Bareng UGM, Balitbanghub Kaji Pegembangan Aerotropolis di Kawasan Ibukota Negara Baru

  • Oleh : Naomy

Rabu, 24/Nov/2021 05:54 WIB
Webinar Balitbanghub Webinar Balitbanghub


JAKARTA (BeritaTrans.com) —Dukungan konektivitas menjadi salah satu prasyarat yang esensial pada rencana pemindahan Ibukota Negara Baru.

Oleh karena itu, Pemerintah terus melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek, tidak terkecuali di bidang transportasi.

Baca Juga:
Beberkan Hasil Survei Balitbanghub Jelang Lebaran, Djoko Setijowarno Ingatkan Perlunya Antisipasi Dini Arus Mudik

Badan Litbang Perhubungan dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar webinar bertajuk “Pengembangan Aerotropolis di Wilayah Sekitar Ibukota Negara Baru”, Selasa (23/11/2021).

Kepala Puslitbang Transportasi Udara, Capt. Novyanto Widadi menyampaikan, wilayah di sekitar Provinsi Kalimantan Timur termasuk provinsi lainnya di Pulau Kalimantan diharapkan akan mendukung konektivitas dan pengembangan IKN salah satu caranya melalui pengembangan bandara di sekitar wilayah IKN tersebut dengan penerapan konsep aerotropolis.

Baca Juga:
Balitbanghub Survei Online Penggunaan Aplikasi Navigasi Ditinjau dari Aspek Keselamatan Lalu Lintas

"Aerotropolis pada dasarnya adalah daerah yang terintegrasi dengan bandara, dan disekitarnya terdapat kluster hotel, kantor, fasilitas distribusi dan logistik di mana semua jenis aktivitas tersebut disediakan dan ditingkatkan oleh bandara," jelasnya.

Untuk mendukung pengembangan bandara-bandara di sekitar wilayah Ibu Kota Negara melalui konsep Aerotropolis, maka diperlukan analisis kriteria sebagai acuan dan berbagai tahapan pengembangan bandara dan wilayah sekitarnya agar tepat sasaran dan sesuai dengan perencanaan daerah.

Baca Juga:
Hasil Survey Balitbanghub: Potensi Masyarakat Mudik Sentuh 80 Juta

Pada kesempatan yang sama, Tim Ahli Pustral UGM, Ikaputra, menyebutkan, secara prinsip ada tiga ilmu besar di dalam Aerotropolis, yakni Urban Planning, Airport Planning, dan Business Site Planning, dimana ini merupakan kesatuan yang penting.

“Konsep Aerotropolis IKN pun harus memiliki global and national link, di mana masing-masing memiliki peran besar dalam mendukung IKN, juga ada Hub integrasi berupa Borneo Forest link yang menjadikan hubungan antar Aero City yang ada di Balikpapan terkoneksi dan lengkap,” tutur Ikaputra.

Peneliti Pustral UGM, Juhri Iwan Agriawan mengemukakan, bandara yang diperkirakan akan dapat dikembangkan Aerotropolis berdasarkan peran bandara dan konektivitasnya adalah Bandara SAMS Sepinggan (BPN), Balikpapan sebagai bandara pengumpul primer dan Bandara APT Pranoto (AAP), Samarinda, sebagai bandara pengumpul sekunder.

“Adapun perkiraan wilayah pengembangan Aerotropolis akan berada di sekitar wilayah Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, dengan wilayah mitra atau penyangga diperkirakan meliputi seluruh Kalimantan Timur, terutama wilayah-wilayah yang berbatasan dan mempunyai akses baik,” tambahnya.

Jenis kegiatan yang akan dikembangkan di Aerotropolis, dibagi menjadi tiga wilayah, yang pertama wilayah terminal, baik terminal penumpang maupun terminal kargo, yang kedua adalah Airport City, yang masuk ke dalam kawasan bandara namun berada di luar terminal, dan ketiga adalah area Aerotropolis yang berada di luar kawasan properti bandara.

Sedangkan aspek legal perencanaan Aerotropolis untuk dapat diimplementasikan adalah berkaitan dengan aspek penataan ruang dengan payung legal yang memungkinkan di aturan mulai dari RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota sebagai Kawasan strategis, RTR Kawasan Strategis Provinsi yang merupakan turunan dari RTRW Kabupaten/Kota dan RTR Kawasan strategis Kabupaten/Kota.

Hadir sebagai pembahas, Kepala Bidang Transportasi Satgas Perencanaan IKN, Atyanto Busono.

Dia menyampaikan bahwa kawasan yang kompak didukung oleh transportasi publik yang terencana sesuai pentahapan populasi dan meliputi airport connection, MRT/LRT pada koridor antar kota, BRT Direct Service pada koridor kota, BRT Autonomous pada koridor aksis sumbu kebangsaan, Shuttle Bus area sumbu dan autonomous mini-bus pada kompleks istana dan kementerian.

“Rencana konektivitas transportasi IKN juga dilakukan melalui pembangunan Tol Bandara Sepinggan – Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dengan Panjang ruas 47,63 KM, waktu tempuh selama 30 menit dan kecepatan rata-rata 80-100 km/jam,” ungkap Atyanto.

Sementara itu, General Manager Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Rika Danakusuma, dalam paparannya menjelaskan bahwa konsep Aerotropolis merupakan konsep yang sesuai untuk mengembangkan Kawasan dengan sentra bandara sebagai economic driver.

“Pertumbuhan ekonomi akan lebih optimum dengan penerapan Aerotropolis menggunakan dasar multiple airport system sebagai basis implementasi Aerotropolis IKN (single Aerotropolis),” ujarnya.

Selain itu, wilayah pusat Aerotroplis didorong untuk terus tumbuh dan berkembang, sehingga tercipta spread effect perekonomian di wilayah Aerotropolis (dalam radius 15-30 km). 

Fasilitas dan layanan ekonomi akan terintegrasi dalam satu kawasan, sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam layanan sistem transportasi.

"Harapan dari terselenggarakannya webinar ini adalah dapat disempurnakannya rekomendasi kebijakan terkait peningkatan pertumbuhan dan konektivitas wilayah IKN melalui pengembangan bandara di wilayah sekitar berdasarkan konsep aerotropolis," pungkas Capt. Novy. (omy)