Mantap, Angkasa Pura II dan AirNav Indonesia Sinergikan ACDM dan ATFM

  • Oleh : Naomy

Kamis, 16/Sep/2021 15:46 WIB
Presdir Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dan Dirut Airnav Indonesia.Pramintohadi Sukarno di Bandara Soekarno-Hatta Presdir Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dan Dirut Airnav Indonesia.Pramintohadi Sukarno di Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA (BeritaTrans.com) -  Mantap, PT Angkasa Pura II (Persero) dan Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) berkolaborasi dalam memodernisasi sektor penerbangan nasional. 

Baca Juga:
Mulai 24 Oktober, Seluruh Bandara Angkasa Pura II Terapkan Aturan Baru Terbang Domestik

Kedua perusahaan mensinergikan Airport Collaborative Decision Making (ACDM) dan Air Traffic Flow Management (ATFM) ke dalam satu platform mobile yang diberi nama Pocket ACDM.

Saat ini Angkasa Pura II mengoperasikan Airport Operation Control Center (AOCC), yang dilengkapi teknologi terkini. 

Baca Juga:
Ini 7 Fakta Ketentuan Tes PCR di Bandara Soekarno-Hatta Bagi Penumpang dari Luar Negeri

Operasional AOCC ini menurut President Director of Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, diperkuat dengan penerapan Airport Collaborative Decision Making (ACDM) sebagai sistem yang mewadahi kerja sama berbasis informasi dari seluruh stakeholder.

Yakni operator bandara, maskapai, ground handling, air traffic services dan mitra pendukung lainnya. 

Baca Juga:
Cakep, Penerbangan di Bandara Purbalingga Kian Tumbuh di Tengah Pandemi

"Melalui ACDM, stakeholder dapat mudah berkoordinasi sesuai kondisi real time untuk menentukan penggunaan check-in counter, boarding lounge, gate keberangkatan, garbarata, gate kedatangan, baggage conveyor belt, perlengkapan di apron, dan lain sebagainya," urainya, Kamis (16/9/2021).

Sementara itu, AirNav Indonesia selaku pengelola tunggal layanan navigasi penerbangan di Tanah Air, saat ini mengoperasikan Indonesia Modern Air Navigation System (IMANS) yang didukung Air Traffic Flow Management (ATFM) guna mendukung efisiensi penerbangan khususnya di bandara serta memastikan terpenuhinya estimated time departure (ETD) dan estimated time arrival (ETA). 

Dia mengatakan, sinergi ACDM dan ATFM ini sebagai upaya mengakselerasi modernisasi pengelolaan bandara dan penerbangan. 

“Proses sinergi ACDM dan ATFM untuk dapat diakses di Pocket ACDM tengah dijalankan AP II dan AirNav Indonesia. Pada 15 September 2021, kami menyerahkan Dokumen Manual ACDM ke AirNav Indonesia untuk dikaji dan dibahas, agar proses sinergi dapat berjalan lancar. Penerapan sinergi untuk tahap pertama dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta yang merupakan bandara terbesar dan tersibuk di Indonesia,” urainya.

Adapun Dokumen Manual ACDM diserahkan langsung kepada Direktur Utama AirNav Indonesia Pramintohadi Sukarno, terdiri dari Dokumen Implementation Manual, Dokumen Implementation Guidelines dan Dokumen Implementation Procedures.

Sinergi ACDM dan ATFM menciptakan pengaturan terintegrasi di terminal penumpang dan di sisi udara berdasarkan data-data yang diinformasikan oleh setiap stakeholder. 

"Tujuannya, untuk mencapai efisiensi operasional, ketepatan waktu penerbangan [on-time performance/OTP], dan yang tidak kalah penting adalah stakeholder bisa melakukan prediktabilitas guna memperkirakan dan mengantisipasi operasional yang akan datang sehingga memastikan segala sesuatunya berjalan lancar," imbuh dia.

Sejalan dengan ini, daya saing sektor penerbangan nasional dipastikan dapat lebih meningkat. 

“Competitiveness sektor penerbangan nasional di tingkat global semakin baik dengan semakin memenuhi standar global, dan ini menjadi modal dalam mendukung perekonomian Indonesia,” ujar Awaluddin. 

Langkah AP II dan AirNav Indonesia menciptakan efisiensi dan meningkatkan daya saing ini diharapkan mendukung pemulihan sektor penerbangan yang terdampak pandemi. 

Direktur Utama AirNav Indonesia Mohamad Pramintohadi Sukarno mengemukakan, saat ini adalah momentum yang tepat untuk mensinergikan sistem ACDM dan ATFM.

“Progres AP II sangat signifikan. Ini saatnya melakukan sinkronisasi sistem di AP II dan AirNav Indonesia,” ujar Pramintohadi. 

Di dalam proses integrasi ACDM dan ATFM, AirNav Indonesia menggarisbawahi perlunya persamaan persepsi, harmonisasi terminologi, penyelerasan konsep operasi, standarisasi data yang dipertukarkan, dan sistem interfacing. 

Dia menuturkan, AirNav siap untuk menerapkan integrasi ini tidak hanya di Bandara Soekarno-Hatta, namun juga di bandara-bandara lain yang dikelola AP II. 

Adapun Kementerian Perhubungan juga memberikan dukungan atas penerapan ACDM di bandara AP II.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto dalam suratnya kepada AP II menyatakan bahwa manual dan guideline ACDM yang telah disusun AP II dapat digunakan sebagai panduan oleh stakeholder. 

“Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memberikan dukungan terhadap implementasi Airport Collaborative Decision Making [ACDM] untuk dapat diterapkan di bandara PT Angkasa Pura II (Persero),” jelas Dirjen Perhubungan Udara dalam suratnya. 

Sinergi ACDM dan ATFM di bandara-bandara AP II memiliki semangat digitalisasi guna mempermudah proses keberangkatan dan kedatangan, sekaligus meningkatkan keamanan, keselamatan dan efisiensi. (omy)