjorok ke tengah laut.