Kasus Pesawat Malaysia Airline yang Ditembak: Keluarga Korban Ungkapkan Trauma dan Mimpi Buruk di Pengadilan Belanda

  • Oleh : Fahmi

Rabu, 08/Sep/2021 13:46 WIB
Sebelum sidang, hakim memeriksa puing-puing pesawat Malaysia Airlines yang telah direkonstruksi. Sebelum sidang, hakim memeriksa puing-puing pesawat Malaysia Airlines yang telah direkonstruksi.

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Keluarga dan kerabat para korban insiden penembakan pesawat MH17 oleh rudal di langit Ukraina pada 2014 memberikan kesaksian dalam sidang yang mengadili empat tersangka. 

Sekitar 90 orang keluarga dan kerabat akan memberikan kesaksian mereka dalam pengadilan dengan keamanan tinggi di Schipol, Belanda, selama tiga pekan ke depan. 

Baca Juga:
2 Pesawat Airbus A321neo Serempetan

Sebelumnya, para penyelidik internasional mengatakan pesawat milik Malaysia Airlines itu ditembak dengan rudal oleh kelompok pemberontak pro-Rusia. 

Tiga warga negara Rusia dan satu warga negara Ukraina diadili sebagai tersangka, namun mereka tidak akan menghadiri sidang. Keempatnya menyangkal keterlibatan mereka. 

Baca Juga:
Pesawat Jatuh & Terbelah Dua, 16 Orang Tewas dan 6 Luka

Pesawat tersebut tengah dalam perjalanan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur pada 17 Juli 2014, ketika satu rudal menghantam bagian depan pesawat, dan jatuh di wilayah Donetsk, sekitar 50 km dari perbatasan Rusia-Ukraina.

Sebanyak 298 orang - 283 penumpang dan 15 awak - yang ada di dalam pesawat tipe Boeing 777 tersebut tewas. Para korban diketahui berasal dari sepuluh negara berbeda, namun sebagian besar adalah warga Belanda. 

Baca Juga:
Pesawat Piper Cherokee Mendarat Darurat di Bahu Jalan Raya, Sayap Copot Gegara Serempet Tiang

Jaksa penuntut dari Belanda mengatakan para tersangka berperan menembak pesawat dengan peluru kendali buatan Rusia di atas zona pertempuran Ukraina timur. Rusia menyangkal bertanggung jawab. 

Para tersangka: Igor Girkin, Sergei Dubinsky, Leonid Kharchenko, dan Oleg Pulatof, mulai disidang di Belanda tahun lalu, setelah kasusnya dibawa ke pengadilan oleh sejumlah jaksa penuntut dari Belanda, menyusul penyelidikan internasional. 

Keempatnya disangka sebagai anggota kelompok separatis pro-Rusia yang membantu para pemberontak melawan pasukan pemerintah Ukraina di wilayah timur Ukraina. 

Hanya satu tersangka, Pulatov, yang menyewa tim pengacara dari Belanda untuk mewakilinya. 

Pada Senin, Hakim Hendrik Steenhuis mengatakan sidang ini "sangat emosional bagi para keluarga", saat ia memberi kesempatan kepada mereka untuk memberikan testimoni di pengadilan untuk pertama kalinya. 

'Bau kematian' 

Anggota keluarga pertama yang memberikan kesaksiannya di pengadilan adalah Ria van der Steen. Ayah dan ibu tirinya menjadi korban tragedi ini. 

Dalam persidangan, Van der Steen mengatakan mimpi buruk yang kerap dialaminya setelah peristiwa itu. 

Dia mencari sang ayah di antara puing-puing pesawat yang membara. 


Sidang berlangsung di pengadilan dengan keamanan tinggi di dekat Bandara Schiphol. 

"Bau kebakaran, bau kematian di mana-mana," ujarnya. "Saya terus berteriak, 'Ayah, di mana kau berada?'" 

Dia juga mengungkapkan, sang ayah diidentifikasi dengan serpihan kecil tulang tangannya — hanya itulah bagian tubuhnya yang tersisa. 

Kesaksian kedua datang dari warga Australia, Vanessa Fizk, yang orang tuanya meninggal dalam ledakan itu. 

Melalui sambungan video dari Australia, Fizk berkata para pelaku "harus mendapatkan hukuman atas tindakan keji mereka". 


Ria van der Steen, ayah dan ibu tirinya tewas dalam peristiwa ini, mengatakan kerap bermimpi buruk. 

Kakaknya, James Fizk, berpendapat sama. Dia berkata orang tuanya adalah korban dari konflik yang tidak melibatkan mereka. 

"Misinformasi dari Rusia, kurangnya keterlibatan Rusia, dan penyangkalan mereka membuat saya bingung," ujarnya. 

Keluarga dan kerabat dari delapan negara, termasuk Inggris, akan memberikan testimoni di sidang. 

Rencananya, vonis akan dijatuhkan tahun depan.(fh/sumber:BBC)