Pengemudi Bus Sinar Jaya: Sisa dari Narik Ditabung Buat Buka Warung

  • Oleh : Bondan

Senin, 30/Nov/2020 18:24 WIB
Ozim sudah 5 tahun menjadi pengemudi PO Sinar Jaya trayek Bekasi-Pekalongan. Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id Ozim sudah 5 tahun menjadi pengemudi PO Sinar Jaya trayek Bekasi-Pekalongan. Foto: BeritaTrans.com dan Aksi.id

BEKASI (BeritaTrans.com) - Ozim (45) sudah lima tahun menjadi pengemudi di Perusahaan Otobus (PO) Sinar Jaya trayek Bekasi-Pekalongan.

Pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat, ini menceritakan sebelum menjadi pengemudi bus Sinar Jaya, pernah membawa truk pengangkut pasir dari Indramayu tujuan Surabaya.

Baca Juga:
Sopir Bus Sari Indah Nginap di Terminal Pulo Gebang: Di Sini Kerajaan Nyamuk

“Sebelum di Sinar Jaya, saya awalnya bawa truk pasir dari Indramayu ke Surabaya,” cerita Ozim saat ditemui di terminal Kota Bekasi, Senin (30/11/2020)

Selama lima tahun mengabdi di Sinar Jaya, penghasilannya tidak berbeda jauh dengan sebelumnya sebagai pengemudi truk, namun lebih aman sebagai pengemudi bus.

Baca Juga:
20 Tahun Kemudikan Bus Raya, Jarot: Baru Kali ini Penumpang Ambyar

“Kalau penghasilan dibilang sama pas saya jadi pengemudi truk. Tapi lebih aman dan uang ngga berkurang kerja di bus. Di truk banyak preman-preman yang minta jatah setiap di jalan. Uang ngga seberapa, abis buat bayar recehan jatah,” ujarnya saat ditanyai BeritaTrans.com dan Aksi.id.

Ayah tiga anak ini mampu menyekolahkan dua anaknya dan membiayai keluarga dari penghasilan sebagai pengemudi bus Sinar Jaya.

Baca Juga:
Penumpang Perokok yang Semakin Terkucil di Bus AKAP

“Alhamdulillah, biar bapaknya kerja jadi pengemudi bus hasil ngga banyak yang penting anak bisa sekolah sama keluarga masih bisa makan. Biar bapaknya capek kerja yang penting nanti anak bisa lebih dari saya kerjanya,” ucap Ozim.

Hal yang membuat sedih, saat bus tidak beroperasi pada awal PSBB waktu lalu. Selama enam bulan ia bekerja sebagai buruh tani di sawah milik orang lain yang penghasilannya jauh dari rata-rata sebagai pengemudi bus.

“Awal PSBB bus ngga beroperasi, enam bulan saya ngarit di sawah punya orang, itu juga ngga cukup buat sehari-hari sama bayaran anak sekolah. Mau ngga mau saya pinjam uang sana-sini untuk makan dan bayaran anak sekolah,” tuturnya.

Keinginannya saat ini yakni ingin mempunyai usaha kecil-kecilan seperti warung kelontong. Sisa dari penghasilan menjadi pengemudi bus ia tabungkan sebagai modal usaha warung kelontong nantinya.

“Sekarang saya lagi tabungin sisa dari narik bawa bus buat usaha warung di rumah. Biar nantinya kalau saya sudah ga kerja lagi di bus, ada kegiatan yang menghasilkan dari warung,” tambahnya.

Dia juga berharap pada akhir tahun ini bus bisa terisi penuh seperti sebelum pandemi Covid-19.

“Akhir tahun begini berharap bus bisa terisi penuh kaya tahun-tahun sebelumnya, ya walaupun katanya orang kerja sekarang ngga ada libur,” tutupnya. (bondan).