Premium dan Pertalite Dihapus, Apakah BBM Oktan Tinggi Cocok untuk Semua Kendaraan?

  • Oleh : Fahmi

Minggu, 26/Des/2021 19:17 WIB
Foto dok.Pertamina Foto dok.Pertamina

JAKARTA (BeritaTrans.com) - PT Pertamina mengeluarkan wacana untuk menghapus bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan rendah seperti Pertalite (90) dan Premium (88) pada 2022 mendatang. 

Dengan adanya penghapusan dua jenis bensin tersebut, otomatis pemilik kendaraan yang biasanya menggunakan Pertalite dan Premium harus beralih dengan jenis lain yang memiliki oktan lebih tinggi, seperti Pertamax (92) dan Pertamax Turbo (98). 

Baca Juga:
Sambut Penghujung Tahun 2023, RMA Indonesia Bermitra dengan PT Hayyu Pratama Dealer Buka Dealer Resmi 3S Ford di Kota Samarinda

Wacana inipun memunculkan pertanyaan para pemilik kendaraan. Apakah kendaraan yang biasa minum pertalite atau premium aman jika diganti BBM dengan oktan yang lebih tinggi? 

Kepala Bengkel Auto2000 Cilandak Suparna menjelaskan, untuk penggunaan bensin paling bagus adalah yang sesuai dengan rekomendasi dari pabrikan, tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu tinggi. 

Baca Juga:
Komunitas Motor Modifikasi di Aceh Tamiang Gelar Aksi Solidaritas Peduli Palestina

Hal ini berkaitan dengan tingkat kompresi dari kendaraan itu sendiri. Pasalnya, jika BBM yang digunakan tidak sesuai maka akan menimbulkan dampak pada kendaraan. 

“Menggunakan bensin harus sesuai dengan kompresi atau yang direkomendasikan pabrik. Jangan lebih rendah atau pun lebih tinggi karena akan ada efeknya untuk mesin,” ucap Suparna kepada wartawan belum lama ini. 

Baca Juga:
Musim Hujan Tiba, Saatnya Proteksi Mobil dari Risiko Banjir

Suparna menambahkan, menggunakan bensin dengan oktan yang lebih tinggi juga akan membuat pembakaran mesin menjadi tidak sempurna. 

“Hal ini karena BBM dengan oktan tinggi proses terbakarnya juga lebih lama. Misalnya, harusnya BBM sudah terbakar maksimal 5 derajat setelah TMA tapi ini belum terbakar,” kata dia. 

Jawaban senada juga diungkapkan oleh Head Product Improvement/EDER Dept Technical Service Division PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Bambang Supriadi. Menurutnya, penggunaan bahan bakar yang bagus adalah yang sesuai dengan rasio kompresinya. 

“Misalnya kendaraan dengan rasio kompresi 1:10 ke atas paling efektif memakai bbm RON di atas 90,” kata Bambang. 

Tetapi, jika mobil lawas dengan kompresi rendah dipaksa menggunakan bensin beroktan tinggi jelas akan berdampak di sektor mesin. 

Hal ini karena ada sisa bahan bakar yang tidak terbakar dengan sempura, kemudian mengendap dan jadi kerak rabon di ruang pembakaran. 

Kendati demikian, Bambang menambahkan, bagi mobil lawas yang ingin menggunakan bahan bakar beroktan tinggi bisa saja dilakukan, dengan catatan harus melakukan penyesuaian kompresi. 

“Untuk kendaraan lawas bisa dilakukan setel ulang timing pengapian (menyesuaikan dengan bbm) dan menjaga kebersihan ruang bahan bakar,” ucapnya.(fh/sumber:kompas)