Turki Sebut Kapal Perang Amerika Mau Parkir di Laut Hitam

  • Oleh : Redaksi

Sabtu, 10/Apr/2021 19:25 WIB


Jakarta (BeritaTrans.com) - Amerika Serikat (AS) memutuskan akan mengerahkan armada tempur maritimnya ke wilayah Laut Hitam. Tindakan ini dilakukan untuk berjaga-jaga melihat mobilisasi pasukan Rusia ke wilayah Donbass yang saat ini ingin memisahkan diri dari Ukraina.

Dikutip Reuters, informasi ini diberitahukan oleh Turki, yang memegang kendali atas Selat Bosphorus dan Dardanelles. Dua selat ini adalah kunci untuk memasuki wilayah Laut Hitam.

Baca Juga:
Makin Tegang, Joe Biden Siap Hajar China di Laut China Selatan

"Pemberitahuan telah dikirim kepada kami 15 hari yang lalu melalui saluran diplomatik bahwa dua kapal perang AS akan melewati Laut Hitam sesuai dengan Konvensi Montreux. Kapal akan tetap berada di Laut Hitam hingga 4 Mei, "kata kementerian luar negeri Turki.

Kekerasan baru-baru ini berkobar antara pasukan Ukraina dan separatis yang didukung Rusia di wilayah Donbass Ukraina. Jerman telah meminta Rusia untuk menarik kembali pasukannya, sementara Moskow menuduh Kyiv melakukan provokasi.

Baca Juga:
China Usir Kapal Perang AS Gegara Memasuki Laut China Selatan

Wilayah Donbass sendiri telah mengalami perang separatisme mulai tahun 2014. Mereka yang terdiri atas Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk menuntut agar dapat memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia. Mereka terinspirasi dari wilayah Semenanjung Crimea yang berhasil melakukan itu.

Konflik teritorial antara Ukraina dan beberapa milisi separatis pro-Rusia dimulai pada 2014 lalu. Pada saat itu masyarakat Ukraina Timur yang condong terhadap Rusia secara ekonomi dan budaya menginginkan agar rezim Presiden Yanukovych membatalkan masuknya Ukraina ke wilayah Uni Eropa (UE), yang juga merupakan sekutu AS. Hal ini cukup berbeda dengan masyarakat Ukraina Barat yang menginginkan bergabungnya Ukraina ke blok negara Eropa itu.

Baca Juga:
Dua Jet Tempur Rusia Giring Pesawat P-8 Poseidon AS di Laut Hitam

Yanukovych akhirnya menolak untuk maju ke perundingan penggabungan Ukraina ke UE. Hal ini membuat kemarahan publik besar-besaran di Kiev dan Yanukovych dapat ditumbangkan. Namun di Ukraina Timur, hal ini menimbulkan gejolak, dimana masyarakat wilayah Timur yang kecewa akan penumbangan rezim Yanukovych berpaling dari Kiev dan menginginkan agar bergabung dengan Rusia.

(lia/sumber:cnbcindonesia.com)