Misteri Segitiga Masalembo di Balik Rentetan Kecelakaan Kapal, Tampomas II Terbakar dan Tenggelam di Perairan Ini

  • Oleh : Redaksi

Rabu, 13/Okt/2021 08:01 WIB
Ilustrasi Segitiga Bermuda Masalembo (Foto/Int) Ilustrasi Segitiga Bermuda Masalembo (Foto/Int)

Kapal Tampomas II terbakar dan tenggelam (foto:istimewa/republika.com) 

Baca Juga:
Kawah Misterius di Lokasi KRI Nanggala Tenggelam, Ini Kata Pakar ITS

JAWA TIMUR (BeritaTrans.com) - Masalembu atau Masalembo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang terdiri dari tiga pulau, yakni Masalembu, Masakambing, dan Kramian. Perairan di kepulauan ini kerap memakan korban.

Musibah transportasi laut yang paling mengundang perhatian khalayak di perairan ini adalah peristiwa tenggelamnya Kapal Tampomas II pada 27 Januari 1981. Kapal Tampomas II yang terbakar dan tenggelam, dan dibuktikan laporan-laporan yang muncul setahun setelah kecelakaan, dibeli “lewat jalur culas”.

Baca Juga:
Bagian Kapal KRI Nanggala-402 Ditemukan Dekat Kawah Misterius

Tampomas II memang kapal bekas buatan Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, yang diproduksi pada tahun 1956. Pada 1971, kapal ini dimodifikasi sehingga kecepatannya dapat ditingkatkan. Meski bekas, tapi harga Tampomas II mencapai $8,3 juta. Angka ini mengundang kecurigaan, sebab Jepang sempat menawarkan kapal lain yang harganya jauh lebih murah, yakni $3,6 juta.

Berbagai kecelakaan transportasi laut di perairan Masalembu terus terjadi setelah tragedi Tampomas II. Pada tahun 2019 Kapal Motor (KM) Santika Nusantara dengan rute Surabaya ke Balikpapan terbakar di perairan laut utara Pulau Masalembo dan menewaskan 3 orang.

Baca Juga:
Kisah Misteri Kapal Caleuche yang Tenggelam Namun masih Berlayar

Dua tahun sebelumnya pada tahun 2017 Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa I dengan rute pelayaran Surabaya – Balikpapan juga mengalami kebakaran di perairan Masalembo, menyebabkan 5 orang meninggl dunia.

Sepanjang 2006-2009, setidaknya terjadi enam kecelakaan tranportasi laut di perairan Masalembu. Dalam sebuah catatan yang mirip memoar bertajuk Injak (2018), Sutrisno, sang penulis, mengisahkan pengalamannya saat kapal yang dinaikinya menuju ke Pelabuhan Semayang, Balikpapan, berada di atas perairan Masalembu.

Menurut keterangan Sutrisno, kawasan perairan ini memang memiliki arus laut yang sangat kencang. Perairan Masalembu adalah tempat bertemunya dua arus. Arus pertama berasal dari barat dan terus memanjang ke Laut Jawa, sementara arus utara berasal dari Selat Makassar.

Selain kecelakaan transportasi laut, segitiga khayal Masalembu juga akhirnya mencakup kecelakaan transportasi udara yaitu ecelakaan pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan DHI-574 pada Januari 2007 di Polewali Mandar.(amt/sumber:fajarpendididkan.co.id)