Inggris Krisis Biaya Hidup, Ribuan Sopir Bus Mogok Kerja Minta Gaji Naik

  • Oleh : Fahmi

Sabtu, 24/Sep/2022 15:22 WIB
Ilustrasi Sopir Bus Inggris. Foto: Getty Images Ilustrasi Sopir Bus Inggris. Foto: Getty Images

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Ribuan pengemudi bus di London dan Kent berencana melakukan aksi mogok, Mereka menuntut perusahaan tempat mereka bekerja agar menaikkan gaji di tengah kondisi krisis biaya hidup di Inggris.

Memburuknya krisis biaya hidup di Inggris telah mendorong para pekerja di industri kereta api, maskapai penerbangan, hingga pengacara, bahkan staf serikat pekerja melakukan aksi mogok. Mereka menuntut persoalan gaji dan kondisi ekonomi negara tersebut.

Baca Juga:
Gegara 4 Tahun Enggak Naik Gaji, 1.000 Karyawan di Bandara Ini Mogok Kerja

Aksi mogok ini akan dilakukan oleh lebih dari 2.000 operator bus Arriva mulai tanggal 4 Oktober di London. Tidak hanya di kota Big Ben itu, 600 stafnya yang berada di Kent juga akan keluar pada 30 September mendatang.

Dilansir melalui Reuters, Kamis (22/09/2022), Serikat pekerja Unite mengatakan, pemogokan oleh pengemudi bus London akan terus berlanjut sampai persoalan tuntutan gaji diselesaikan.

Baca Juga:
Ratu Elizabeth Sudah Dimakamkan, Buruh Kereta Lanjutkan Mogok Kerja

Rencana para pengemudi bus ini muncul setelah sebelumnya para pekerja kereta api dari beberapa operator di seluruh negeri mengungkapkan rencana mogoknya pada awal Oktober mendatang. Momen itu bertepatan dengan konferensi tahunan Partai Konservatif di Birmingham.

"Arriva benar-benar gagal mengatasi kekuatan perasaan di antara anggota kami karena mereka melihat tingkat gaji mereka terkikis. Perusahaan perlu kembali ke meja perundingan dengan tawaran yang memenuhi harapan wajar pekerja," kata Petugas Regional Unite Steve Stockwell dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga:
Karyawan Kereta Api dan Pos Batal Mogok Kerja, Hormati Meninggalnya Ratu Elizabeth II

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah serikat pekerja telah menetapkan tanggal baru untuk aksi pemogokan yang sebelumnya tertunda akibat masa berkabung kematian Ratu Elizabeth awal bulan ini.(fh/sumber:detik)